Previous Next
  • Kacamata Sukses Ibu: Bahagia dengan Konsep Ikhlas

    “... jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi supermom yang tanpa cela, ... cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangan namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah ....”

  • Finally ( I Choose) You

    Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu. ...

  • Ibu Sang Matahari Kami

    Ibu. Satu kata panggilan yang pasti sangat akrab di telinga anak manusia mana pun di dunia. Siapa yang terlahir ke muka bumi tentulah beribu, memiliki sesosok wanita yang mengantarkan kehadiran ke dunia fana. Rahim seorang ibulah yang dititipi Sang Khaliq sebagai tempat berdiam, berlindung, sebelum siap menyongsong kehidupan yang rentan akan ujian ...

  • Baik Atau Sholihah

    Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangan dengan merasa benar sendiri ...

Senin, 21 Mei 2018

Arterio: Sebab Cinta Sejati Mengalir Sampai ke Jantung

Posted by Melani Ivi | 11:15:00 AM Categories:
Judul buku             : Arterio
Penulis                   : Sangaji  Munkian
Editor                    : Auliya Milatina Fajwah
Penerbit                 : BITREAD Publishing
Tahun terbit           : 2018
Tebal buku             : XII + 410 hlm.
ISBN                      : 978–602–5634–1-6

BLURB:
    Seseorang yang menekuni bidang medis umumnya berperangai ramah, penyabar, dan punya kepedulian yang tinggi untuk menolong mereka yang terluka, tetapi itu tidak berlaku bagi Zag Waringga, dia tipikal pemarah, emosian, juga pendendam. Alih-alih menciptakan ramuan yang dapat menyembuhkan, Zag justru menciptakan racun paling mematikan. Lain halnya dengan Nawacita, dia adalah sosok yang begitu perhatian, penuh belas kasihan, tetapi terlampau naif, padahal dia memiliki potensi istimewa yang selangka bintang jatuh, yakni merasakan detak jantung beserta aliran darah secara terperinci.

    Arteri(o) akan mendenyutkan sebuah kisah yang berangkat dari pertanyaan: apakah tempat yang kini kau tempati sudah tepat? Bagaimana jika itu tidak sesuai dengan karakter dan tujuan hidupmu? Apakah petuah di mana pun kau ditempatkan Tuhan selalu punya alasan, perlu direvisi?

    Arteri(o) sebagai pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian tubuh, akan mengajakmu ke dunia yang lain dari pada yang lain, kisah yang meletupkan fantasi, aksi, konspirasi, dan tentu saja romansa yang tepat menghujam jantungmu.

    Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh, yang bersama degup terjujurmu mengarungi setiap ruas jaringan tanpa sekalipun berpikir melewatkannya.
SINOPSIS:
    “Kita tidak dianjurkan berambisi melewati batas kuota.” (hlm. 35)

    “... tiap manusia diberi kemampuan tersendiri oleh Tuhan, kemampuan yang istimewa dan jarang ada pada yang lainnya.” (hlm. 35)

    Di sebuah negara bernama Kartanaraya di mana sistem pendidikannya unik, terdapat Akademi yang membagi siswa-siswanya ke dalam lima jurusan. Tiap siswa yang telah melewati masa inisiasi akan menjalani pendidikan di salah satu jurusan tersebut, yang juga akan menjadi status sosial permanen yang melekat pada dirinya. Hanya kejadian luar biasa yang memungkinkan siswa berpindah jurusan. Kelima jurusan tersebut adalah Lazuar, Vitaera, Pragma, Arterio, dan Zewira. Lazuar adalah mereka yang mencintai ilmu hayati. Vitaera adalah mereka yang mendalami ilmu tentang manusia, seluk beluk terkait sejarah, bahasa, perilaku, dan seluruh budaya. Arterio adalah mereka yang menggandrungi ilmu tentang kesehatan dan penyembuhan. Pragma adalah mereka yang menekuni ilmu praktis yang dapat dilihat, dihitung, dan dilakukan secara teknis. Sedangkan Zewira adalah mereka yang memaknai tentang kedalaman pikiran, kekuatan, struktur pemerintahan, perjuangan, dan ketertiban. Zewira acapkali dipandang spesial. Letak gedung jurusan dan asrama pun terpisah dari yang lain.

    Zag Waringga adalah Arterio strata muda berusia 18 tahun. Tak seperti murid lainnya, Zag tidak bisa menerima jurusannya. Dia sesungguhnya berharap masuk Zewira. Bukanlah tanpa alasan, hal ini ada kaitannya dengan dendam atas kematian ayahnya oleh pimpinan pasukan musuh Jaharu bertahun-tahun silam. Menjadi Arterio dianggap Zag tak mendukung rencana balas dendamnya. Oleh sebab itu, alih-alih bersemangat mempelajari ramuan penyembuhan, Zag justru diam-diam belajar meracik racun mematikan, bahkan yang sangat sulit. Dia kerap menyambangi Laboratorium Tumbuhan Kuno dan Racun tanpa izin demi mendapatkan catatan rahasia terkait racun yang diincarnya. Bahkan di malam Soir atau semacam pesta dansa, Zag lebih memilih menghabiskan waktu di Laboratorium tersebut. Di masa kunjungan tak berizinnya inilah Zag berjumpa salah seorang anggota keluarga Nayef. Anak bungsu keluarga bangsawan tersebut yang bernama Kiastra justru membantunya secara tak langsung dalam meracik racun. Tapi kemudian Kiastra menggunakan ‘bakatnya’ demi membuat Zag lupa akan identitas dirinya dan pertemuan mereka.

    Di lain pihak, ada Nawacita Lumie, gadis penyayang yang mencintai Zag. Cita satu angkatan dan satu jurusan dengan Zag. Bertiga bersama Datroit, mereka adalah kawan karib. Cita dan Datroit mengetahui ambisi Zag dan tak bosan mengingatkan bahwa Zag seharusnya menerima penempatannya di Arterio. Hingga suatu hari, diumumkan sebuah kabar menggemparkan tentang penyerangan Jaharu ke kota Purwa. Di ibukota Karta, Anggota Dewan dan keluarga Nayef membuat kebijakan dengan membentuk Laskar Patriot, di mana para pemuda bisa mengajukan diri untuk menjadi bagiannya. Zag tak melewatkan peluang ini. Ketika diumumkan siapa saja yang lolos seleksi, Zag sangat kecewa mengetahui bahwa dia lolos tapi ditempatkan di pasukan cadangan paling belakang, itu pun bersama para Arterio muda, termasuk Cita dan Datroit.

    Namun tak diduga semua orang, pasukan cadangan paling bontot ini justru menjadi sasaran empuk pasukan Jaharu. Mereka disekap di kota bawah tanah, ironisnya bersama sepasukan Zewira yang sudah babak belur. Hingga di sebuah momen krusial, Zag berhasil menantang Jou Ozlem sang pemimpin untuk berduel satu lawan satu. Berkat latihan fisik bersama sahabat Zewiranya bernama Lankurt, Zag mampu mengimbangi adu fisik. Selain itu, siasat liciknya menggunakan ramuan racun mematikan yang sudah dipersiapkan berhasil menewaskan Jou Ozlem. Cita lantas membantu di saat kritis menggunakan ‘bakatnya’. Dia melumpuhkan pasukan Jaharu tanpa kendala hanya dengan menguasai detak jantung dan aliran darah mereka. Arterio dan Zewira yang disekap pun berhasil lolos. Atas jasa mereka, Zag, Datroit, dan Cita mendapat penghargaan. Khusus untuk Cita, tak hanya penghargaan dan hadiah, keluarga Nayef melalui Madame menawarinya pindah jurusan ke Zewira. Permintaan yang sesungguhnya disertai ancaman dan perintah ini pun lantas membuat Cita terpojok. Demi memudahkan perpisahan, dia berbohong pada Zag di pertemuan terakhir. Zag yang belum lama menyatakan perasaan pada Cita pun sontak terkejut dan sangat kecewa. Zag juga telah mampu menerima keberadaannya di Arterio, tapi kabar dari Cita menyulut amarahnya.

    Cita kemudian memulai hari-harinya di asrama Zewira. Ternyata tak sendirian, ada tiga murid lain yang pindah ke Zewira bersamanya, masing-masing memiliki ‘bakat’ yang unik. Di asrama, Cita juga berkawan baik dengan Lanina. Masa adaptasi yang berat, disertai pola pendidikan yang jauh lebih keras daripada di Arterio, memaksa Cita fokus dan melupakan perpisahandengan keluarga dan Zag. Selain itu, seorang senior bernama Rafidan kerap menyusahkannya. Rafidan seolah membenci dan sengaja memplonconya. Namun, suatu hari sikap Rafidan melunak dan puncaknya beberapa waktu kemudian bahkan mengajak Cita berkencan. Rafidan bahkan berani menyatakan cinta. Cita tentu saja terkejut dan gamang, apakah dia juga mulai memiliki perasaan pada Rafidan.

    Beberapa waktu kemudian, di acara simbolisasi pembangunan kembali Kota Purwa, sebuah tragedi penyerangan Jaharu kembali terjadi. Cita yang hadir bersama para Zewira turut melakukan perlawanan dan penyelamatan. Di momen inilah kedok Rafidan terkuak. Fakta ini jelas mengejutkan Cita. Di saat kritis, datanglah teman-teman Zewiranya, juga Zag dan Datroit. Bersama-sama mereka lantas berupaya menggagalkan rencana besar busuk Jaharu dan menyelamatkan bangsa.

REVIEW:
    “Aku sadar bahwa balas dendam dan keadilan adalah hal yang berbeda.” (hlm. 384)

    “... balada yang paling menyedihkan adalah dia yang mengetahui sesungguhnya dia memperoleh cinta dengan teramat, tetapi ia terlambat menyadarinya.” (hlm. 391)

    Novel bergenre fantasi karya penulis Indonesia ini mengusung tema menarik tentang impian, cinta, dan pencarian jati diri. Premisnya juga menjanjikan. Tak ada mythical creatures dan penyihir ala fantasi umumnya. Seting negara Kartanaraya tidak dijelaskan detail, di bagian dunia mana tepatnya. Meskipun demikian, sempat terselip keterangan musim semi dan dari gaya hidup maupun penampilan rakyatnya, seolah menyiratkan era di masa lampau. Saya cukup puas dengan detail seting dan pembelajaran di jurusan Arterio maupun Zewira yang lebih disorot di buku ini ketimbang jurusan lain. Juga dengan ide dan penjabaran aneka ‘bakat’ beberapa tokohnya. Ide yang segar dan cerdas. Alurnya campuran, tapi tetap didominasi alur maju.

Gaya bahasa menggunakan diksi yang dijalin indah dan berima. Taste-nya jadi berbeda dengan novel kontemporer atau novel fantasi terjemahan dan novel fantasi Indonesia lain yang pernah saya baca. Salut dengan kepiawaian penulis bermain diksi. Sayangnya ini kurang klop dengan selera saya sehingga cukup mempengaruhi feel baca. Tambahan lagi, beberapa kali saya menemukan paragraf narasi yang agak bertele-tele, yang menurut saya kalaupun dibuang tak akan mempengaruhi jalan cerita. Sejumlah typo juga masih dijumpai. Diantaranya ada yang terulang: bias (:bisa), dating (:datang), lancer (:lancar). Juga kata-kata yang hilang sehingga saya harus mengira-ngira apa yang coba disampaikan penulis. Penggunaan tanda baca koma juga kerap tak tepat. Kalimat jadi terlalu panjang, yang seharusnya bisa dipenggal dengan titik.

Pemilihan POV orang pertama bergantian Zag dan Cita pun menarik. Saya suka karakter Zag yang sinis, blakblakan, tangguh, dan cerdas, meskipun dia sempat terbelenggu ambisi balas dendam. Kisah dalam sudut pandang Zag jadi lebih menarik bagi saya. Berbeda dengan ketika kisah berganti sudut pandang Cita. Saya merasa cukup bosan apalagi saya kurang suka dengan karakter Cita. Dia terlampau naif dan kerap kali terkesan lemah dan plinplan, walaupun penuh belas kasih. Chemistry dan romansa antara Zag dan Cita pun kurang bisa saya rasakan. Paling mengherankan ketika Zag tak menunjukkan rasa cinta sama sekali kepada Cita tapi lantas mengakui perasaan, tak lama usai tragedi penyekapan di Kota Purwa. Saya merasa ini terlalu dipaksakan dan tiba-tiba. Demikian juga dengan Cita yang terkesan terlalu mudah melupakan Zag dan menerima Rafidan—meskipun ada pengungkapan fakta alasan di balik ini. Padahal dikisahkan sebelumnya bahwa Cita sangat mencintai Zag, bahkan ketika cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Keganjilan lain adalah perihal fakta ramuan cinta Kaias yang digunakan Rafidan. Padahal Rafidan bukan murid Arterio sedangkan bahkan murid Arterio pun sering kali gagal meracik karena syarat yang pelik. Penjelasan tentang perjanjian gelap pertukaran jiwa pun kurang. Interaksi antara Rafidan, Cita, dan Zag juga belum mampu menggugah saya. Sepanjang cerita bisa dibilang saya hanya mengikuti saja sampai tamat tanpa benar-benar merasakan teraduk-aduk emosi. Sesungguhnya plot, twist, dan ending cukup bagus. Hanya saja eksekusi di beberapa bagian masih kurang mulus.

Selain Zag, cukup suka kehadiran tokoh-tokoh pendukung:Datroit, Lankurt, Lanina, Parame, Oktavio, dan Bara. Mereka memberi kontribusi peran yang cukup penting. Sedangkan tokoh yang paling memantik rasa ingin tahu adalah Kiastra. Di buku ini kesan misteriusnya sangat kental. Selain itu dia punya andil dalam peran Zag di masa kecamuk. Jika benar penulis berencana menyoroti keluarga Nayef lebih jauh di buku kedua, saya berharap teka-teki Kiastra digali mendalam. Overall, novel yang rencananya akan menjadi saga ini menjanjikan dan bisa jadi pilihan bacaan para penikmat novel fantasi bercita rasa Indonesia. Ditunggu kelanjutannya.



Senin, 14 Mei 2018

False Beat: Hubungan Persaudaraan yang Terputus oleh Ego

Posted by Melani Ivi | 10:17:00 AM Categories:
Judul buku             : False Beat
Penulis                   : Vieasano
Editor                    : Kavi Aldrich
Desain sampul       : Orkha Creative
Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit           : 2018, cetakan pertama
Tebal buku             : 296 hlm; 20 cm
ISBN                      : 978-602-03-8226-5

BLURB:
“Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue.”

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

SINOPSIS:
    “Eh, lo tahu kan istilah ‘benci jadi cinta’? Atau teori ‘batas benci dan cinta hanya setipis kertas’? Nah, maksud gue, lo harus bersyukur paling nggak Keanu keren... Jadi kalau lo sama dia akhirnya saling tertarik, paling nggak lo nggak zonk-zonk banget deh!” (hlm. 67)

    Kanaya Talitha atau yang biasa disapa Aya belum lama menyudahi masa kerja magangnya di Jepang. Belum lagi dia mampu menemukan pekerjaan tetap di Bandung, om-nya ‘menjebak’ dengan mengatasnamakan pelunasan utang dan menjadikan Aya manajer band yang berada di bawah naungan manajemen artisnya. Keanu & the Squad, demikian nama band tersebut, yang sedang berada di puncak popularitas dan digadang-gadang akan makin sukses di masa mendatang oleh Om Putra. Aya yang tak memiliki pengalaman maupun latar belakang profesi sebagai manajer mengajukan keberatan. Selain itu, dia merasa tak akan cocok dengan Keanu sang vokalis sekaligus pentolan band tersebut, setelah menyaksikan kelakuan lelaki itu di layar kaca. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aya tak hanya gagal membujuk Om Putra, bahkan ‘terjebak’ kontrak perjanjian untuk kali kedua.

    Nahas bagi Aya, ketika bertemu secara langsung dengan Keanu untuk pertama kalinya, dia justru langsung dicap mesum akibat kecerobohannya sendiri. Insiden memalukan itu juga sempat disaksikan oleh Randy, Jonas, Adrian, dan Regan, yang merupakan personel band. Meskipun sudah diklarifikasi dibantu oleh om-nya, Keanu tetap menunjukkan sikap tak bersahabat dan ketidaksetujuan atas posisi Aya sebagai road manager sekaligus personal manager-nya.

Maka neraka yang sesungguhnya pun dimulai. Band yang memiliki fanbase kuat tersebut dijadwalkan menjalani roadshow keliling Indonesia dalam rangka hari jadi band yang ketiga. Selama roadshow, seperti yang dibayangkan Aya sebelumnya, Keanu kerap berkelakuan ajaib alias tak disiplin dengan jadwal tur dan promo. Vokalis ini kerap menghilang tanpa pemberitahuan, pulang ke Bandung di tengah-tengah jadwal syuting promo, dan amat jarang berperjalanan bersama personel band-nya dalam sleeper bus. Jelas saja Aya dibuat pusing dan terkena dampaknya. Banyak pihak yang dikecewakan dan berimbas permohonan maaf yang harus dilontarkan Aya sebagai manajer. Menuruti saran Audy sahabatnya, Aya berinisiatif mengajak Keanu bicara empat mata baik-baik. Tapi lagi-lagi, pemilihan waktu yang tidak tepat dan nada bicara yang gampang tersulut emosi membuat rencana ini gagal dan menambah aura permusuhan antara keduanya.

Tak sanggup lagi, Aya pun mengeluhkan penderitaannya kepada Audy, Fauzan, dan Bobby, sahabat-sahabatnya semenjak SMA. Ketika sesi curhat masih berlangsung, mereka menyaksikan konferensi pers di televisi mengenai sebuah kasus hukum yang melibatkan seorang figur publik. Betapa terkejutnya Aya dan para sahabatnya ketika melihat sosok pengacara yang menangani kasus tersebut yang sangat mirip dengan Keanu. Usut punya usut, ternyata pengacara muda tersebut merupakan saudara kembar Keanu. Kevin Ekaputra Pradipta, demikian nama kakak kembar Keanu tersebut, sontak menarik perhatian dan menerbitkan ide sebagai jalan keluar persoalan Aya. Bermaksud meminta dukungan dan bantuan Kevin untuk ‘mendisiplinkan’ adiknya, Aya berangkat ke kantor Pradipta & Assosiates untuk menemui langsung Kevin. Di sana Aya juga bertemu dengan seorang wanita muda yang disapa Key. Wanita yang langsung mengundang kekaguman Aya berkat kecantikan dan keanggunannya. Dan betapa kecewa Aya ketika pada akhirnya menyadari kedatangannya ke sana sia-sia. Kevin tak hanya menolak mentah-mentah permohonan bantuan dari Aya tapi juga bersikap menyebalkan sehingga memicu amarah Aya.

Di lain pihak, dalam sebuah promo dan wawancara live radio, Keanu bersikap tak sopan ketika sang penyiar meminta komentarnya terkait Kevin. Agaknya rumor mengenai hubungan mereka yang tak harmonis benar adanya, demikian asumsi Aya. Karena itulah dia lantas tak mempersoalkan lebih jauh. Apalagi selama beberapa waktu ke depan, Keanu bersikap lebih disiplin daripada biasanya. Hingga suatu hari, ketika sedang menengok keadaan mamanya yang masuk rumah sakit, Aya tak sengaja melihat sesosok pria mirip Keanu. Merasa penasaran, dia pun menguntit hingga terkuaklah sebuah rahasia besar yang mengubah segalanya. Mau tak mau, Aya kemudian terlibat dalam drama pelik keluarga Keanu. Tak hanya itu, kasus yang sempat menjadi skandal Keanu di masa lalu yang melibatkan mantan manajernya belum benar-benar usai. Aya pun terjebak di tengah labirin kehidupan Keanu dan mulai melibatkan perasaannya. Ketika mantan bosnya menawarkan kesempatan langka di Jepang, Aya merasakan dilema. Haruskah dia memperpanjang kontrak perjanjian sebagai manajer band dengan Om Putra atau menerima tawaran menjanjikan di Jepang.

REVIEW:
    “Sebuah hubungan darah tidak seharusnya terputus oleh ego. Hubungan antara orangtua dan anak, hubungan antarsaudara, tidak seharusnya terputus oleh apa pun.” (hlm. 271)

    Tidak umum dijumpai novel metropop yang mengambil latar musik, apalagi kehidupan anak band. Dan saya cukup berekspektasi dengan latar musik ini. Ternyata nuansa musiknya dipersempit menjadi seting tur konser ke berbagai daerah di Indonesia, sehingga memang tak akan ditemui adegan proses rekaman lagu atau syuting video musik, seperti yang sempat saya sangkakan. Meski demikian, tetap ada selipan proses kreatif sang vokalis dalam menciptakan lagu dan proses aransemen awal bersama personel band di sela-sela perjalanan tur. Selain itu, deskripsi kemegahan konser, atraksi panggung, lengkap dengan ritual unik jelang tampil cukup memuaskan. Penulis sendiri sempat menyebutkan dua band rock Jepang: One Ok Rock dan My First Story sebagai sumber inspirasi, sehingga mudah bagi saya membayangkan gambaran adegan selama Keanu & the Squad beraksi di atas panggung. Di jelang akhir, saya bahkan sempat ‘merinding’ dan emosional membaca sebuah adegan yang menggambarkan salah satu ritual sebelum manggung Keanu, yang ternyata berhubungan erat dengan konflik utama cerita. Seting di beberapa kota juga cukup berkesan, walaupun kebanyakan hanya sekilas, mengikuti alur dan plot cerita.

    Penulis menggunakan POV orang ketiga tapi tetap mampu membuat saya merasa dekat dengan para tokoh—terutama tokoh utama. Penokohannya menarik, mengambil sosok dua saudara kembar beda profesi dan beda karakter, serta tokoh perempuan yang unik. Keanu yang menganggap musik sebagai hidupnya, luwes bergaul, easy going, dan cenderung mudah disukai sangat berkebalikan dengan Kevin. Selain itu, bagaimana Kevin diposisikan sebagai anak tertua—meskipun mereka kembar, kisah masa kecil dan remaja, dan gambaran konflik batin mereka, pada akhirnya memperkuat simpati saya pada keduanya ketika inti konflik terkuak. Bagi saya, penulis piawai membuat pembaca terlibat secara emosional dengan kedua tokoh ini. Di klimaksnya, saya turut merasakan penderitaan tokoh yang dilatarbelakangi kondisi psikologis yang pelik. Di lain sisi, kehadiran Aya sebagai sosok lucu (tapi tak pernah merasa melucu) dengan sikapnya yang ekspresif, gampang terpancing, agak lemot tapi punya sisi baik, membuat saya gemas sekaligus kangen dengan tingkah konyolnya. Humornya pas untuk saya, mengingatkan akan tokoh wanita dalam drama komedi romantis Korea. Sosok satu ini juga cocok menjadi ‘penengah’ konflik dan membantu tokoh pria menemukan solusi. Chemistry antara Aya dan sang tokoh pria terasa; walaupun tak dibumbui adegan dewasa yang biasa dihadirkan dalam novel metropop, kisah romansa mereka tetap manis dan mengharukan. Sedangkan Key atau Keyzia mendapat porsi yang lumayan besar, terkait kedekatannya dengan Keanu dan Kevin yang cukup pelik. Alih-alih menonjolkan peran orangtua, penulis lebih mengeksplorasi peran Key, yang mana menurut saya sudah cukup tepat. Meskipun saya sebenarnya tetap mengharapkan orangtua si kembar sedikit lebih ditampilkan agar emosi makin gereget. Selain itu, Om Putra juga ternyata menjadi tokoh kunci dalam teka-teki alasan di balik peran Aya sebagai manajer, menyuguhkan twist ending yang lengkap. Yang cukup saya sayangkan terkait penokohan adalah kehadiran personel band yang tak berkesan. Kecuali Randy dan Jonas (saya suka dengan Jonas), saya nyaris melupakan sosok Adrian dan Regan. Bisa jadi dikarenakan format band yang ‘tak biasa’ (bisa diketahui mendetail jika kamu membaca sendiri), sehingga poros tetap pada Keanu. Tapi tetap saja, walaupun mereka hanya tokoh pendukung, seharusnya penulis bisa menciptakan keunikan, gimmick, atau adegan khusus sehingga pembaca tetap ‘ingat’ akan sosok keduanya usai membaca.

Alur dominan maju, dengan sedikit sisipan kilas balik. Plotnya rapi dan sempat membuat saya ikut menebak ke mana arah cerita dan apa konflik utama kedua tokohnya: Keanu dan Kevin. Meskipun ada yang sesuai, namun tetap ada bagian mendasar yang meleset dari perkiraan saya sehingga sukses membuat saya tercengang. Salut dengan ide penulis yang berani! Pada akhirnya, bisa dibilang cukup sulit mengulas novel ini tanpa membocorkan twist yang hendak digulirkan, tapi secara keseluruhan saya puas dengan eksekusi twist dan ending.

Sebuah novel yang ternyata tak sekadar mengangkat nuansa musik dibumbui kisah benci jadi cinta. Pesan moralnya mendalam. Memaknai arti penting keluarga, juga mengajak pembaca untuk lebih mencintai diri sendiri. Yakinlah bahwa tiap orang itu unik dan menarik dengan cara masing-masing sehingga seharusnya kita lebih bersyukur atas hidup dan cinta dari orang-orang terdekat. Terlepas dari sejumlah typo yang masih terselip, saya tetap merekomendasikan novel ini. Baca, deh dan rasakan sensasi terhanyut dengan kisah Keanu dan Kevin. Kamu akan dibuat tertawa lantas menitikkan air mata tak lama kemudian, atau bahkan di waktu bersamaaan.

Selasa, 08 Mei 2018

Kilovegram: Cinta Bukan Soal Ukuran Tapi Soal Perasaan

Posted by Melani Ivi | 9:49:00 AM Categories:
Judul                 : Kilovegram
Penulis              : Mega Shofani
Desain sampul  : Orkha Creative
Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit      : 2018, cetakan pertama
Tebal buku        : 272 hlm; 20 cm
ISBN                 : 978-602-03-7915

BLURB:
    Kata orang, Aruna itu sebenarnya cantik, tapi... gendut.

    Iya, Aruna tahu ia gemuk. Ia pun kenyang dan tidak mempan lagi diejek. Habisnya bagaimana? Ia paling sulit menolak makanan, apalagi yang enak. Masakan Mama, misalnya. Atau traktiran Raka, sahabatnya.

    Tetapi sikap cuek Aruna mulai berubah setelah Nada, sepupunya yang cantik dan serbabisa, masuk ke SMA yang sama dengannya. Bukan itu saja, Raka terang-terangan memuja dan mendekati Nada sehingga membuat Aruna merasa tersisih dan minder. Apa yang harus ia lakukan agar bisa seperti Nada?

    Aruna pun memutuskan mulai berdiet. Bagaimanapun caranya, ia harus langsing , langsing, langsing! Ia tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah dan akan mendapatkan kembali perhatian Raka.

    Diet dimulai dari... sekarang!

SINOPSIS:
    “... biarpun cewek di dunia ini nantinya Cuma lo, gue nggak akan pernah mau jadi cowok lo!” (hlm. 15)

    “Gimana mau punya cowok kalo badan aja pipi semua? Gimana mau ada yang naksir, betis aja kayak tabung gas begini? Jatuh cinta sih jatuh cinta... Yang nangkep cintanya ada nggak?” (hlm. 21)

    Aruna Mega yang akrab disapa Runa memasuki sekolah baru, SMA Angkasa Jakarta. Di SMA ini ada sahabat baiknya semenjak kecil, Raka Gheoputra alias Raka yang sudah jadi siswa senior. Sebagai pengurus OSIS, Raka terlibat dalam kepanitiaan masa orientasi siswa baru. Dan pagi itu, Raka sedang berlagak serius menghukum Runa melakukan push-up. Awalnya hukuman berjalan semestinya dengan diselingi adu mulut setengah bercanda di antara Raka dan Runa, tapi mendadak terhenti karena Runa jatuh pingsan. Ternyata pagi itu Runa melewatkan sarapan karena kesiangan bangun. Di rumah kemudian, Mama mengabarkan bahwa sepupu Runa yang bernama Nada Aurelia atau Nada akan pindah sekolah ke Jakarta dari Tasikmalaya. Tak hanya itu, Nada memilih bersekolah di SMA yang sama dan tinggal serumah dengan Runa. Tentu saja Runa antusias karena selama ini dia hanya tinggal berdua dengan mamanya sepeninggal sang papa. Dan lebih senang lagi ketika mengetahui bahwa Nada sekelas bahkan sebangku dengannya.

    Secara fisik dan karakter, Runa dan Nada sangat jauh berbeda. Aruna gemuk, doyan makan, cuek, dan tidak punya teman dekat selain Raka. Sedangkan Nada selain cantik alami juga langsing, berprestasi di luar mata pelajaran, supel, dan tampilannya modis meskipun tidak berlebihan. Di hari pertama Nada masuk sekolah, nyaris seluruh siswa terpukau dan tak menyadari bahwa dia dan Aruna adalah sepupu. Demikian pula dengan Raka yang ikut terpikat dan tak menyangka bahwa Runa memiliki sepupu secantik Nada. Dimulailah aksi pendekatan Raka terhadap Nada. Apalagi dalam waktu dekat akan diadakan pentas seni sekolah, dengan menggelar aneka lomba. Nada yang ikut serta dalam lomba puisi diiringi petikan gitar akustik dan rajin berlatih di ruang musik kerap disambangi Raka. Perlahan Raka seolah tak punya waktu lagi untuk Runa. Hal ini membuat Runa merasa tersisih. Selain itu, teman-teman di sekolah pun menyanjung Nada sehingga sontak membuat Runa membanding-bandingkan dirinya dengan sang sepupu hingga terbitlah rasa minder. Di lain pihak, dua teman perempuan Runa sejak SD, Diana dan Imey yang terkenal suka bergosip juga bersekolah di SMA Angkasa. Mereka berdua semenjak dulu gemar mengganggu Runa. Dua cewek itu bahkan punya nama sapaan khusus untuk Aruna: Arundut. Walaupun sebagian besar waktu Runa tak menanggapi cemoohan mereka, tapi sesekali dia juga membela diri dengan melontarkan balik perkataan pedas.

Ketika tawaran Raka agar Runa mendaftar di ajang lomba pagelaran busana datang, Runa akhirnya menerima. Runa bertekad ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia pun berani berekspresi dan tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah. Sayangnya, ketika hari diadakannya pagelaran busana datang, Raka yang menyaksikan penampilan Runa yang berubah drastis justru menertawakan dan mengolok-olok di depan teman-teman mereka. Ditambah lagi, gaun yang dikenakan Runa kembaran dengan Nada. Tapi Raka tak menyadari kesalahannya dan menganggap itu sekadar candaan antarsahabat. Tak demikian halnya dengan Nada yang merasa bersalah karena mengenakan pakaian yang senada adalah idenya. Walaupun sempat jatuh mental, Runa pada akhirnya memilih tetap maju ke perlombaan. Dia tak sudi menyerah. Dan tak dinyana, justru dalam perlombaan tersebut Runa menyabet dua gelar juara sekaligus. Momen ini memacu semangat Runa untuk berubah. Selain itu, dia juga ingin merebut kembali perhatian Raka. Maka Runa memutuskan mengonsumsi obat pelangsing yang dijual bebas di pasaran lewat toko daring. Dia juga ngotot mengurangi porsi makan dan rajin berolahraga sendiri.

    Selama proses mencapai bobot tubuh ideal tersebut, hubungan persahabatan Runa dan Raka makin merenggang. Bahkan, sebuah insiden kesalahpahaman yang diwarnai adu mulut dan emosi yang memuncak membuat hubungan dua sahabat ini memburuk. Suatu hari, ketika seorang senior laki-laki bernama Valen mengganggu Runa tepat di depan mata Raka, ia bahkan tak bersikap membela bahkan pura-pura tak mengenal Runa. Tapi Runa tak gentar dan justru menunjukkan sikap perlawanan dengan kata-kata menohok yang membuat Valen dan yang menyaksikan tercengang. Di lain sisi, efek ‘program’ diet ketat yang dijalani Runa diam-diam mulai menampakkan hasil. Banyak teman sekolah yang nyaris tak mengenali lagi Runa dengan ‘penampilan’ barunya dan tak sedikit yang memuji. Termasuk Raka, yang pada sebuah kesempatan acara makan malam bersama keluarga, tak menyangka akan menyaksikan Runa yang cantik dalam balutan gaun yang terasa familier. Namun kecanggungan di antara mereka belum reda, apalagi Runa teringat bahwa Raka semakin dekat dengan Nada akhir-akhir ini.

Hingga suatu waktu, Mama mendorong Runa untuk berpartisipasi dalam sebuah lomba pagelaran busana berskala lebih besar daripada yang diselenggarakan di sekolah. Runa pun mengiakan saran sang mama. Yang mengejutkan, ketika berada di area kompetisi, Runa bertemu dengan Diana. Rupanya Diana juga ikut berkompetisi. Sesudah diselingi adu mulut, dua gadis ini bersaing di panggung. Dan betapa tercengangnya Diana ketika di momen pengumuman, gelar juara yang direbutnya masih kalah level dibanding yang berhasil diraih Runa. Dilontarkanlah pernyataan menusuk kepada Runa sebagai aksi pelampiasan atas kekesalannya.

Selang beberapa waktu kemudian, ketika Runa bersiap meninggalkan area sekolah di sore hari, tak sengaja dia memergoki seorang cowok tak dikenal hendak berbuat tak senonoh terhadap Diana. Beruntunglah Runa berhasil membuat cowok itu pergi berkat keberaniannya. Diana yang merasa berterima kasih lantas mengenalkan Runa pada kakak laki-lakinya, yang ternyata adalah Valen. Semenjak itulah hubungan Runa, Diana, dan Valen berubah baik. Ketika suatu hari Runa dirawat di rumah sakit akibat konsumsi obat pelangsing yang berlebihan, Diana dan Valen bahkan juga datang membesuk. Raka yang pada saat itu juga berada di ruangan yang sama, merasa terkejut dengan kedekatan mereka. Diam-diam, tebersit rasa cemburu. Ditambah lagi, di hari-hari selanjutnya, Valen kerap bersikap manis pada Runa. Puncaknya, Raka mengultimatum Valen agar menjaga jarak dengan Runa yang berubah menjadi petaka. Tak lama kemudian Raka mengumumkan bahwa dia dan Nada telah resmi berpacaran. Runa yang tak bisa membohongi diri sendiri, berkeluh kesah dan menceritakan isi hatinya pada Diana. Diana menyarankan agar Runa mengakui perasaaannya secara langsung pada Raka. Apakah Raka lebih memilih sahabat yang ternyata berubah suka padanya, atau sepupu sahabatnya yang nyaris sempurna dan juga menyukainya.

REVIEW:
    “... cinta bukan sekadar mementingkan fisik. Melainkan melibatkan lebih dari itu... perasaan. Dan kelak akan ada saatnya seseorang yang mebuktikan semua itu.” (hlm. 118)

    Tema yang diangkat oleh teenlit satu ini memang nggak asing lagi di kalangan remaja. Tentang penilaian seseorang berdasarkan penampilan fisik semata serta konflik bullying yang mengiringi, juga kisah persahabatan yang berubah cinta. Tapi penulis menurut saya sukses mengeksekusi tema tersebut menjadi kisah segar yang menarik dan tetap relevan. Penggunaan POV orang ketiganya pas, membuat saya tetap merasa ‘dekat’ dengan masing-masing tokoh. Walaupun Aruna menjadi tokoh sentral, POV ini menjadikan tokoh lain terasa sama penting dan berperannya dalam keseluruhan kisah. Seting Jakarta, terutama di sebuah SMA, dengan segala pernik kehidupan siswa menjadikan novel ini tak kehilangan nuansa kehidupan remaja. Ditambah lagi kisah persaingan dalam kompetisi luar sekolah, masalah kenakalan remaja yang ada kaitannya dengan keluarga, menjadi ‘bumbu’ yang membuat kisah lebih menarik sekaligus tak kehilangan arah. Alur maju yang mendominasi juga nyaman untuk diikuti.

    Tentang penokohan, selain Aruna sebagai tokoh sentral, kehadiran Raka dan Nada cukup menyita perhatian. Meskipun saya tidak bisa memfavoritkan Raka dengan segala keegoisan dan sikap kekanak-kanakannya, saya mengapresiasi perannya yang secara tidak langsung memicu semangat Runa untuk berani berekspresi dan mengusahakan perubahan. Nada pun menjadi tokoh penengah yang terkesan netral, walaupun tetap disisipkan sifat manusiawi di mana dia juga senang diperhatikan dan ingin memiliki seseorang yang disukai. Selain itu, Diana, Imey, dan Valen yang pada dasarnya menjadi antagonis, menambah keseruan cerita. Saya paling suka adegan ketika Runa berkonfrontasi dengan Diana dan Valen sebelum mereka berubah menjadi teman baik. Emosinya sangat terasa. Yang sedikit saya sayangkan adalah sosok Vio, seorang senior baik hati yang perannya terasa hanya secuil. Padahal sosok ini cukup menarik dan membuat saya penasaran dengan latar belakangnya. Sedangkan mama dari Aruna berperan cukup penting sebagai sosok dewasa pengayom dan panutan para tokoh remaja di sini.

    Mengenai deskripsi, nuansa kehidupan sekolah dan remaja pada umumnya cukup sukses digambarkan. Hanya sedikit catatan mengenai fashion style para tokoh dalam beberapa kesempatan. Terutama momen ketika Runa, Nada, dan Diana terlibat kompetisi pagelaran busana. Saya merasakan detail pemaparan penulis tentang istilah-istilah khusus jenis busana dan aksesoris yang dikenakan masih kurang terperinci. Seharusnya riset bisa lebih mendalam lagi agar terasa ‘feel’ kompetisinya. Detail ini juga bisa mempertajam karakter tiap tokoh tersebut.

    Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan teenlit ini. Salut dengan sikap pantang menyerah Runa, dengan keberaniannya, dengan sikapnya yang terkesan cuek tapi baik hati dan mudah memaafkan, serta sikap hormatnya pada yang lebih tua. Runa mewakili pesan cerita tentang menjadi sosok remaja yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh efek buruk pergaulan masa kini. Novel yang menghibur sekaligus patut dibaca oleh para pembaca belia masa kini, terutama yang sedang gamang mencari jati diri.

Jumat, 04 Mei 2018

Judul buku          : The Women in the Castle
Penulis                : Jessica Shattuck
Alih bahasa         : Endang Sulistyowati
Editor                  : Nina Siti Aminingsih
Penerbit              : PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit        : 2018, cetakan pertama
ISBN                   : 978-602-04-5866-3
Tebal buku         : 441 hlm.

BLURB:
    Di tengah jatuhnya kekuasaan Jerman Nazi, Marianne von Lingenfels kembali ke puri keluarga suaminya yang dahulu kala berdiri tegak sebagai benteng kukuh tapi kini telah rusak seiring dengan berlangsungnya Perang Dunia Kedua.

    Sebagai janda dari anggota perlawanan yang dieksekusi setelah gagal melancarkan rencana pembunuhan Adolf Hitler pada tanggal 20 Juli 1940, Marianne bertekad untuk menepati janjinya kepada para anggota lainnya yang telah berjuang dengan gagah berani: mencari dan melindungi istri-istri mereka, sesama janda perjuangan perlawanan.

    Marianne yakin bahwa penderitaan dan nasib yang sama akan mempersatukan mereka sebagai satu keluarga. Namun dia segera menyadari bahwa kehidupan seusai perang nyatanya lebih rumit dan penuh dengan rahasia-rahasia gelap yang dapat mencerai-beraikan mereka...

SINOPSIS:
    “Pembunuhan adalah perbuatan iblis. Itu tak terbantahkan. Tapi jika itu bisa mengakhiri perang dan mencegah pembunuhan ribuan orang? Bahkan jutaan orang?” (hlm. 89)

    Pada tahun 1938, di tengah kemeriahan pesta di Burg Lingenfels, sekelompok pria dari berbagai latar belakang—yang kemudian menyebut diri gerakan perlawanan—diam-diam sedang membahas segala tindak tanduk Hitler kala itu. Mereka semua nyaris serempak setuju bahwa Hitler di balik karismanya adalah sesosok monster dengan ambisi kekuasaan yang mengorbankan sangat banyak nyawa tak bersalah. Namun apakah lantas membunuh diktator tersebut—dengan segala konsekuensinya—adalah satu-satunya jalan keluar demi mencegah perang dan tertumpahnya lebih banyak darah masih diperdebatkan. Hingga sebuah fakta mengerikan yang terbukti kebenarannya membulatkan kesepakatan kelompok ini untuk melancarkan aksi pembunuhan demi menggulingkan Hitler dari tampuk kekuasaan. Marianne von Lingenfels yang berada di satu tempat yang sama dengan diskusi dan tak sengaja terlibat perdebatan pun lantas mengikrarkan janji untuk menjadi ‘komandan istri dan anak’ dari para anggota gerakan perlawanan. Sebuah ikrar tanda dukungan penuh dan kesetiaan.

    Ketika rencana pembunuhan atas Hitler tersebut ternyata menemui kegagalan, para anggota gerakan perlawanan dieksekusi. Para janda mereka telantar dan mengalami masa kehidupan yang teramat sulit. Demikian halnya dengan Marianne von Lingenfels dan ketiga anaknya. Namun nasib Marianne terbilang masih jauh lebih beruntung ketimbang janda lain berkat nama baik sang suami—Albrecht yang memiliki jabatan dan latar belakang kebangsawanan yang terpandang. Ketika perang usai, di tahun 1945 sesudah usaha pencarian panjang, Marianne berhasil menemukan (sayangnya) hanya dua janda. Mereka adalah Benita Fledermann dan Ania Grabarek beserta anak-anak lelaki mereka yang ditemukan di beberapa tempat berbeda yang sama-sama mengenaskan. Benita jauh lebih muda dari Marianne dan pernah dikenalkan oleh mendiang suaminya, Connie, yang juga merupakan sahabat baik Marianne semenjak kecil. Janda Fledermann ini sosok perempuan yang cantik dari kota kecil Fruhlinghausen tapi rapuh dan sakit-sakitan ketika dibawa ke puri oleh Marianne. Sedangkan Ania terasa asing dan pembawaannya yang pendiam dan tertutup menambah jarak bagi Marianne. Namun, Marianne yang optimistis dan pembawaannya percaya diri layaknya seorang pemimpin telah bertekad bahwa mereka akan hidup sebagai satu keluarga di Burg Lingenfels—yang meski tak megah lagi tapi masih kukuh berdiri pascaperang.

    Masa-masa sulit lantas dijalani keluarga baru ini. Keterbatasan pasokan pangan dan kelayakan sarana tak menjadi halangan. Hingga seorang tawanan perang yang merupakan mantan Nazi bernama Franz Muller diperbantukan di puri seminggu sekali atas rekomendasi seorang kenalan perwira Amerika. Kehadiran Herr Muller disambut baik-baik saja oleh anak-anak lelaki, begitu juga Benita yang diam-diam menyukai keberadaannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Marianne yang sangat enggan dengan riwayat keterlibatan Muller dengan Nazi. Bukan itu saja; suatu hari sekonyong-konyong sepeleton tentara Rusia yang kelaparan dan kelelahan singgah di puri demi meminta makanan. Berkat ketegaran Marianne yang didampingi Ania, momen menakutkan dan menegangkan ini mampu dilalui. Tapi satu tindakan ceroboh Benita menimbulkan tragedi yang melibatkan Franz Muller dan lantas ditutup-tutupi. 

    Kebersamaan tiga wanita beda generasi dan karakter ini berlanjut, hingga di tahun 1950 dikisahkan bahwa mereka tak lagi menetap di puri. Marianne dan Benita pindah ke sebuah flat di Tollingen bersama anak-anak mereka. Sedangkan Ania menikah dengan Carsten Kellerman setelah beberapa waktu menjadi penyewa di tanah milik duda tua tersebut. Marianne turut berbahagia karena menurutnya Carsten adalah pria baik dan telah dikenal sebagai tetangga puri selama bertahun-tahun. Kebahagiaan Ania usai menikah sayangnya tak berlangsung lama, karena seorang pria dari masa lalunya mendadak muncul dan menuntut sesuatu. Rahasia kelam kehidupan Ania ini tak pernah diungkapkannya kepada Marianne maupun Benita. Dan kini pun dia memilih menyembunyikannya, termasuk dari suami barunya. Tapi sebuah kejadian membuat Marianne mengetahui hal tersebut dan merasa sangat kecewa. Dari sinilah hubungan Marianne-Ania merenggang dan berubah. Di lain pihak, Benita juga mengejutkan Marianne dengan mengutarakan maksud untuk menikah dengan Franz Muller. Ternyata selama ini mereka menjalin kontak secara rutin di belakang semua orang. Marianne jelas-jelas menentang dan bahkan menemui Muller secara langsung. Satu tindakan yang lantas memicu konflik dengan Benita.

    Di sisi lain, situasi Jerman yang mulai membaik pascaperang, turut mendukung pendidikan anak-anak. Martin, anak tunggal Benita kemudian bersekolah di sekolah asrama terbaik pilihan Marianne, menyusul Fritz, Elizabeth, dan Katarina—anak-anak Marianne. Pascakepergian Martin, Benita merasa kehilangan tujuan hidup dan memutuskan pulang ke kota asalnya yang sebenarnya dibencinya. Sedangkan Ania melanjutkan hidup dengan menanggung beban rahasia dan dosa dari masa lalu. Waktu pun bergulir dan kisah berlanjut ke masa modern, jauh sesudah Perang Dunia Kedua. Di sini diungkapkan penutup kisah Marianne, Ania, Benita, dan anak-anak mereka.

REVIEW:
    “Terkadang lebih mudah untuk melihat lebih jelas dari kejauhan. Dan yang terlihat di depan mata... lebih sulit dipahami. Ada banyak sekali area abu-abu di antara hitam dan putih... dan di sanalah sebagian besar kita hidup, mencoba, tapi sering kali gagal, untuk berbelok ke arah cahaya.” (hlm. 425)

    Novel dengan seting utama Jerman—di sejumlah kotanya ini dikisahkan dengan alur campuran. Diberi keterangan kota dan penanda waktu yang jelas, ada kalanya kisah berjalan maju, lantas kilas balik menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami para tokohnya—juga Jerman pada umumnya. Secara umum, novel dibagi menjadi tiga bab, yang di dalamnya terdiri dari sejumlah ‘chapter’ kisah. Sudut pandang yang dipilih penulis adalah POV orang ketiga—dengan ‘taste’ seperti POV orang pertama. Saya rasa ini pilihan tepat, mengingat cukup banyaknya tokoh. Eksekusinya juga memuaskan. Saya merasa ‘terhubung’ dengan masing-masing karakter.

    Awalnya saya sempat salah mengira bahwa kisah ini hanya seputar masa Perang Dunia Kedua. Nyatanya, rentang waktu kisahnya panjang, antara tahun 1938 hingga tahun 1991. Dan fokus cerita bukanlah semata kekejaman perang yang juga memicu gerakan perlawanan, tapi justru masa transisi dan jauh sesudahnya. Shattuck ingin menekankan bagaimana dampak perang yang traumatis bisa mengubah segala aspek kehidupan, baik secara global maupun personal. Secara personal, dititikberatkan pada gambaran kisah hidup Marianne, Benita, Ania, anak-anak mereka, dan beberapa orang yang terkait dengan mereka.

    Narasi dan deskripsi Shattuck sendiri menurut saya cerdas, penuh sindiran, dan ada kalanya menyihir dengan perumpamaan yang indah tapi suram. Riset dan proses penulisan novel selama bertahun-tahun pun terbukti mendukung hasil terbaik. Konflik demi konflik terjalin rapi menyusun plot yang membuat saya betah ingin membaca hingga halaman terakhir.

    Konflik dalam novel ini kompleks; tak hanya tercipta dari situasi perang yang pelik dan mengerikan, tapi juga berasal dari pertentangan kepentingan dan perbedaan karakter sejumlah tokohnya. Terkait dengan ini, menurut saya penulis sukses menyajikan penokohan yang kuat. Saya diajak menelusuri dan memahami jalan pikiran masing-masing tokoh, pergolakan batin, hingga rahasia demi rahasia kehidupan mereka. Tiga tokoh utama wanitanya memikat hati saya. Marianne yang cerdas, berasal dari keluarga berpendidikan, bersuamikan pria bangsawan terhormat, berpembawaan optimis dan percaya diri, dan pola pikirnya terbentuk dari moralitas serta batas jelas antara benar dengan salah. Karakter Marianne ini lantas bertentangan dengan sosok Benita yang cenderung pemimpi, mengikuti kata hati ketimbang moral dan apa pandangan orang. Demikian pula dengan Ania yang pendiam dan tertutup, dan menyimpan misteri kelam yang setelah terbongkar bertentangan dengan ‘kompas moral’ Marianne. Ania—berbeda dengan Benita, bukanlah sosok wanita yang mengagung-agungkan cinta. Tapi Ania sama cerdasnya dengan Marianne, juga paling cekatan dalam urusan rumah tangga. Masih ada pula anak-anak mereka yang tak kalah menarik setiap karakternya meskipun tak menjadi fokus utama cerita. Menarik sekali mengikuti interaksi antartokoh yang jauh berbeda dengan pola interaksi antarwanita di masa modern. Membuka wawasan saya mengenai perbedaan budaya juga. 

    Sungguh sebuah pengalaman membaca yang luar biasa. Saya begidik ngeri, ikut melaknat, menitikkan air mata dan tersayat hati, sekaligus haru dan simpatik selama membaca novel ini. Kisah yang benar-benar ‘mempermainkan’ emosi. Saya salut dengan moralitas dan keteguhan Marianne, juga jatuh iba dan simpati pada Benita yang—meminjam istilah Marianne—tertawan oleh kecantikannya sendiri. Namun saya paling kagum pada sosok Ania. Kisah hidupnya begitu rumit, membawa saya pada pemahaman tentang wilayah abu-abu, berbagai pilihan dalam hidup, di mana tak selamanya orang bisa berjalan mudah menuju ‘cahaya’. Lewat Ania saya belajar tentang ketegaran menjadi wanita sekaligus ibu. Dan tokoh satu ini juga yang paling menguji kesabaran membaca, karena rahasianya diungkap hingga tuntas paling akhir dan menciptakan plot twist yang mencengangkan—saya gagal menangkap ‘clue’ yang sebenarnya sudah ada sejak awal. Ending yang disuguhkan Shattuck memuaskan, tuntas tak menyisakan tanya. Bagi para pencinta bacaan tentang sejarah dunia, historical novel terjemahan Elex Media terbaru ini wajib sekali dibaca!

Rabu, 18 April 2018

Strings Attached: Ketika Benci Jadi Cinta dan Cinta Menuai Petaka

Posted by Melani Ivi | 7:42:00 AM Categories:
Judul buku              : Strings Attached
Penulis                    : Yoana Dianika
Editor                      : Yuliono
Proofreader             : Christian Simamora
Penerbit                  : Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan                  : cetakan pertama, 2017
Tebal buku              : iv + 308 hlm; 14 x 20 cm
ISBN                       : 978-602-61138-5-6

BLURB:
‘Let me tell you, I’ll make you mine, I’ll hug you tight. Stay beside me, stay beside me... ‘ [“I Want You So Bad” by I ROCK YOU]

    Arletta sangat bangga dengan talenta musiknya. Cewek itu mengawali dari nol: meng-cover lagu-lagu populer di Youtube hingga akhirnya bisa mengawali debutnya di dunia hiburan. Sayang, reaksi pasar nggak seperti harapannya. Album perdananya jeblok di pasaran. Kalau Arletta ingin kariernya mendapat kesempatan kedua, dia harus mendapat gebrakan besar. Arletta tentu saja setuju dengan usulan kakaknya itu... sampai dia mengetahui kalau gebrakan yang dimaksud adalah berduet dengan band rock yang musiknya cadas banget.

    Kazuki, lead vocalist I Rock You, terlihat intimidatif di kali pertama bertemu dengan Arletta. Penampilan seenaknya, lengan bertato, bersikap dingin—bahkan kasar, adalah peringatan yang lebih dari cukup bagi Arletta supaya menjaga jarak. Tapi kakaknya bilang, proyek duet untuk soundtrack film itu adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali. Arletta pun belajar menoleransi Kazuki. Berusaha meminimalisir konflik dengan cowok itu.

    Masalahnya, begitu dia menerima Kazuki masuk ke hidupnya, cowok itu seperti ada di mana-mana. Arletta stuck dengan Kazuki dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubahnya. Dan perlahan-lahan, meskipun ini tak sudi diakuinya ke siapa pun, Arletta sedikit berharap situasi ini terjadi sedikit lebih lama daripada seharusnya.

    Karena Arletta sudah terbiasa dengan kehadiran Kazuki. Yah, mungkin lebih dari sekadar ‘terbiasa’...



SINOPSIS:
‘Kau isi hatiku penuh cinta yang penuh kebohongan maya. Kau coba melambungkanku tinggi dan kau remukkan hati ini’ [“First Time I Saw You”—I Rock You]

“Nengok masa lalu orang tuh sama kayak gagak, makan sesuatu yang sudah kedaluwarsa dan jadi bangkai. Kasihan kalau orangnya sudah niat berubah, sementara bangkai yang dia coba buang malah dikais-kais sama orang lain.” (hlm. 64)

Arletta tidak pernah suka dengan genre musik rock, apalagi hard rock atau alternative rock. Perasaannya yang halus dan karakternya yang ceria, didukung pilihan penampilannya yang mirip china doll bahkan boneka barbie, lebih cocok dengan genre musik pop. Imej Letta di mata fans juga angelic, bak malaikat tanpa cela. Suaranya pun merdu. Sayangnya, hal ini tak serta-merta sejalan dengan kesuksesan penjualan mini albumnya via ITunes. Selain eksis sebagai penyanyi Youtube, Letta juga berprofesi sebagai guru seni di sebuah sekolah dan mengajar vokal di sekolah musik yang dikelola kakaknya. Kakak laki-lakinya, Jonathan atau Jo, berkebalikan dengan Letta. Jo sangat menggemari musik rock semenjak remaja. Bahkan dia pernah aktif tergabung dalam sebuah band rock meskipun hanya sejauh tampil sebagai band pembuka di konser-konser penyanyi ternama. Jo kini lebih sibuk mengelola sekaligus mengajar musik di sekolah musik yang didirikannya: Rising Star Musica.

Suatu hari, Jo memberikan tawaran yang sulit ditolak Letta: terlibat dalam sebuah proyek dengan label rekaman dan Production House (PH) ternama. Mereka ingin menggaet Letta dalam penggarapan album soundtrack sebuah film bertema kehidupan Presiden pertama RI bersama istri berdarah Jepangnya. Tawaran yang menggiurkan ini diterima Letta, walaupun ternyata merupakan proyek kolaborasi dengan sebuah band rock fenomenal. Bukan hanya genre musik rekan duetnya yang awalnya memberatkan Letta, tapi juga imej sang lead vocalist yang negatif, kerapkali tersandung skandal. Pertemuan pertama Letta dan Jo dengan Kazuki dan band rock-nya, I Rock You, di pelataran parkir Rumah Gitar Hear Me Label pun tak menyenangkan. Disusul aksi saling sindir di ruang pertemuan, di hadapan para petinggi label rekaman dan PH yang tak kalah sengit. Walaupun begitu, Letta berusaha optimis dan bertekad akan bersikap profesional menghadapi Kazuki yang intimidatif dan terkenal bermulut silet. Apalagi, Sasha sahabat baiknya sekaligus sesama penyanyi Youtube juga mendukung. Kekasih dari Dean, salah satu artis asuhan Hear Me Label ini menyatakan bahwa Letta harus bangga karena sudah terpilih dalam sebuah proyek berdana besar yang sudah pasti juga diincar artis lain.

Seiring berjalannya kerjasama, tak disangka Letta ada momen-momen tertentu manakala Kazuki menampilkan sisi baik meskipun tetap dibentengi sikap angkuh. Sayangnya, dalam proses rekaman, sebuah teknik bernyanyi yang sempat diusulkan Jo demi membantu fokus Letta justru menjadi sumber kemarahan Kazuki. Merasa diremehkan dan terganggu, Kazuki sempat mengonfrontasi Letta perihal teknik menyanyinya. Insiden ini diam-diam diabadikan kamera oleh oknum dan disebarluaskan di media sosial sekaligus memicu twitwar spekulasi terkait proyek kolaborasi yang sebenarnya masih dirahasiakan. Disusul lagi insiden Kazuki yang memanfaatkan Letta ketika terjebak serbuan fans di tempat umum. Demi menghindar sementara, Kazuki menginap di rumah Letta. Saat itulah mereka saling bertukar cerita tanpa direncana dan perlahan mengubah pandangan Letta mengenai Kazuki, demikian juga sebaliknya. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Kazuki mendapat ancaman dan pemerasan dari oknum semenjak saat itu.

Kedekatan Letta dengan I Rock You makin terjalin, seiring proses kolaborasi berjalan. Mereka sempat mengambil jeda dengan berpiknik sekaligus survei lokasi syuting video klip di Pulau Tidung. Di sini seorang jurnalis portal berita daring sekaligus seseorang dari masa lalu Kazuki mendadak muncul. Helena, demikian disapa, seolah berusaha mengintimidasi dan mengorek skandal antara Letta dan Kazuki. Sayangnya niat itu tak terkabul berkat kekompakan anggota band lainnya—Nath, Ardian, Rafa, dan manajer mereka Erlangga. Namun, sewaktu berlangsung pemotretan cover album sebuah insiden mengerikan terjadi. Ini mengakibatkan Kazuki terluka parah hingga harus menjalani operasi dan perawatan intensif. Tak hanya itu, alih-alih mengabarkan kebenaran, akun haters I Rock You justru memutarbalikkan fakta hingga menuduh Kazuki sebagai pihak bersalah, demikian juga sebuah tabloid dunia hiburan ternama. Mau tak mau Erlangga harus bertindak. Belum lagi usai masalah, beberapa selang waktu kemudian Letta dirundung bencana. Dia mengalami kecelakaan serius setelah sebelumnya menghadiri sebuah pesta. Tak hanya itu, Letta dituduh mengonsumsi narkoba berkat bukti yang menyudutkan. Ada pihak yang jelas-jelas menjebaknya.

Sesudah serangkaian penyelidikan independen, pihak manajemen, label, dan PH melangsungkan konferensi pers untuk mengumumkan ketidakbersalahan Letta dan Kazuki atas skandal yang menimpa mereka. Dalam momen tersebut juga diungkap siapa sesungguhnya dalang di balik tragedi yang terjadi. Di saat inilah, Letta yang tak tahu menahu sangat syok mengetahui fakta yang terungkap.

REVIEW:
    “... hanya orang dangkal yang terlalu peduli omongan orang di ‘dunia maya’. Kalau lo nggak ngefilter omongan orang yang masuk ke telinga, lo bisa sakit mental. Semua orang pengin kita perfect dan tanpa cela.” (hlm. 180)

    “Media saat ini menilai orang semau mereka. Kalau pengin orang jahat, mereka bisa dengan mudah bikin orang jadi jahat. Cara media ngehakimin orang lain bahkan lebih mahir dan lebih sadis daripada para hakim itu.” (hlm. 282)

    Sebuah novel bernuansa musik dan mengangkat tema hiruk-pikuk dunia hiburan di tanah air yang langsung menarik perhatian saya. Desain kover, konsep pembatas buku, pilihan judul, hingga layout dengan berbagai detail di dalam buku kesemuanya menarik dan sangat mewakili alur cerita. Pembaca bahkan dimanjakan dengan berbagai kutipan lirik lagu, baik dari band rock dunia kenamaan maupun dari lagu yang khusus diciptakan demi mendukung cerita. Keren! Nuansa musik langsung terasa. Selain itu, deskripsi seting, karakter para tokoh, proses rekaman dengan berbagai istilah musik dan vokal, dan pernak-pernik dunia band rock dengan fans fanatiknya juga memuaskan. Saya dibuat ternganga membaca penggambaran kenekatan aksi fans fanatik maupun reaksi tak bersahabat Kazuki pada mereka.

    Seting pendukung lain, seperti detail bangunan Rumah Gitar Hear Me Label beserta ruang latihan dan ruang rekaman, lokasi pemotretan dan syuting video klip juga apik. Detail momen blue hour di pantai Pulau Tidung dan momen kebersamaan di greenhouse pribadi Kazuki pun menjadi nilai tambah. Riset penulis terbukti tak main-main dan kejeliannya membuahkan hasil. Pembaca akan menemukan beberapa catatan kaki, menjelaskan beberapa istilah penting, antara lain istilah di bidang musik, kedokteran dan kepolisian yang terkait dengan alur cerita.

    Sudut pandang yang dipilih adalah orang ketiga, sehingga penulis leluasa menyoroti tokoh. Bagian menebak kira-kira siapa dalang di balik kasus Kazuki dan Arletta pun jadi seru. Saya turut menerka-nerka berdasarkan penggambaran para tokoh dan salah satunya tepat, meskipun ternyata tak sesederhana yang saya pikir. Ada plot twist yang sukses mengejutkan saya, tentunya.

    Alurnya maju. Diawali adegan ketika Arletta dan Jo masih remaja dan berburu CD musik di sebuah toko dan berlanjut beberapa tahun kemudian di sebuah konser musik. Ternyata dua momen ini menjadi elemen penting dan akan terkuak di akhir cerita. Jalinan cerita, konflik, penokohan, menjadi plot yang rapi. Karena mengusung topik ‘drama’ yang terjadi di dunia hiburan tanah air, maka nggak mengherankan jika pada akhirnya konflik rumit cerita terkesan ‘drama’ banget. Tapi, saya tetap suka dan menilainya logis. Tentu saja, ini tak terlepas dari kepiawaian penulis dan proses editing yang rapi.

    Mengenai penokohan, saya langsung jatuh suka dengan karakter Kazuki. Tipikal bad boy yang karismatik dan di akhir kisah mendapat tambahan kata ‘manis’ dari saya, hehe... latar belakang kehidupan pribadinya yang disembunyikan rapat-rapat dari orang lain pun mendukung karakternya. Perkembangan karakter Kazuki pun terasa sepanjang cerita. Bersama kehadiran sosok Arletta, karakter Kazuki memang mendapat ‘lawan main’ yang klop. Pasangan yang manis dan chemistry yang tercipta di antara mereka sangat terasa. Adegan favorit saya salah satunya adalah ketika Kazuki salah tingkah dan tersinggung dengan teknik menyanyi Letta selama proses rekaman. Itu lucu banget. Tokoh favorit saya yang lain adalah ketiga teman Kazuki sekaligus member band I Rock You. Saya suka Nath yang easy going, Rafa yang gondrong dan terkesan sangar tapi ternyata ramah, dan Ardian yang kaku dan kutu buku tapi baik. Menghibur sekali keberadaan mereka dalam cerita. Sosok Erlangga yang mengayomi dan tegas, juga Jo sebagai kakak yang penyayang dan sangat mendukung dengan rahasia kecil pribadinya juga menarik perhatian saya. Tokoh-tokoh antagonis pun ditampilkan dalam porsi yang pas, dengan penjelasan yang cukup dan logis sehingga tidak terkesan dipaksakan. Akhir kisah sangat memuaskan bagi saya.

 Pesan moral sendiri tersampaikan dengan baik. Tentang peran media, terutama media sosial dan portal berita digital dalam memengaruhi masa depan karier artis di masa sekarang. Juga pesan tentang cinta dan kebencian yang kerap menghancurkan seseorang jika tak bijak menyikapi. Ada tema keluarga dan persahabatan juga dalam kisah ini.

Kalau kamu mencari bacaan fiksi yang beda, menghibur sekaligus menginspirasikan kebaikan, saya merekomendasikan novel karya Yoana Dianika ini. Kisah romansanya manis, menyentuh sekaligus mengundang tawa.

    “Ada sesuatu pada diri lo yang bikin gue ngerasa klik. Lo pasti paham, bagaimana perasaan lo ketika nemu chord buat lirik nggak bernada yang lo tulis... Rasa nyaman yang nggak bisa lo jelasin dengan kata-kata karena nemu sesuatu yang sudah lama lo cari-cari.” (hlm. 216)
   


Judul buku            : Truly Yours
Penulis                  : Fathnisah Hasna
Editor                   : Prisca Primasari
Proofreader          : Christian Simamora
Tebal buku           : iv + 256 hlm; 14 x 20 cm
Penerbit               : Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan               : pertama, 2017
ISBN                    : 978-602-61138-4-9

BLURB:
    Namanya Aleva. Nggak suka dandan dan nggak bisa masak juga. Jutek dan hobi menonton film thriller—tapi anehnya, selalu parno kalau ditinggal sendirian terlalu lama di apartemennya. Daripada perasaannya terus-terusan nggak tenang, jemarinya langsung mencari nomor satu orang spesifik di handphone. Yang selalu siap sedia untuk dijadikan tempat bersandar. Yang keberadaannya senyaman selimut hangat. Orang itu... Reggy Rahadian.

    Namanya Reggy. Selama enam tahun, Reggy selalu jadi pendengar yang baik untuk semua curhatan dan keluh kesah Alev. Selama enam tahun itu juga Reggy menyimpan rahasia klise: dia jatuh cinta diam-diam pada adik sahabatnya.

    Kau tak bisa menyangkal ada kenikmatan tersendiri mencintai seseorang yang belum tentu akan balas mencintaimu. Mungkin kau pernah melakukan sesuatu supaya dia menyadari perasaanmu—mungkin juga tidak. Tak ada bedanya juga. Toh dalam mimpi-mimpimu dia sudah jadi milikmu.

    Itu sebabnya kau selalu betah berada di sisinya. Menjaganya, jadi sandaran baginya... hingga suatu saat kau tak bisa menyangkal jeritan hatimu sendiri.

    Ternyata, bermimpi saja tak akan pernah cukup...

SINOPSIS:
    Aleva Astari alias Alev atau Levy duduk di bangku kelas terakhir SMA. Dia tinggal di sebuah apartemen di kota Bandung, berdua dengan kakak laki-laki satu-satunya, Diaz Erlangga atau yang akrab disapa Diaz. Pilihan tinggal hanya berdua ini diambil pascaperceraian ayah dan ibu mereka. Ibu mereka yang selingkuh memilih hidup bersama pasangan baru tanpa mempedulikan nasib kedua anaknya. Hal ini jugalah yang menanamkan bibit kebencian di hati Alev dan Diaz. Sedangkan ayah mereka memilih mengalihkan kesedihan pada pekerjaan dan jarang berada di rumah. Alev akhirnya tumbuh menjadi sosok gadis yang cenderung insecure, overprotective dan possesive terhadap orang-orang terdekatnya, jutek, tak memiliki sahabat perempuan, dan hidup dalam dunianya sendiri yang sempit. Meskipun demikian, Levy ini terbilang cerdas. Sedangkan Diaz disibukkan dengan kegiatan perkuliahan dan keorganisasian di kampus, serta cenderung lebih easy going ketimbang Alev.

    Di dalam dunia Alev, ada juga sosok Reggy Rahadian alias Reggy sebagai orang terdekat kedua setelah Diaz. Reggy dan Alev bersahabat semenjak SMP, meski beda umur setahun. Reggy juga berteman baik dengan Diaz dan jadi sosok ‘pengganti’ Diaz kapan pun dibutuhkan. Berbeda dengan kedua sahabatnya, Reggy tumbuh besar dalam keluarga harmonis dengan satu orang adik perempuan. Tidak mengherankan jika tempat tinggalnya menjadi rumah kedua bagi Alev dan keluarganya pun sudah menganggap Alev sebagai bagian dari mereka. Tiga tahun terakhir ini Reggy menyadari perasaan khusus terhadap Alev. Antara ingin menyatakan dengan takut kehilangan persahabatan menjadi dilema hati Reggy, yang lantas juga diketahui Diaz.

    Hingga suatu hari, tanpa sengaja Reggy melontarkan pernyataan bahwa Alev seharusnya lebih toleran dan memahami dunia Reggy dan Diaz sehingga tak terlalu mengekang dan posesif. Bahkan Reggy menyarankan Alev membangun dunianya sendiri bersama teman-teman perempuan seumuran. Sakit hati dengan pernyataan ini, Aleva sempat marah, walaupun pada akhirnya memutuskan menerima saran. Maka Alev pun mulai mengakrabkan diri dengan Chiya, Azka, dan Demmy yang sekelas lewat berbagai kegiatan belajar bersama. Kedekatan ini ternyata menyenangkan dan mengubah dunia Alev. 

    Di lain sisi, dengan dukungan Diaz, Reggy memutuskan menyatakan perasaan pada Alev. Apalagi sebelumnya dia telah cukup yakin dengan perasaan Aleva padanya. Ketika Alev dan Reggy sedang berbunga-bunga, konflik baru muncul. Diaz sedang bermasalah dengan kekasihnya, Farah. Bahkan belakangan diketahui bahwa Farah menduakan Diaz. Hal ini sontak memicu kemarahan Alev. Baginya, tak ada ampun bagi pengkhianatan. Trauma atas perbuatan ibunya membuat Aleva lantas berubah membenci Farah. Namun tak hanya itu, sikap sang kakak yang lebih memilih memaafkan dan memberikan kesempatan kedua pada Farah makin menyulut emosinya. Peristiwa ini diperkeruh peristiwa lain yang jauh lebih mencengangkan. Ayah dan ibu Levy didapati sedang bersama di rumah sang ayah dalam situasi yang terlihat intim. Rupanya rumah tangga baru sang ibu tak berjalan mulus. Ketika tak lama kemudian sang ayah kolaps dan harus dirawat intensif di rumah sakit, sang ibu muncul dan memperjelas keinginan untuk rujuk dengan mantan suaminya. Jelas saja, hal ini membuat amarah Levy berada di puncaknya.

    Sayangnya, sikap keberatan Levy ini tak sejalan dengan Diaz dan Reggy. Meski awalnya menentang, Diaz pada akhirnya luluh dengan sikap ibunya, kemudian belajar menerima kembali dan memaafkan. Reggy pun bersikap netral dan tak menentang demi kebaikan keluarga Diaz. Jadilah Levy satu-satunya pihak yang kukuh tak menyetujui. Hingga suatu hari muncul ide untuk berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar ke Singapura, sekaligus merencanakan membawa serta sang ayah untuk perawatan. Niat untuk menjauhkan sang ayah dari mantan istrinya ini pada akhirnya ditolak tapi Levy tetap bersikeras ke Singapura. Di saat inilah hubungan Levy dan Reggy mengalami masa sulit. Menjalani hubungan jarak jauh dalam rentang waktu cukup lama memang tak diinginkan Reggy. Sedangkan Levy yang belum bisa menerima rujuknya kedua orangtua memilih menjauh.

REVIEW:
    “Gue percaya Tuhan emang udah ngerangkai segala sesuatunya dengan sempurna. Mungkin nggak sempurna di mata kita, tapi sempurna di mata-Nya. Terutama tentang jodoh.” (hlm. 184)

    Kesan pertama saya terhadap novel ini adalah menarik. Pemilihan kover yang cantik, pembatas buku yang terkesan eksklusif karena dicetak bolak-balik, dan blurb yang menjanjikan meski temanya terdengar umum—tentang cinta yang tak diungkapkan. Ketika membuka halaman demi halaman, saya juga disuguhi ilustrasi cantik per bab. Prolog-nya sukses mengundang tanya; siapakah dua tokoh yang berjumpa kembali tersebut dan ada kisah apa di antara keduanya.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang dua orang berbeda, tapi sama-sama sebagai POV orang pertama. Untuk menandai peralihan tokoh, selalu dicantumkan nama si pencerita di pembuka paragraf—apakah itu Aleva atau Reggy. Selain itu, pembeda gaya bahasa juga diciptakan. Jika dikisahkan lewat sudut pandang Aleva, maka digunakan sapaan ‘aku’ dan gaya bahasa narasinya cenderung formal. Sedangkan jika menggunakan sudut pandang Reggy, menyebut diri sebagai ‘gue’ dan gaya bahasa narasinya tidak formal—persis seperti gaya bahasa percakapan sehari-hari remaja perkotaan. Sebuah pilihan yang berani, menurut saya. Terutama pilihan untuk POV Reggy dengan bahasa gaulnya, karena tidak umum dan bisa jadi tidak semua pembaca bisa menerima. Di lain sisi, penulis juga ditantang untuk memberikan penekanan yang berbeda, antara gaya bercerita tokoh perempuan dengan tokoh laki-laki. Dari sisi ini, saya berpendapat penulis muda ini cukup berhasil mengeksekusi. Perbedaan tampak menonjol ketika konflik menuju klimaks, di mana emosi dan cara berpikir antara Aleva dan Reggy tampak bertentangan. Di sini pula pembaca diajak mengenal karakter para tokoh utama, yang mewakili karakter orang kebanyakan yang bisa kita temui di sekitar. Sosok-sosok dengan kelebihan dan kekurangan, berlatar belakang keluarga berantakan maupun harmonis. Tokoh-tokoh pendukung tak terlampau berkesan bagi saya, meskipun sosok tiga sahabat Aleva cukup mewakili tema persahabatan, pun sosok ibu dari Reggy yang penyayang. Ada juga satu-dua tokoh yang tak terlalu berpengaruh signifikan bagi jalinan cerita.

Alur maju menjadi pilihan, dan sebagai pembaca saya menyukainya, karena alur maju itu lebih tidak melelahkan ketimbang alur campuran. Alurnya cukup rapi, dipadukan plot dengan konflik yang berlapis dan makin mengerucut. Dari tagline judul dan blurb, saya mengira kisah ini akan berkutat seputar bagaimana perjuangan seorang Reggy dalam mengungkapkan dan membuktikan cintanya pada Aleva. Namun usai membaca, saya menyadari ternyata itu tak sepenuhnya tepat. 

Kisah Aleva, Reggy, dan Diaz ini secara garis besar mencakup dua konflik utama. Pertama, tentu saja sudah bisa tertebak dari blurb; tentang Reggy yang memendam rasa pada Aleva dan bagaimana dia bimbang memilih mengutarakan di saat yang tepat atau menyimpan selamanya. Konflik ini ternyata jauh lebih ringan dan tak berbelit-belit seperti sangkaan saya. Bahkan bisa dibilang terlalu mudah penyelesaiannya. Konflik kedua—yang ternyata lebih kompleks—datang dari keluarga Aleva, khususnya ayah dan ibunya yang sudah bercerai tapi lantas rujuk kembali. Di sini jelas sekali emosi dan pertentangan yang terjadi antara Aleva, Diaz, ayah dan ibu mereka, yang mau tak mau melibatkan Reggy sebagai penengah. Saya sendiri geregetan dan tersulut emosi justru di bagian konflik ini. Penyelesaiannya cukup memuaskan dan logis. Meski demikian, yang menjadi nilai plus dari plot novel ini adalah cukup suksesnya penulis (dan proses penyuntingan) dalam menyatukan kesemua elemen tersebut menjadi cerita utuh dengan muatan pesan moral yang bagus.
Pada akhirnya pesan tentang makna mencintai yang sesungguhnya menjadi fokus utama cerita. Mencintai seseorang tak hanya bagian indahnya saja, tapi ada sisi pahit tatkala kita dihadapkan pada pilihan memaafkan kesalahan pasangan dan bersedia memberikan kesempatan kedua. Mencintai adalah tentang membuat pasangan bahagia, seberat apa pun itu kelihatannya.

Gambaran permasalahan keluarga dalam kisah ini juga umum kita jumpai di masyarakat. Seting kota Bandung mendukung tema cerita dan meskipun tak banyak dieksplorasi mendetail dari sisi spot menarik Bandung, namun aura kota besarnya cukup terasa. Deskripsi spot istimewa yang menjadi tempat rahasia Aleva dan Reggy menghabiskan waktu juga jadi poin plus, meskipun sederhana. Selain itu, sisipan lirik-lirik lagu favorit Reggy dan Aleva juga cukup menyatu dengan penokohan maupun alur kisah. Saya selalu suka penulis yang memerhatikan detail-detail semacam ini.

Jika kamu suka novel young-adult Indonesia dengan nuansa kisah romansa sekaligus keluarga, bacaan satu ini bisa jadi pilihan tepat. Kisah yang menghibur sekaligus mengingatkan akan banyak kebaikan dalam hidup.

Jumat, 13 April 2018

The Other Einstein: Sosok Wanita di Balik Ketenaran Albert Einstein

Posted by Melani Ivi | 9:11:00 AM Categories:
Judul buku             : The Other Einstein
Penulis                   : Marie Benedict
Pengalih bahasa    : Lulu Fitri Rahman
Penyunting             : Deesis Edith Mesiani
Penerbit                : Bhuana Sastra (imprint Penerbit Bhuana Ilmu Populer)
ISBN                     : 978-602-455-253-4
Tebal buku            : ix + 373 hlm.
Tahun terbit           : cetakan pertama, 2018

BLURB:
    Mitza Maric berbeda dengan perempuan kebanyakan. Sebagian besar gadis berusia dua puluh tahun menjalani takdir atau perannya sebagai istri atau ibu rumah tangga. Sebaliknya Mitza, dengan dukungan penuh ayahnya, belajar fisika di universitas elite Zurich bersama para mahasiswa laki-laki. Tapi Mitza cukup pintar untuk mengetahui bahwa, baginya, matematika atau sains adalah jalur yang lebih mudah daripada menikah.

    Seiring berjalannya waktu, Albert Einstein, teman kuliahnya, menaruh perhatian padanya, dan pilihan Mitza berubah. Mereka pun menikah, menjalin kemitraan pikiran dan hati. Tetapi sepertinya tidak ada ruang untuk lebih dari satu genius dalam sebuah pernikahan...

SINOPSIS:
    “Mitza, kau mirip benda-benda dalam salah satu penelitian Newton. Tanpa kenal lelah kau mempertahankan kecepatan, kecuali ada gaya luar yang memengaruhimu. Kuharap tak ada gaya luar yang bisa mengubah kecepatanmu.” (hlm. 50)

    Mileva ‘Mitza’ Maric adalah gadis sangat cerdas yang berasal dari keluarga Kristen-Ortodoks taat di Zagreb, Kroasia. Sebenarnya dia adalah anak ketiga orangtuanya, tapi kedua kakaknya telah tiada. Jadilah kemudian Mileva anak tertua yang sangat diharapkan papa mamanya. Namun karena kondisi fisiknya yang tak sempurna (pincang), Mileva menghapus keinginan untuk menikah layaknya perempuan muda pada umumnya. Sudah telanjur muncul persepsi bahwa perempuan dengan fisik sepertinya tak mungkin menikah. Oleh sebab itu, Mileva yang semenjak kanak-kanak sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata—terutama di bidang matematika dan fisika—menaruh harapan pada pendidikan. Dia didukung papanya menetapkan pilihan untuk mengejar ilmu dan pendidikan setinggi mungkin sebagai bekal berkarir di masa depan. Sang papa sendiri telah menjadi partner bertukar pikiran mengenai keilmuan semenjak Mileva kecil dan sangat menyayangi putrinya. Berbeda dengan sang mama yang cenderung keras dan kolot. Hingga tiba saatnya Mileva berkuliah di Jurusan Matematika dan Fisika, Politeknik Federal Swiss di Zurich. Diantar papanya, Mileva menapakkan kaki di negara yang terkenal modern dan berpandangan terbuka mengenai pendidikan untuk semua orang dengan membawa semangat sekaligus kegugupan. Di masa itu (sekitar tahun 1890-an), memang masih kental sentimen ras, etnis, agama, dan gender dalam banyak hal. Di asrama tempat tinggalnya (mirip rumah kontrakan dengan induk semang), Mileva diperkenalkan dengan tiga gadis seusianya yang juga perantauan dari negara-negara di luar Swiss untuk berkuliah. Meski awalnya ragu dan menjaga jarak karena berbagai kekhawatiran, Mileva pada akhirnya merasa diterima oleh ketiga kawan barunya. Bahkan, Helene menjadi yang paling akrab dan merasa sevisi mengenai rencana masa depan.

    Di kampus, tantangan yang sesungguhnya datang. Salah satu profesor sekaligus dosen utama terang-terangan memandang rendah pada Mileva karena gender dan asal negaranya. Selain itu, di kelas yang hanya berisi enam orang mahasiswa—yang kemudian biasa disebut Kelompok Enam, Mileva adalah satu-satunya mahasiswa perempuan. Meski demikian, Mileva bertekad akan gigih menunjukkan bahwa dirinya mampu dan layak berada di kelas yang sama dengan kelima mahasiswa pria tersebut.

    Seiring berjalannya waktu, Albert Einstein salah satu teman sekelas Mileva yang sedari awal menunjukkan sikap ramah ternyata menaruh perhatian lebih. Einstein terang-terangan memuji kecerdasan Mileva. Mereka lantas terlibat diskusi keilmuan yang makin memancing ketertarikan Einstein. Aksi pendekatan lain dilakukan Einstein dengan berkunjung tanpa diundang ke asrama Mileva. Hal ini tentu saja sempat mengundang keterkejutan, termasuk dari induk semang dan kawan-kawan seasrama Mileva. Tapi Einstein tak ambil peduli dan tetap rajin berkunjung dengan berbagai alasan. Selain itu, Einstein juga berusaha mengundang Mileva dalam diskusi santai rutin di Cafe Metropole bersama kawan-kawan mahasiswa pria. Sebuah undangan menggiurkan bagi Mileva, karena di masa itu menjadi pemandangan langka sekaligus sebuah kehormatan bagi mahasiswa perempuan sepertinya untuk terlibat dalam diskusi semacam itu. Hingga di suatu kesempatan piknik bersama ketiga kawan Mileva dan seorang kawan Einstein, Albert menyatakan perasaan sukanya pada Mileva. Tentu saja Mileva menolak, meski jauh di lubuk hatinya dia juga menyukai Albert. Untuk menenangkan pikiran, Mileva menghabiskan masa liburan musim panas di Kac, Serbia, menjauhi Albert. Bahkan Mileva memutuskan cuti kuliah dan justru berkuliah sementara di Universitas Heidelberg, Jerman dengan risiko ketinggalan banyak mata kuliah. Ketika akhirnya merasa siap kembali ke Zurich, ternyata keadaan telah banyak berubah.

    Helene yang disangkanya sevisi mengenai masa depan berkarir, ternyata memiliki kekasih yang agaknya serius. Sedangkan Milana dan Ruzica seolah menjauh dan kerap menghabiskan waktu di luar asrama, melewatkan berbagai kebersamaan mereka seperti dulu. Hal ini menjadi jalan bagi Einstein untuk kembali dekat dengan Mileva. Hingga Mileva pada akhirnya luluh dan mengubah sedikit rencana masa depannya. Dia dan Albert kerap menyatakan akan bahagia bersama dan menjadi pasangan bohemian yang bermitra dalam pemikiran dan hati. Di suatu kesempatan, Mileva diperkenalkan pada keluarga Einstein yang sedang berkunjung. Sayangnya, mama Albert terang-terangan tak merestui hubungan Mileva dengan putranya. Albert yang merupakan putra kesayangan berasal dari keluarga Yahudi Jerman, diharapkan memiliki pasangan dengan latar belakang sama dan bukan tipikal perempuan berpendidikan tinggi seperti Mileva. Namun Albert berhasil membesarkan hati Mileva. Hubungan dua sejoli yang sedang dimabuk cinta ini makin dekat hingga di kemudian hari Mileva diketahui hamil. Kabar ini menghancurkan hati sang papa, apalagi kala itu seharusnya Mileva fokus pada sidang skripsinya. Sedangkan Albert yang sudah lulus, masih sibuk mendapatkan pekerjaan tetap sehingga kabar ini tak mendapat respon sesuai harapan Mileva. Keduanya pun bahkan sempat terpisah karena keadaan. Mileva kembali ke kotanya dan melahirkan tanpa kehadiran Albert.

    Albert akhirnya mendapatkan kepastian mengenai pekerjaan tetap di Bern. Terpaksa menitipkan bayinya kepada sang mama, Mileva menyusul Albert ke Swiss untuk menikah sesuai kesepakatan bersama, itu pun setelah ketidakpastian yang panjang. Meskipun kecewa atas fakta tak bisa segera membawa serta bayinya, Mileva berusaha berpikir positif. Malangnya, sang putri kecil tak berumur panjang karena sakit. Kesedihan mendalam berbaur kekecewaan atas sikap tak peduli Albert sempat dirasakan Mileva, tapi kehadiran calon bayi kedua membuat Mileva bertahan dan memutuskan melanjutkan hidup. Pernikahan Mileva dan Albert pun dikaruniai dua anak. Kemitraan pikiran tetap terjalin, bahkan Mileva memberikan sumbangan pemikiran dan ide yang besar bagi karir keilmuan Albert, di tengah tugasnya mengurus rumah tangga dan keluarga. Mileva menjadi sosok di balik layar atas segala pencapaian Albert di bidang sains, termasuk ketika meraih Hadiah Nobel. Namun, prestasi tersebut berbanding terbalik dengan keharmonisan rumah tangga mereka. Sikap Albert yang tak menghargai istri dan tak segan melakukan kekerasan domestik pun memicu kehancuran. Bahkan Helene yang masih berhubungan baik dengan Mileva setelah sama-sama menikah, sempat terang-terangan membukakan mata Mileva atas sikap suaminya yang tak patut. Di titik inilah Mileva harus mengambil sikap; apakah akan bertahan dan berusaha memperbaiki keadaan atau menyerah atas pernikahannya setelah bertahun-tahun berjuang.

REVIEW:
    “Teori baruku tentang relativitas mengungkap bahwa waktu mungkin tidak memiliki kualitas tetap yang dipercayai Newton serta hampir setiap ahli fisika dan matematika generasi berikutnya. Tetapi filsuf yang bahkan lebih kuno, Seneca, jelas memahami satu aspek waktu dengan sempurna: “Waktu menyembuhkan apa yang tak bisa disembuhkan akal sehat.”” (hlm. 254)

    Sebelumnya, saya ingin membahas sedikit catatan penulis yang terdapat di bagian akhir buku. Rupanya tak hanya saya yang tak mengenal sosok Mileva Maric sebelum ini. Penulis sendiri baru mengenal sosok perempuan luar biasa ini ketika membantu tugas laporan anaknya. Dan secara mengejutkan, penulis menemukan fakta bahwa sebenarnya sosok Mileva telah lama menjadi fokus perdebatan di kalangan komunitas fisika terkait perannya dalam peletakan dasar teori Einstein yang fenomenal. Ditemukan juga surat-surat antara Einstein dan Miss Maric semenjak mereka masih mahasiswa. Novel/memoir ini pun akhirnya ditulis lewat riset panjang berdasarkan sumber-sumber yang digali penulis terkait kehidupan keduanya. Sedapat mungkin penulis mengisahkan sesuai keadaan sebenarnya. Rekaan hanya diciptakan seperlunya, termasuk jika tidak terdapat sumber terpercaya mengenai peristiwa atau detail fakta tertentu.
    Penulis yang berprofesi sebagai pengacara memang cukup jauh berbeda latar belakang keilmuan dengan Mileva Maric, namun keduanya sama-sama sosok wanita cerdas, memiliki dedikasi terhadap bidang keilmuan masing-masing, dan pernah mengalami dilema antara menjadi istri dan ibu dengan mengejar impian pribadi. Menurut saya, hal tersebut cukup memengaruhi keberhasilan Marie Benedict dalam menulis kisah Mileva ini menggunakan POV orang pertama. Terkait bahasan berbagai teori fisika dan matematika sepanjang buku ini, karena menggunakan format novel, akhirnya tidak terkesan ‘berat’ dan membosankan. Porsinya pas untuk menggambarkan karakter Mileva sekaligus menyatu dengan alur dan plot cerita.

    Riset yang baik pun tercermin dari kepiawaian penulis menggali latar belakang keluarga Mileva, bagaimana sosok papa dan mamanya, juga lingkungan tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Seting Swiss di tahun 1890-an hingga 1900-an yang mendominasi cerita pun terdeskripsikan dengan baik. Tentang bagaimana dunia pendidikan di sana, gaya hidup para mahasiswa, pandangan umum masyarakatnya tentang berbagai isu sosial kala itu, hingga deskripsi keindahan alam dan arsitekturnya. Saya diajak menyelami kehidupan di era yang berbeda dengan era modern sekarang tanpa merasa kesulitan.

    Karakter Albert Einstein sendiri tergambar jelas disertai detail-detail penting terkait keluarganya, kewarganegaraannya, idealismenya mengenai sains, sosok-sosok idolanya, ambisinya, hingga karakter personal yang nyatanya cukup banyak yang mengejutkan. Selama ini saya hanya mengenal Einstein sebagai sosok yang disegani di dunia sains hingga banyak yang mengidolakan. Usai membaca buku ini, saya memandangnya secara lebih manusiawi, dalam artian sebagai manusia biasa Einstein pun tak lepas dari kekurangan dalam karakter personal. Dia juga pria biasa yang bisa jatuh cinta berawal dari kekaguman akan kecerdasan lawan jenis, juga bisa labil dan egois karena pengaruh bagaimana orangtua membesarkan dan posisinya dalam keluarga. Terlepas dari kelebihannya dalam mencintai sains, Einstein juga bisa menunjukkan kurangnya rasa penghargaan dan cinta terhadap wanita yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Hal ini diperparah oleh sikap Mileva yang seolah sukarela mengorbankan diri demi memenuhi ambisi sang suami. Tanpa mengecilkan kiprah Albert Einstein di dunia sains, Marie Benedict berhasil membukakan mata saya akan sisi lain dari tokoh fenomenal ini, sekaligus mengenalkan pada saya sosok wanita hebat yang selama ini tertutupi bayang-bayang besar Einstein.

    Buku dibagi menjadi tiga bab besar yang mewakili tiga fase utama kehidupan Mileva. di tiap pembuka bab dituliskan teori-teori sains dari Isaac Newton, tokoh yang diidolakan Mileva Maric dan Albert Einstein. Alur maju yang mendominasi—dengan sesekali kilas balik yang dituturkan Mileva—mampu merunutkan kisah dengan apik. Plotnya rapi dan logis, mengungkap lapis demi lapis konflik, satu per satu peristiwa yang memengaruhi jalan hidup seorang Mileva Maric. Konflik yang kompleks berkaitan dengan latar sosial dan politik kala itu, perbedaan pandangan antarpersonal dan antarkeluarga, pergulatan batin tokoh utama, hingga pertentangan kepentingan antartokoh. Berkat penuturan yang luwes sekaligus mampu menyentuh emosi pembaca, saya bisa turut merasakan bahagia, antusias, hingga sakit hati, sedih, dan kecewa, seperti yang dirasakan Mileva sebagai pencerita. Penuturan Mileva di bagian epilog pun menjadi penutup yang sangat berkesan bagi saya. Narasinya bernada ilmiah sekaligus indah dan benar-benar mewakili segala emosi yang dirasakan Mileva sepanjang kehidupannya bersama Albert Einstein. Sebuah penutup yang sempurna.

    Jika kamu mendambakan pengalaman baca yang beda sekaligus menginspirasi, saya sangat merekomendasikan buku ini. Buku yang ditulis tak hanya dengan pemikiran mendalam tapi juga dengan hati. Lewat buku ini saya juga diajak memahami bahwa cinta dan kesamaan minat saja tak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Butuh komitmen untuk saling menghargai dan tetap memberikan ruang bagi pasangan untuk menjadi diri sendiri dan mencintai dirinya sendiri. 

"Setiap benda akan tetap diam, atau bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan tetap, kecuali dipaksa berubah dengan gaya luar yang diberikan kepada benda tersebut."
--Sir Isaac Newton

   
   
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube