Previous Next
  • Kacamata Sukses Ibu: Bahagia dengan Konsep Ikhlas

    “... jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi supermom yang tanpa cela, ... cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangan namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah ....”

  • Finally ( I Choose) You

    Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu. ...

  • Ibu Sang Matahari Kami

    Ibu. Satu kata panggilan yang pasti sangat akrab di telinga anak manusia mana pun di dunia. Siapa yang terlahir ke muka bumi tentulah beribu, memiliki sesosok wanita yang mengantarkan kehadiran ke dunia fana. Rahim seorang ibulah yang dititipi Sang Khaliq sebagai tempat berdiam, berlindung, sebelum siap menyongsong kehidupan yang rentan akan ujian ...

  • Baik Atau Sholihah

    Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangan dengan merasa benar sendiri ...

Senin, 25 September 2017

[RESENSI] Aftertaste: Tentang Rindu Yang Menanti Bertemu

Posted by Melani Ika Savitri | 9:10:00 AM Categories:

Judul       : Aftertaste
Penulis    : Sefryana Khairil
Editor       : Tesara Rafiantika
Penerbit  : Gagasmedia
Cetakan   : pertama, 2017
Tebal        : viii + 364 hlm; 13 x 19 cm


BLURB:

Narend
    Buatku, memberikan kesempatan kedua hampir tak mungkin. Untuk apa membuka kemungkinan bagi kekecewaan yang lain? Hati yang benar-benar patah tak perlu berulang-ulang, bukan? Namun, kali ini rasanya berbeda. Hanya saja, aku bahkan tak lagi percaya cinta dan kisah romansa itu nyata.

Farra
    Aku tak pernah merencanakan menjatuhkan hati kepadanya. Tidak juga pada sikapnya yang sedingin es itu. Setiap saat bersamanya membuatku selalu bertanya-tanya juga berangan-angan tentang cinta. Lalu, tiba-tiba ketakutan akan harapan kosong melandaku, lagi dan lagi. Sudah kucoba untuk menepikan segala rasa. Namun, terkadang, hati dan keinginan tak selalu sejalan.
   
    Aftertaste mengisahkan dua orang chef yang saling jatuh cinta, tetapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Masa lalu membuat mereka enggan membiarkan hati berbicara, meskipun mereka tahu tak akan sanggup untuk saling melepaskan.

SINOPSIS:

    “Kamu tahu, apa yang susah saat memasak?” Narend menatap Farra.
    “Mmm... membuat makanan itu enak?” sahut Farra.
    Narend menggelengkan kepala. “Bukan itu. Tetapi, gimana kita mencampur bumbu-bumbu. Kadang rasa itu bisa berbenturan, sulit disatukan, tapi kalo kita bisa, rasanya pasti enak banget.”
(hal. 216-217)

    “Seseorang yang mencintai dengan tulus, pasti mengikhlaskan apa pun untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.” (hal. 337)

    Farra memasukkan lamaran sebagai cook assistant ke restoran Bellaria usai berhenti bekerja di kafe Delicio—lebih tepatnya terpaksa berhenti karena kafe bangkrut dan tutup. Bellaria merupakan restoran masakan Italia ternama sejak Chef Windu Mahardika mendirikannya enam belas tahun lalu. Setelah Chef Windu meninggal dua tahun lalu, Bellaria diteruskan oleh kedua putranya, Chef Narendra Mahardika sebagai kepala koki dan adiknya Prayata Mahardika yang mengelola manajemen restoran.

    Chef Narend pernah menjadi celebrity chef dan memiliki hubungan asmara dengan Chef Cindy Endria yang menjadi rekan di acara televisi. Namun, hubungan mereka kandas dan semenjak itu Chef Narend bersikap dingin, kasar, dan cenderung kejam di dapur terhadap para bawahannya. Sikapnya inilah yang memicu kekhawatiran Farra saat memutuskan melamar ke Bellaria. Tak seorang pun tahu bahwa Chef Cindy mencampakkan Chef Narend sesudah Chef Narend divonis mengidap suatu penyakit parah. Chef Narend yang sakit hati dan putus asa akhirnya tak lagi memercayai orang lain, menganggap pada akhirnya mereka akan meninggalkannya, sama seperti Chef Cindy. Hubungan Chef Narend dengan Prayata adiknya sendiri pun tak dekat. Mereka sempat bertahun-tahun hidup terpisah akibat perceraian orangtua mereka. Chef Narend ikut Chef Windu, sedangkan Prayata hidup bersama sang ibu. Prayata pun menjaga jarak dengan kakaknya karena Narend terlihat tak ingin dicampuri urusan pribadinya. Prayata memiliki karakter yang cukup jauh berbeda dari sang kakak. Praya lebih memilih mengejar passion dalam bermusik ketimbang mengikuti jejak sang ayah menjadi koki profesional. Praya memiliki sebuah band dan kerap mendapat tawaran manggung di kafe, klub, maupun acara-acara pribadi. Praya juga lebih ramah dan hangat, bahkan pada para pegawai Bellaria.

    Di awal, Narend sempat menolak keras saat tahu Farra yang notabene perempuan diterima bekerja di dapurnya. Semenjak putus dengan Cindy, Narend membuat peraturan tak tertulis yang melarang pegawai perempuan masuk dapurnya. Namun, berkat negosiasi dari Praya, Farra tetap diterima, apa lagi melihat potensi yang dimilikinya. Insiden-insiden tak menyenangkan juga sempat terjadi di dapur Bellaria, tapi berkat kegigihan, Farra berhasil melalui. Hingga suatu hari, sebuah insiden kecelakaan membuat Farra harus dibawa ke rumah sakit dan Narend tak disangka langsung turun tangan. Perhatian Narend ini sontak membuat Farra senang. Di sini juga mulai tumbuh benih cinta yang diawali dari kekaguman. Sedangkan di lain pihak, Praya ternyata juga menaruh hati pada Farra. Praya acapkali tak segan menunjukkan perhatian khusus pada Farra.

    Suatu saat, tanpa disengaja, Farra yang mencemaskan Narend karena tak masuk kerja lantas mengunjungi apartemen, menemukan rekam data medis Narend dan mengetahui penyakit yang Narend tutup-tutupi. Semenjak itulah, Farra makin peduli dan berusaha membangkitkan semangat Narend. Farra juga akhirnya mengetahui penyebab merenggangnya hubungan Narend dan Praya dan bertekad membantu mereka kembali dekat. Sayang, pada kenyataannya, Farra teralihkan oleh perasaan cintanya dan menjadi terfokus pada Narend saja. Praya yang mulai menangkap sinyal kedekatan spesial anatara kakaknya dan Farra merasa cemburu. Praya pun terang-terangan menyatakan perasaannya pada Narend dan mengultimatum agar Narend tak mempermainkan Farra.

    Narend sendiri perlahan-lahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Farra. Sifat Farra yang ceria, selalu bersemangat, dan perhatian membuatnya tergugah. Hingga saat dia menyadari rasa sayangnya, Narend tak rela Praya memiliki Farra. Narend kemudian menemukan cara untuk membantu Farra mewujudkan mimpi. Narend menawari Farra mengikuti sebuah kompetisi memasak bergengsi untuk para koki muda, dengan hadiah utama beasiswa ke luar negeri. Dengan membawa nama Bellaria, jadilah Farra setuju mengikuti ajang tersebut. Tak diduga, Cindy yang sempat menyaksikan kedekatan Narend dan Farra tersulut cemburu dan mendadak memutuskan ikut berkompetisi di ajang yang sama. Padahal, kalaupun mau, dia bisa saja sekolah dengan biaya sendiri. Selain itu, Cindy sudah bertunangan dan sedang merencanakan pernikahan.

    Di saat kompetisi memasuki babak yang paling menentukan, mendadak Narend menghilang. Dia tak memenuhi janji untuk menghadiri kompetisi dan memberikan dukungan. Praya juga bertanya-tanya tentang keberadaan kakaknya. Hingga saat itu, dia sama sekali tak diberitahu mengenai kondisi kesehatan Narend. Barulah saat Hari yang merupakan sahabat dekat Narend mengabari keberadaan Narend, Praya tahu segalanya.

REVIEW:

Menggunakan POV orang ketiga, novel yang kental dengan nuansa kuliner Italia dan kehidupan para chef profesional ini hendak mengajak kita menyelami emosi dan konflik antar tokohnya. Kak Sefryana Khairil menurut saya sukses menggambarkan tentang kuliner Italia, membuat saya terpancing rasa lapar setiap kali ada adegan memasak. Bagaimana kedisiplinan di dapur restoran diterapkan juga tergambarkan dengan baik. Ditambah lagi, judul-judul bab yang menggunakan istilah bahasa Italia dan ilustrasi foto monokromnya yang cantik. Juga ada selipan lagu-lagu dari Sia dan The Script—yang mana merupakan musisi favorit saya—yang juga menjadi daya tarik tersendiri.

 Cinta, mimpi, dan harapan merupakan jiwa dari cerita ini. Karakter dari Chef Narend menurut saya cukup menantang. Dihadapkan pada vonis sakit, dicampakkan kekasih, tanggung jawab pekerjaan, sekaligus hubungan tak dekat dengan satu-satunya adik adalah konflik batin yang menurut saya memang rumit. Tak heran, bagi saya, sosok Narend ini antara mengundang simpati tapi juga benci. Simpati karena dia merasa kesepian tapi tak sudi mengakui, sekaligus benci karena dia bersikap egois pada akhirnya, berdalih kondisi kesehatan dan perasaan sayang. Sedangkan sosok Farra yang ceria dan berbakat menjadi semacam daya tarik bagi Narend dan Praya. Latar belakang keluarga Farra yang hangat dan harmonis juga turut mendukung cerita. Praya sendiri, sebenarnya memendam kesedihan dan bayangan kekecewaan akan masa lalu keluarganya, namun dia bersikap tegar dan menyimpan semuanya sendiri. Yang saya sukai dari Praya adalah sikapnya yang dewasa dan penyayang. Kelihatan sekali dia menyayangi kakaknya, meskipun hubungan mereka tak dekat.

Yang saya sayangkan dari cerita ini adalah minimnya interaksi antara Narend dan Praya. Mereka kerap hanya mengobrol tentang pekerjaan. Padahal banyak hal yang ingin disampaikan keduanya, semacam rekonsialiasi dan mencurahkan perasaan atas apa yang tejadi di masa lalu. Saya mengharapkan ada satu-dua adegan emosional terkait perasaan keduanya sebagai kakak-adik, bukan cuma sebatas memperebutkan cinta Farra, dan tidak hanya di bagian akhir. Pada akhirnya saya justru merasa lebih memihak Praya ketimbang Narend dan Farra, yang di mata saya bersikap egois. Farra sendiri tahu tentang rahasia Narend dan tahu juga bagaimana rasa sayang Praya terhadap sang kakak, tapi dia justru ‘dibutakan’ oleh cinta dan pada akhirnya melupakan keinginannya membantu memperbaiki hubungan kakak-beradik tersebut. Meski demikian, ada beberapa adegan di bab akhir yang memang sukses menguras emosi dan membuat saya menitikkan air mata. Masih terdapat typo dan kekurangtelitian sepanjang cerita yang cukup saya sayangkan juga. Dan, meski terlihat sepele, menurut saya kutipan-kutipan kalimat yang dicetak tebal dan bertaburan di sepanjang peralihan paragraf dalam satu chapter itu kurang perlu. Bagi saya, kutipan di awal bab atau chapter saja sudah cukup.

Secara keseluruhan, Aftertaste digarap dengan apik dan menyajikan topik yang menarik. Kalian yang suka membaca kisah romansa sekaligus menyukai dunia kuliner Italia, akan dimanjakan oleh  berbagai resep menggiurkan sekaligus kisah yang mengaduk-aduk emosi dan meninggalkan kesan mendalam jika membaca novel yang satu ini.

“Bukankah mencintai adalah merelakan orang yang kita cintai itu bahagia, tanpa rasa sakit?”

Jumat, 15 September 2017

[RESENSI] Sayap-Sayap Kecil: Remaja dan Kekerasan Domestik

Posted by Melani Ika Savitri | 6:49:00 AM Categories:

Judul               : Sayap-Sayap Kecil
Penulis            : Andry Setiawan
Penyunting     : Yooki
Penerbit          : Inari
Cetakan          : pertama, Oktober 2015
Tebal               : 124 hlm; 19 cm


BLURB:  
       
Para pembaca. Berikut fakta singkat tentang diriku:
1.    Namaku Lana Wijaya
2.    Ibuku suka memukul dan menyiksaku, bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk
3.    Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah
4.    Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku
5.    Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.


SINOPSIS: 

“Dia ibuku, orang yang melahirkan diriku. Walaupun aku tidak bisa menghormatinya, atau menganggapnya sebagai panutan, aku tidak bisa membencinya. Dia hanyalah... dia. Mungkin bagiku dia hanyalah orang lain, seperti orang yang kau temui di pinggir jalan dan kemudian kau lupakan wajahnya begitu saja.” (hal. 33)

“Aku harus memikirkan definisi normal bagi diriku, karena kata itu terlalu abstrak untuk direalisasikan. Aku masih belum tahu kehidupan normal seperti apa yang aku inginkan.” (hal. 72)

 “Jadi menurutmu aku harus bahagia dengan Ayah yang datang lagi dalam kehidupanku?” “Karena kau bakal punya keluarga selain ibumu.” (hal. 79)

Lana, gadis 16 tahun, tinggal bersama ibunya semenjak perceraian sang ibu dengan ayahnya lima tahun lalu. Ibunya bekerja di klub malam, pulang pagi dan tidur selama Lana bersekolah. Lana lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak sebelum ke sekolah. Tapi, serajin dan sepatuh apa pun Lana, ibunya tetap gemar memaki bahkan memukulinya. Alhasil, Lana harus pintar menyembunyikan bekas pukulan yang diperolehnya agar tak seorang pun di sekolah mengetahui. Lana tak memiliki sahabat dekat tapi dia selalu berusaha tampil normal dan ceria di hadapan teman-temannya. Lana tak pernah menceritakan kehidupannya yang suram kepada siapa pun, kecuali ditulis di buku harian. Cita-citanya hanya satu: lekas lulus sekolah dan mencari kerja sehingga bisa hidup mandiri terlepas dari ibunya. Dan meskipun menderita, Lana tetap jadi gadis baik dan hobi memetik gitar sambil menciptakan lagu.

Suatu hari, di atas aula, di bawah tangki air sekolah, yang menjadi tempat kesukaannya, Lana berkenalan dengan seorang pemuda yang mengaku sebagai kakak kelasnya bernama Surya. Surya tinggal sendirian dengan orangtua di luar kota. Ajaibnya, rumah yang ditempati Surya ada di sebelah rumah Lana. Semenjak itulah Lana sering mengobrol dan pulang bersama Surya. Kepada Surya, Lana akhirnya berani mengungkapkan kisah hidupnya.

Sayangnya, kebahagiaan memiliki teman baru yang tampan dan baik itu tak serta merta membuat kehidupannya lebih baik. Sang ibu masih tetap temperamental, bahkan kemudian Lana ketahui perangai itu diperburuk konsumsi obat terlarang yang didapatkan di tempat kerjanya. Suatu hari, seseorang yang mendengar tindakan kekerasan ibu Lana, melaporkan hal itu kepada KPAI. Pelaporan itu ditindaklanjuti dengan penelusuran keberadaan ayah Lana. Ternyata, sang ayah yang selama ini mencari Lana telah memiliki keluarga baru yang bahagia dan dia bekerja sebagai editor sebuah penerbitan. Ayahnya bahkan sempat menghubungi Lana dan meminta bertemu. Sang ayah berencana mengambil alih hak asuh dan membawa Lana tinggal bersamanya. Namun, tak disangka, Lana menolak dan meminta waktu beberapa tahun lagi sampai bisa mandiri dan membalas budi pada sang ibu yang bagaimanapun telah bersusah payah membesarkannya selama ini.

Ketika keputusan itu telah diambil, Lana ingin menceritakannya pada Surya, tapi alangkah terkejut Lana ketika menemukan fakta bahwa Surya tak seperti pengakuannya. Dia bahkan tak menjumpai Surya di mana pun, bahkan di sekolah dan di rumah sebelah. Di lain sisi, Lana juga sempat menemui Bos Rudi, bos klub malam di mana ibunya bekerja dan meminta agar ibunya tidak lagi diberi kesempatan mengonsumsi obat-obatan terkutuk. Tindakan ini langsung memantik kemarahan sang ibu usai mendengar pengakuan bosnya. Lana lagi-lagi dipukuli, kali ini bahkan jauh lebih buruk dari biasanya. Ketika itulah Surya muncul dengan membuat pengakuan mencengangkan. Surya menawarkan dua pilihan sulit untuk Lana.


REVIEW:

“Dunia malam merusakmu. Karena itulah aku ingin keluar. Dunia itu penuh iri hati dan kekerasan. Aku rasa dunia itu memang cocok untukmu.” (hal. 121)

“Beberapa orang diciptakan untuk menjadi jahat. Mungkin Ibu salah satunya. Setidaknya aku sudah punya keberanian untuk mengambil sebuah keputusan, untuk memberinya kesempatan belajar.” (hal. 122)

Sudah banyak novel remaja beredar yang umumnya berlatar kehidupan sekolah, kisah cinta pertama, dan tak jarang disisipi konflik keluarga dan persahabatan. Namun, saya tidak mendapati tipikal kisah tersebut dalam novel ini. Kehidupan sekolahnya sengaja tidak dijadikan fokus cerita, pun kisah persahabatan dan kenakalan masa remaja. Tema utama yang diangkat justru konflik keluarga yang diwarnai kekerasan fisik dan verbal pada anak.

Karakter Lana sebagai tokoh utama, dengan penggunaan sudut pandang orang pertama, menjadi tereksplor dan mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Yang saya salut, penulis tidak menampilkan Lana sebagai sosok gadis remaja cengeng yang gemar mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bahkan di tengah aksi kekerasan ibunya, digambarkan Lana tetap berusaha sabar, mengubahnya menjadi lelucon dan menertawai diri sendiri. Gaya tulisannya—yang cenderung sarkastis dan ironis—dalam buku harian menggambarkan hal ini dengan cukup baik.

Sedangkan kehadiran Surya, menjadi semacam twist yang menyuguhkan kejutan bernuansa fantasi di akhir cerita. Sosoknya sempurna, sekaligus misterius, menggiring pembaca untuk menebak bahwa kisah Lana akan dibumbui nuansa kisah cinta ala remaja. Tokoh ibu dan ayah Lana sendiri, meskipun hanya digambarkan lewat pandangan Lana, menurut saya sudah cukup bisa mewakili karakter yang hendak disampaikan penulis. Suram dan kerasnya kehidupan malam menjadi alasan di balik perpisahan keduanya sekaligus buruknya karakter sang ibu. Kisah ini seakan mengingatkan kita bahwa gemerlap materi sekaligus kerasnya kehidupan memaksa seseorang berubah tanpa mereka sadari dan berdampak negatif pada hubungan dengan orang-orang terdekat. Juga bahwa setiap orang berhak memilih dan memiliki kehidupan layak, siapa pun dia, dan agar kita lebih peduli akan tindak kekerasan domestik, yang bisa saja terjadi di dekat kita. Jika kamu ingin bacaan remaja yang berbeda, novel mengharukan ini sangat tepat dipilih.
   






[RESENSI] Purple Eyes: Cinta dan Harapan Bahkan Setelah Kematian

Posted by Melani Ika Savitri | 6:43:00 AM Categories:


Judul            : Purple Eyes
Penulis         : Prisca Primasari
Penyunting  : Cerberus404
Penerbit       : Inari
Cetakan       : pertama, Mei 2016
Tebal            : 144 hlm; 19 cm


BLURB:

Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju.

Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.


SINOPSIS:

“Lyre pikir urusan itu akan berjalan lancar,tenang, dan baik-baik saja seperti misi-misi yang dulu dijalani Hades seorang diri. Rupanya Lyre salah. Urusan itu sedikit terhambat, membuat Hades uring-uringan, kesal, dan luar biasa jengkel. Karena selagi menjalankan misi tersebut, Lyre jatuh cinta. Kepada manusia.” (hal. 6)

“Pergi ke bumi dan menghabisi nyawa pendosa tidak segampang kedengarannya... Kematian harus dirancang dengan selogis mungkin, dan itu jugalah yang akan Hades lakukan sekarang.” (hal. 13)

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar,” ujar Halstein lagi. “Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” (hal. 50)

Lyre sudah lupa nama aslinya. Semenjak 120 tahun lalu, setelah kematiannya di usia muda, Lyre ditugasi menjadi asisten Hades, sang dewa kematian bersayap dan menjalani rutinitas yang monoton. Hingga suatu masa, turun perintah agar Hades turun ke bumi membereskan sebuah masalah. Masalah itu disebabkan oleh satu manusia bodoh yang membunuhi banyak manusia lain dan mengambili lever para korbannya. Kali ini Hades meminta Lyre menemaninya. Tujuan mereka adalah kota Trondheim, Norwegia, yang kala itu sedang sangat dingin dan bersalju. Hades mengubah namanya menjadi Herr Halstein, dan Lyre menjadi Solveig. Mereka mengunjungi rumah Ivarr Amundsen. Adik Ivarr, Nikolai, adalah salah satu dari korban pembunuhan. Awalnya Solveig bingung apa tujuan Halstein menarget Ivarr dan bagaimana rencana misi mereka akan dijalankan. Agaknya Halstein sengaja memancing keluar segala emosi yang sengaja ‘disembunyikan’ oleh Ivarr dengan membuatnya jatuh cinta kepada Solveig. Barulah rencana membereskan sang pembunuh akan berhasil.

Sayangnya, membuat Ivarr kembali ‘merasa’ bukanlah perkara gampang. Ivarr yang juga sedang berjuang menghadapi penyakitnya ibarat patung lilin, seolah tak memiliki perasaan dan tak menunjukkan ekspresi. Namun berkat kegigihan Solveig, perlahan Ivarr mulai tertarik pada Solveig yang tampak tak seperti gadis-gadis yang pernah dikenalnya. Ketika Ivarr mulai percaya pada Solveig, Halstein sengaja megungkap rahasia tentang identitas pembunuh adiknya dan mendorong Ivarr untuk membalaskan kematian Nikolai. Halstein ingin segera mengakhiri misi dan membuat skenario kematian sang pembunuh selogis mungkin.

Begitu misi dianggap selesai, Halstein dan Solveig harus kembali. Ivarr yang ditinggalkan berusaha mencari tahu kebenaran tentang sosok Solveig hingga rela terbang ke Inggris, yang diyakininya merupakan tanah kelahiran Solveig. Bahkan jika kenyataan yang akan dijumpainya pahit, Ivarr ingin mengenang Solveig.


REVIEW:

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.” (hal.117)

“Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati.” (hal. 123)

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” (hal. 124)

Siapa mengira novel tipis ini tidak sekadar cerita roman biasa? Memadukan tema mitologi dan cinta adalah sesuatu yang memang disukai penulis. Hades, sang dewa kematian yang menjadi tokoh utama kisah ini berhasil mencuri perhatian saya sejak awal cerita. Penggambaran Hades yang sangat rupawan, dengan aura yang gelap dan mengintimidasi, sepasang sayap yang luar biasa indah, dan sikapnya yang dingin sekaligus nyentrik tentu saja mudah disukai pembaca. Saya tertawa di bagian adegan ketika Hades bersiap menyamar dan turun ke bumi. Alih-alih mengenakan pakaian ‘membaur’, dia justru memilih tuksedo putih bak pengantin pria. Dan dia sangat percaya diri. Tepat sekali sebagai gambaran sosok dewa kematian. Sedangkan Lyre sendiri yang dikisahkan berasal dari Inggris, berwajah cantik aristokratis, bermata cokelat indah, dan berambut pendek disertai sifat penurutnya meskipun tak sampai menjadi favorit atau heroine, tapi saya akui pas dengan perannya dalam cerita. Tak lupa sosok Ivarr Amundsen yang tampan, bermata biru gelap nyaris ungu, sangat pendiam dan tertutup, menggelitik rasa ingin tahu dan membuat cukup gemas dengan sikapnya. Penggambaran karakter Nikolai dan kedekatan kakak-beradik ini lewat cerita-cerita Ivarr membuat saya akhirnya bisa memahami Ivarr.

Setting kota bernuansa Skandinavia yang futuristik, yang suram dengan salju, cuaca dingin dan berbadainya memang sebuah pilihan yang tepat. Apa lagi penulis menyisipkan topik mitos, sejarah, sastra dan seni lewat adegan jalan-jalan singkat dan obrolan antara Ivarr dan Solveig yang terkesan mengalir.

Meskipun saya ingin lebih lagi dari penulis (mengingat bukunya terlalu tipis), tapi saya cukup puas dengan keseluruhan eksekusinya. Tak banyak penulis tanah air yang memiliki kecenderungan gaya bercerita seperti ini. Sebuah kisah yang ironis, menghangatkan hati dalam suasana kota yang beku dan muram. Saya sangat menantikan karya keren lain dari Kak Prisca. Akankah ada kisah lain tentang Hades?


Selasa, 12 September 2017

[RESENSI] Attachments: Jatuh Cinta Sebelum Pandangan Pertama

Posted by Melani Ika Savitri | 5:26:00 AM Categories:

Judul              : Attachments
Penulis          : Rainbow Rowell
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting  : Novianita
Penerbit       : Spring
Cetakan       : pertama, Desember 2015
Tebal            : 436 hlm; 20 cm


BLURB:

    Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat ia melamar pekerjaan sebagai petugas keamanan Internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

    Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. Hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. Mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

    Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan.

    Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan.

    Lagi pula, apa yang bisa ia katakan...?

SINOPSIS:

    “Sebagai catatan—catatan pribadi—Lincoln tidak akan pernah melamar untuk pekerjaan ini kalau iklan lowongannya berbunyi,”Dicari seseorang untuk membaca E-mail orang lain. Sif malam.”
    “Pada iklan The Courier tertera: “Kesempatan bekerja penuh waktu sebagai petugas keamanan Internet. $40K + Tunjangan kesehatan dan gigi.”
(hal. 16)

    “Hal paling buruk tentang akses Internet, sejauh yang dipedulikan atasan Greg, adalah bahwa saat ini mustahil untuk membedakan satu ruangan berisi orang-orang yang benar-benar tekun bekerja, dengan ruangan berisi orang-orang yang hanya sibuk mengisi kuis kepribadian online ‘Anjing-Jenis-Apakah-Aku?’” (hal. 17)

    “Ia tidak akan pernah mengirimkan peringatan kepada mereka. Karena dia menyukai mereka. Karena menurutnya mereka baik dan pintar dan lucu. Benar-benar lucu—kadang mereka membuatnya tertawa terbahak-bahak di meja kerjanya. Ia menyukai saat mereka saling menggoda dan saling peduli terhadap satu sama lain. Ia berharap bisa memiliki teman di tempat kerja yang bisa diajak mengobrol seperti itu.” (hal. 86)

    Lincoln, seorang lelaki muda 28 tahun, bekerja sebagai petugas keamanan Internet di surat kabar The Courier. Dia menghabiskan sebagian besar waktu kerjanya di ruangan kantor Teknologi Informasi di lantai bawah. Nyaris tak seorang pun reporter, copy editor, atau karyawan lain yang mengenalnya, karena ruang kantornya yang terpisah itu dan sif malamnya selama bekerja. Di malam kerja pertamanya, Lincoln membantu Greg, atasannya, memasang program baru bernama WebShark ke jaringan komputer. WebShark akan mengawasi yang dilakukan semua karyawan di Internet dan jaringan Intranet. Setiap E-mail. Setiap website. Setiap kata. Lalu Lincoln yang mengawasi Webshark dan setiap E-mail yang diberi bendera merah oleh WebShark seharusnya dikirimi peringatan, bahkan Lincoln diperbolehkan mengecek isinya. Program komputer ini dilatarbelakangi kegelisahan para petinggi surat kabar akan penyalahgunaan fasilitas Internet oleh karyawan. Tahun 1999 akhir memang menandai akan datangnya era milenium di mana kehadiran Internet bagaikan pisau bermata dua, tak terelakkan namun bisa berdampak negatif. Tugas yang tampak remeh dan tak sesuai dengan bayangan Lincoln ini sempat membuatnya merasa jenuh, seakan makan gaji buta, bahkan pola hidupnya terganggu. Lincoln yang masih tinggal serumah dengan ibunya kerap mendapat teguran gara-gara penampilannya yang berantakan dan seolah tak punya waktu bersosialisasi layaknya orang normal.

    Lincoln lantas memutuskan menemui kembali Justin, kenalan lamanya semasa kuliah, agar bisa menghabiskan malam, bersenang-senang di bar mana pun. Sayangnya, rencana itu berantakan. Kemampuan bersosialisasi Lincoln yang memang payah, plus karakternya yang canggung dan pemalu membuatnya kehilangan kesempatan berkenalan dengan seorang gadis. Sebenarnya Lincoln bukannya tak memiliki teman. Dia biasa menghabiskan Sabtu malam bermain Dungeons & Dragons bersama Dave, Christine, Larry, Rick, Troy, dan Teddy, yang merupakan kawan-kawan karibnya.

    Hingga E-mail rutin berisi percakapan-percakapan bersifat pribadi antara Beth dan Jennifer terjaring bendera merah WebShark. Anehnya, Lincoln yang sempat membaca isinya justru enggan mengirimi mereka peringatan. Sebaliknya, dia ketagihan membaca setiap E-mail yang saling mereka kirimkan. Beth bekerja di bagian resensi film dan menulis artikel atau isu-isu terkait perfilman, sedangkan Jennifer adalah seorang copy editor. Dari percakapan-percakapan keduanya, Lincoln perlahan mengetahui banyak hal pribadi tentang kedua wanita itu. Beth memiliki kekasih seorang gitaris band Sacajawea dan mereka telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun semenjak kuliah, juga naik-turun hubungan Beth dan kekasihnya. Jennifer telah menikah dan kerap mengungkapkan ketakutannya tentang hamil dan memiliki anak akibat latar belakang perceraian orangtuanya yang diwarnai perselingkuhan. Entah mengapa, Lincoln menganggap Beth dan Jennifer lucu dan baik, terutama Beth yang menarik perhatiannya. Bahkan Lincoln suatu hari memuaskan keingintahuannya tentang Chris kekasih Beth, menyempatkan diri menonton pertunjukan band Chris bersama Justin. Ketertarikan Lincoln terhadap Beth ini semakin kuat hingga dia mulai mencuri lihat meja kerja Beth, bertanya-tanya seperti apakah wajah Beth. Sayangnya, Lincoln tak kunjung menemukan momen yang mempertemukannya dengan Beth.

    Tanpa disangka, suatu hari Lincoln menemukan fakta bahwa Beth telah melihatnya dan bahkan terang-terangan menunjukkan rasa suka. Beth menjuluki Lincoln ‘cowok manis’, memuji fisiknya yang tinggi, dan wajahnya yang dianggap mirip beberapa aktor Hollywood.. Tentu saja hal ini membuat Lincoln melambung, walaupun di lain sisi dia menyadari status Beth yang telah memiliki kekasih. Di hari-hari lain, dalam E-mail percakapannya dengan Jennifer, Beth bahkan sempat melihat lagi Lincoln, berusaha membuntutinya, dan juga pernah tanpa sengaja melihat Lincoln di luar kantor. Lincoln yang makin penasaran bertanya-tanya seperti apa paras Beth dan selalu berdebar menantikan pertemuan tak sengaja dengan Beth di kantor. Perkenalan dan pertemanannya dengan Doris, wanita tua petugas mesin makanan lah yang ternyata membuat Lincoln berkesempatan menatap wajah Beth sekilas, tanpa disadari. Disusul perjumpaan tak disengaja Lincoln dengan Jennifer yang langsung menjadi topik percakapan Jennifer dan Beth di E-mail.

    Puncaknya, Beth putus hubungan dengan Chris. Sayangnya, Lincoln tak kunjung menemukan keberanian untuk menyapa Beth, hingga Beth justru berkencan dengan pria lain. Lincoln yang pada akhirnya merasa muak dengan apa yang dikerjakannya memutuskan mengundurkan diri secara mendadak dan meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf tanpa nama di meja kerja Beth.

    Di antara momen-momen manis Lincoln dan Beth, dikisahkan secara kilas balik juga tentang cinta pertama Lincoln: Sam. Lincoln dan Sam saling jatuh cinta semasa SMA. Awalnya Lincoln mengira hubungan mereka akan langgeng hingga kuliah bahkan lulus. Sayangnya, suatu hari di masa kuliah, Sam mencampakkan Lincoln. Semenjak itulah, Lincoln yang patah hati, tak pandai bergaul, lebih memilih terobsesi dengan pendidikan. Dia dikenal gemar sekali belajar formal dan cerdas. Lincoln memiliki seorang kakak perempuan bernama Eve yang telah menikah dan dibesarkan ibu mereka seorang diri. Eve sangat bersemangat mendorong Lincoln pindah dan tinggal sendiri di apartemen. Eve menganggap Lincoln kehilangan kesempatan memiliki kehidupan pribadi dan menjalin hubungan dengan seorang wanita jika tetap bertahan di rumah ibu mereka.


REVIEW:

    “Selama Lincoln bekerja di The Courier, membaca E-mail Beth, memikirkan gadis itu, ia tidak pernah benar-benar percaya bahwa ada alur peristiwa, jalur yang membentang di hadapannya, atau rute menembus ruang dan waktu yang akan membawanya pada hari ini.” (hal. 417)

    “Aku terus memikirkan bagaimana kelanjutan semua ini di dalam cerita sebuah buku atau film. Kalau ini adalah kisah dalam novel Jane Austen, keadaannya tidak akan terlalu buruk. Kalau kau membaca surat-suratku, dan aku mengintip melalui pagar tanaman rumahmu... Komputer membuat segalanya jadi lebih buruk.” (hal. 422)

    “Kupikir cinta itu lebih sering tidur.” “Atau berkedip. Aku tidak tahu cinta bisa terus-menerus berjalan seperti ini tanpa terjatuh di jurang. Seperti pi.” (hal. 431)
   
Membaca blurb novel ini memang menggelitik rasa ingin tahu. Saya sempat membayangkan, pekerjaan macam apa yang membolehkan seseorang membaca E-mail pribadi orang lain di kantor. Juga bagaimana dinamika kisah cinta dua tokohnya secara ini jelas adalah sebuah novel roman dewasa. Ini merupakan pengalaman kedua saya membaca karya Rainbow Rowell. Dan seakan mengingatkan saya pada tokoh Park dalam “Eleanor & Park”, sosok Lincoln di sini juga tipikal lelaki manis berhati baik. Kedekatan Lincoln dengan ibunya juga sedikit mirip dengan Park, walaupun Lincoln tidak mengenal ayahnya karena perpisahan, sedangkan orangtua Park pasangan yang harmonis. Bagaimana Lincoln jatuh cinta pada Beth, hanya lewat 'mencuri' baca percakapan-percakapan E-mail, juga menarik dan menyenangkan. Sosok tokoh pria yang menurut saya akan mudah disukai pembaca wanita. Bahkan karakter pemalu Lincoln membuat saya gemas dan tertawa. Sosok Beth sendiri memiliki karakter kuat. Cantik, pintar, lucu, baik, dengan keluarga besar yang hangat, dan seorang teman baik sekaligus rekan kerja yang perhatian. Karakter-karakter pendukung dalam novel ini juga tak kalah menarik dan menghibur. Rainbow Rowell cukup berhasil membuat saya menyukai mereka, bahkan tokoh yang paling aneh atau menjengkelkan sekalipun. Tokoh-tokoh ini mewakili karakter-karakter yang cukup familiar, tipikal orang-orang yang bisa kita jumpai di sekitar. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan juga pas dan menjangkau lebih luas. Percakapan-percakapan via E-mail antara Beth dan Jennifer yang mendominasi, membuat gaya penulisan novel ini juga cukup unik dan menjadi bagian yang saya nanti-nantikan. Membuat saya membayangkan asyiknya menggosipkan cowok manis yang kita taksir atau mencurahkan keluh-kesah dengan sahabat perempuan sekantor, hehe...

Setting akhir tahun 1999 dengan fenomena kehebohan Y2K (Year 2000 Problem) pun sangat tepat diambil. Perpindahan tahun yang dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah karena penggunaan singkatan dua digit untuk tahun dalam dokumentasi baik digital maupun non-digital, yang menimbulkan kekacauan sistem. Rowell cukup memberikan ruang pemaparan dan keterkaitan hal ini dengan beberapa adegan dan alur cerita. Juga isu perobohan gedung-gedung bioskop tua, judul-judul film yang sedang hits, mendukung latar belakang profesi Beth. Suasana kerja di surat kabar pun tergambarkan dengan cukup baik. Secara keseluruhan, saya suka bagaimana Rowell membangun chemistry antara Lincoln dan Beth dan menuliskan kisah cinta mereka secara mengalir, tak disesaki kebetulan-kebetulan fiksi yang klise.
   






Senin, 11 September 2017

[RESENSI] Sophismata: Politik dan Kisah Cinta Anak Muda dalam Satu Cerita

Posted by Melani Ika Savitri | 8:52:00 AM Categories:

Judul                   : Sophismata
Penulis               : Alanda Kariza
Editor                 : Anastasia Aemilia
Proofreader        : Claudia Von Nasution
Desain Sampul   : Martin Dima
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : pertama, 2017
Tebal                  : 272 hlm.; 20 cm

BLURB:

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya—mantan aktivis 1998—yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.
    Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

SINOPSIS:

    “Politik adalah tempat kepentingan yang berbeda-beda diakomodir. Seperti memiliki satu piza yang hendak dimakan banyak orang. Potongan-potongannya dibagikan ke sana-sini. Berapa besarannya? Tergantung proporsi kontribusi mereka terhadap kemakmuran masyarakat. Contoh nyatanya bisa kamu lihat sehari-hari. Misalnya, ketika Presiden bagi-bagi jatah kursi di kabinet untuk birokrat, teknokrat, dan tentunya orang partai.” (hal. 10)

    “Ada seorang dokter yang pernah jadi perdana menteri Indonesia keenam. Tidak banyak orang yang tahu namanya. Gue juga kalau nggak baca buku itu mungkin nggak tahu. Namanya dr. Soekiman Wirjosandjojo. Beliau berpendapat bahwa hukum tanpa kekuasaan akan menimbulkan anarki. Sebaliknya, kekuasaan tanpa hukum akan meninggalkan tirani.” (hal. 62)

    “Terkadang, kita memang harus terpuruk dulu untuk bisa bangkit,” tambah Timur. “Dessert wine dari Australia, namanya Noble One, adalah salah satu wine terbaik di dunia—sering sekali dapat penghargaan. Gue pernah coba. Rasanya seperti madu, Gi. Ternyata, dibuatnya dari anggur-anggur busuk, atau yang sengaja dibuat busuk. Terkadang mungkin kita memang harus bekerja sampai busuk dulu untuk bisa mencapai sesuatu.” (hal. 109)

    Cita-cita Sigi tidak muluk. Dia hanya ingin kenaikan jabatan dari posisinya sebagai staf administrasi. Sayangnya, menurut Johar Sancoyo, atasannya, itu cita-cita yang belum pantas Sigi raih, bahkan setelah tiga tahun bekerja tanpa cela. Berdalih peraturan yang mengharuskan Sigi harus terlebih dulu menempuh pendidikan S2 dan pandangan yang bernada misoginis, Johar Sancoyo selalu menampik permintaan Sigi. Jadwal, e-mail, pemantauan media adalah tiga hal yang harus Sigi lakukan tiap pagi, sebelum atasannya datang. Sigi ingin berbuat lebih banyak, dengan menjabat sebagai tenaga ahli. Dia juga tidak ingin dipandang remeh sebagai wanita oleh kedua rekan prianya: Catra dan Gilbert. Awalnya, Sigi yang berlatar belakang pendidikan ilmu administrasi negara hanya ingin bekerja di lembaga pemerintah. Dia tidak menyukai politik. Sigi mengidolakan Johar Sancoyo (JS) karena satu almamater dan pernah mengenali sepak terjang JS selama masa reformasi.

    Hingga suatu hari, ketika menemani JS dalam sebuah pertemuan non-formal di sebuah restoran, Sigi dipertemukan kembali dengan Timur, mantan kakak kelas semasa SMA di Bandung. Agaknya Timur ingin berbincang santai sekaligus belajar dari pengalaman JS dalam berpolitik. Timur dan kedua teman karibnya sedang bersiap mendeklarasikan sebuah partai politik baru. Pertemuan itu lantas berlanjut menjadi obrolan ringan dan pertemuan-pertemuan berikutnya antara Sigi dan Timur. Timur agaknya telah menaruh ketertarikan pada Sigi semenjak mereka masih di SMA, namun ketika lulus mereka berpisah arah. Sigi berkuliah di Yogyakarta, sedangkan Timur mengambil pendidikan ilmu hukum di Jakarta. Timur yang seorang pengacara dan kini bekerja di organisasi pemantau peradilan memandang Sigi sebagai seorang wanita cerdas, tak ragu berterus terang, asertif, dingin, menarik. Sigi pun menyukai Timur yang setiap kali berbicara masalah politik dan idealismenya tampak berapi-api. Di mata Sigi, pria cerdas lebih menarik. Dari kedekatan ini, keduanya saling memahami dan berbagi pandangan masing-masing terkait politik. Pelan tapi pasti, Sigi bisa melihat bahwa tak semua politisi itu buruk. Masih ada politisi-politisi muda yang idealis dan bersih. Meskipun itu tak serta merta membuat Sigi berencana ikut mencemplungkan diri dalam dunia politik.

    Di lain sisi, usaha JS untuk bisa memperoleh jabatan menteri, sedang menemukan peluang besar. Ketika Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang sedang menjabat terancam menjadi tersangka dalam kasus penggelapan dana. JS memang selalu menggembar-gemborkan dirinya sebagai pendukung koperasi, bahkan sedang menggulirkan sebuah rancangan program aplikasi untuk menghubungkan semua koperasi di Indonesia. Sigi sendiri melihat ini sebagai peluang untuk menyumbang ide. JS pun menjanjikan peluang kenaikan jabatan jika Sigi berhasil membuatkan janji temu dengan Pak Cipta, Kepala Staf Presiden. JS merencanakan pertemuan itu sebagai upaya agar ‘terlihat’ sebagai kandidat potensial di mata Presiden. Sayangnya, pertemuan yang akhirnya berhasil terjadi dengan Pak Cipta tak membuahkan hasil persis seperti yang diharapkan JS. Janji pada Sigi pun diingkari oleh JS. Justru Pak Cipta secara terpisah menawarkan posisi jabatan dalam tim Staf Kepresidenan pada Sigi. Di sinilah dilema Sigi bermula.

    Selain kegagalan target pertemuan dengan Pak Cipta, JS juga tersandung kasus. Seorang wanita muda bernama Megara mendadak muncul dan meneror. Megara bahkan sempat mengirimi Sigi sebuah file yang isinya membuat Sigi ketar-ketir. Hal tersebut berlanjut dengan kemunculan desas-desus di media massa terkait JS dan Megara. Naasnya, justru Sigi yang dituduh berkhianat dan membocorkan rahasia JS, sampai-sampai dia diperintahkan cuti selama beberapa hari dan pulang ke Bandung. Ketika masalah sudah selesai dan diluruskan, Sigi kembali disambut hangat di kantor, bahkan dipastikan akan dikabulkan permintaan kenaikan jabatannya. Sayangnya, kali ini Sigi tak terlalu bersemangat sebab mempertanyakan motif JS. Sigi juga telah kehilangan respek terhadap JS dan kedua rekannya di kantor. Kasus tersebut juga membukakan mata Sigi bahwa pekerjaannya—sebagai tenaga ahli sekalipun—mau tidak mau mengharuskannya terlibat dalam politik. Di masa-masa inilah Timur kembali berperan memberikan dukungan maupun pertimbangan sudut pandang. Hingga pada akhirnya Sigi harus memilih, apakah tetap bertahan di gedung dewan ataukah menerima tawaran Pak Cipta.

   
REVIEW:

    “Tapi, menurut lo, apa memang harus begitu? Harus menggunakan cara yang ‘kotor’ untuk bisa mencapai apa yang kita mau?”
    “Nggak harus. Itu semua kan hanya jalan pintas. Tentu saja kita bisa mencapai apa yang kita mau tanpa kehilangan integritas, tapi butuh usaha yang lebih keras.” (hal. 180)

    “Kalau boleh jujur, aku nggak terlalu percaya passion. Buatku, bikin kue itu semacam rekreasi. Aku takut kalau itu aku jadikan pekerjaan, nanti malah jadi nggak fun. Lagi pula, perkara do what you love itu terlalu utopis. Semua kerjaan, semenyenangkan apa pun, pasti pada satu titik akan melelahkan. Mending cari kerjaan yang aku sedikit suka, tapi sekaligus menantang. Biar aku juga bisa berkembang, ya kan?” (hal. 201)

    “Nggak bisa ya, semua orang jadi teknokrat saja seperti Pak Cipta begitu? Bantu Indonesia tanpa harus melalui partai politik.”
“Negara ini butuh keduanya, dan kamu bebas memilih.”
(hal. 265)

Sebuah novel kontemporer yang hendak mengawinkan ide bahasan politik dengan roman ini memang menarik. Secara tampilan, baik kover, judul, dan blurb dikemas apik dan menurut yang saya dengar mengalami berkali-kali penyesuaian dan editing. Endorser juga bertaburan di kover belakang maupun halaman awal buku. Saya setuju dengan beberapa pernyataan yang dikutip. Politik, anak muda, mimpi, dan kisah cinta. Kurang lebih keempat hal tersebutlah yang mewakili isi novel “Sophismata” ini. Bahasanya ringan, disisipi banyak istilah asing maupun dunia politik. Kutipan, dialog, hingga deskripsinya juga cerdas dan berbobot. Cukup banyak pemikiran tokoh-tokoh ternama terkait politik yang bisa dijumpai. Saya juga suka filosofi-filosofi kehidupan yang disajikan penulis yang dikaitkan dengan karakter Sigi, misalnya tentang stress baking, teknik pembuatan kue, hingga kesukaannya terhadap warna hitam-putih. Yang saya sayangkan adalah ketiadaan catatan kaki berisi penjelasan untuk cukup banyak istilah perpolitikan, misalnya konstituen, masa reses dan sidang. Catatan kaki hanya diberikan sebagai penjelasan untuk beberapa singkatan istilah. Saya menerima keluhan serupa dari teman-teman pembaca lain. Padahal novel ini justru ingin menggaet para pembaca yang awam tentang perpolitikan. Selain itu, terkait dua judul buku George Orwell: “Animal Farm” dan “1984” yang sempat muncul sekilas dalam dua adegan, saya rasa kurang dieksplor. Padahal menurut saya buku ini erat kaitannya dengan cikal bakal ketertarikan Timur pada dunia politik. Mengapa tak dimunculkan dialog pendapat Timur dan Sigi tentang dua buku tersebut, sehingga tidak terkesan tempelan?

Terkait karakter Sigi yang anomali, awalnya memang terkesan secara logis sulit dipahami. Tapi, seiring proses menuntaskan membaca, penulis berhasil membuat saya paham akan karakter Sigi dan segala hal yang melatarbelakangi pandangannya. Salah satu yang saya sukai adalah keluarganya. Sang ayah yang notabene kaum akademisi, seorang dosen, yang lebih mengharapkan anaknya berkecimpung di dunia yang sama dan menempuh pendidikan setinggi mungkin. Dan meskipun kurang sependapat dengan keinginan ayahnya, saya rasa ketidaktertarikan Sigi akan dunia politik secara tidak langsung dipengaruhi juga latar belakang ayahnya ini. Beda hal dengan Timur, yang gemar melahap buku-buku lama peninggalan sang kakek dan mengidolakannya, pada akhirnya memengaruhi pola pikirnya terkait hukum dan perpolitikan. Karakter menarik dan unik lain yang saya sukai dari Sigi adalah kegemarannya membuat kue dan memasak, yang diwarisi dari sang ibu. Hal ini menjadikan sosok Sigi tampak feminin, meskipun di lain sisi dia digambarkan sebagai wanita karir yang punya idealisme dan keinginan besar berperan nyata dalam masyarakat. Chemistry antara Sigi dengan Timur berhasil dibangun cukup baik, apa lagi karakter Timur yang dewasa digambarkan cukup berbeda secara pemikiran, seolah mereka saling melengkapi. Kisah romansa yang porsinya tak mendominasi menurut saya sudah pas dan berkesesuaian dengan karakter Sigi-Timur. Saya suka momen-momen pertemuan yang tak sekadar mengumbar adegan romantis ala roman kontemporer umumnya, tapi banyak disisipi dialog saling bertukar pikiran.

Sedangkan dari sisi tokoh Johar Sancoyo, memang karakternya sesuai bayangan saya akan sosok politisi yang flamboyan, pandai berdiplomasi, dan supel, sekaligus memiliki sisi lemah jika berhubungan dengan wanita. Tapi menurut saya kisah kiprah Johar Sancoyo di masa awal reformasi seharusnya bisa lebih banyak dipaparkan, secara dikatakan bahwa dia sempat menjadi tokoh panutan dari Sigi dan Timur. Selain itu, agar pertemuan awal Sigi dan Timur ketika bersama Johar Sancoyo tidak terkesan terlalu kebetulan, jika mengingat Timur ingin belajar tentang masa awal JS berpolitik, bukan sepak terjangnya di masa kini setelah menjabat anggota dewan. Konflik JS dan Megara pun kurang memuaskan bagi saya. Terasa tidak gereget apa lagi dengan penyelesaian konflik yang ‘begitu’ saja. Padahal ketika mencapai klimaks konflik, saya sempat ikut tegang dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari penulis.

Secara keseluruhan, bagaimanapun, saya mengapresiasi terobosan baru ini. Ini kali pertama saya membaca novel roman populer dengan nuansa beda. Di sini pembaca diajak membuka mata bahwa dunia politik yang abu-abu memang bukan untuk semua orang dan kita bebas memilh, apakah hendak menjadi politisi, teknokrat atau birokrat. Tapi pada dasarnya negara membutuhkan semua elemen tersebut, terutama sumbangsih nyata bagi kemakmuran rakyat. Jika Anda tertantang untuk mengintip sedikit seluk-beluk dunia politik, ingin berbagi mimpi dengan anak muda seperti Sigi dan Timur, maka novel ini sangat layak dibaca. Dan sebagai penulis, saya menantikan karya berbobot selanjutnya dari seorang Alanda Kariza.

"What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one?"
   







Minggu, 10 September 2017

[RESENSI] Listen To My Heartbeat: Remaja, Cinta, dan Cita-Cita

Posted by Melani Ika Savitri | 7:53:00 AM Categories:


Judul            : Listen To My Heartbeat
Penulis        : Arumi E.
Editor          : Essa Putra & Dila Maretihaqsari
Cetakan       : pertama, Juli 2017
Tebal           : viii + 416 hlm; 20,8 cm
Penerbit       : Bentang Belia

BLURB:

 Gara-gara sebuah kecurangan yang dilakukannya saat ujian praktik Olahraga, Trinity jadi dekat dengan dua cowok populer di sekolah. Mimpi apa Trinity mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari Neo dan Zaki?
    Neo Andromeda dikenal Trin sebagai saingannya karena selalu menduduki peringkat pertama di sekolah. Apesnya, Neo sepertinya tahu kecurangan yang dilakukan cewek itu. Meski dijuluki ice prince, nyatanya Neo sering kali menghangatkan hati Trin.
    Zaki River adalah kebalikan Neo, suka bicara ceplas-ceplos, kadang juga menjengkelkan. Meski dikenal sebagai bad boy, di mata Trin, Zaki punya sisi menyenangkan yang mungkin tak semua orang tahu.
    Pelan tapi pasti, dua cowok unik itu mencuri perhatian Trin. Jika disuruh memilih, rasanya Trin ingin kabur saja, karena sepertinya ia menginginkan keduanya.

SINOPSIS:

 “Pak Sam menawarkan ujian ulang, dengan syarat mereka harus mengakui kesalahan di depan kelas, di hadapan teman-teman. Untuk menjadi pelajaran bagi siswa lain supaya jangan pernah ada lagi yang mencoba berniat curang.” (hal. 27)

    “Gue pengin berubah, nggak bolos dan berantem lagi. Tapi, gue nggak bisa ngubah reputasi gue yang udah telanjur jelek.”
    “Yang penting, orang-orang terdekat lo tahu gimana lo yang sebenarnya.”
(hal. 163)

    “Sebenarnya aku nggak pernah memikirkan itu. Maksudku, aku nggak pernah berambisi menjadi murid teladan. Aku hanya belajar sebaik-baiknya, mengerjakan tugas sebagus mungkin. Predikat itu bukan hal yang penting.” (hal. 169)

I know what you did. Demikian isi secarik kertas yang diterima Trin, entah dari siapa, usai pelajaran Olahraga. Trin pun spontan teringat kecurangan yang dilakukannya selama ujian lari berlangsung. Trin yang terbawa emosi, sempat salah tuduh, bahkan melabrak Neo, sang juara kelas sekaligus murid teladan sekolah dan menuduhnya sok sempurna. Namun, belakangan ia baru tahu bahwa Nina-lah yang mengiriminya surat kaleng, bahkan mengancam akan melaporkan kecuali Trin bersedia memenuhi syarat-syarat yang dia ajukan. Trin tak sudi diperas, dan lebih memilih mengakui kesalahannya pada Pak Sam guru Olahraga. Sebenarnya Trin siswi yang jujur dan berprestasi, namun karena dia memiliki kekurangan fisik—yang dirahasiakan dari semua orang—nilai Olahraganya terancam jelek bahkan merah. Sebab itulah Trin sempat tergoda ketika Zaki yang hari itu membolos muncul membawa mobil dan mengajak teman-teman akrabnya menumpang hingga jarak tempuh lari terpotong banyak. Usai pengakuan di depan kelas, semua teman sekelas termasuk teman sebangkunya, Reyana, berubah mencemooh dan membenci Trin. Sedangkan Trin, Zaki dan teman-teman gank-nya harus melakukan ujian lari ulang dan membersihkan halaman sekolah setiap hari.

Di balik insiden memalukan itu, tak disangka, Trin justru mendapatkan perhatian dari Neo, rival sekaligus cowok yang dikaguminya. Neo yang terkenal pendiam, menjaga jarak dengan teman-teman sehingga dijuluki ice prince mendadak berbaik hati menawari Trin mendaftar di eskul Karate di mana Neo bergabung sejak lama dengan dalih untuk melatih fisik Trin. Tak hanya itu, Neo bahkan mengawasi selama ujian lari ulang dan menyodorkan sebotol minuman pada Trin. Lain halnya dengan Zaki, yang saat ujian ulang sengaja memperlambat lari dan selalu menemani Trin yang tertinggal di belakang. Dari sinilah kedekatan Trinity, Neo, dan Zaki bermula yang kemudian menumbuhkan pula benih-benih cinta.

Ketika Trin mulai akrab dengan Neo, seorang gadis cantik blasteran Spanyol-Indonesia sekaligus siswi baru di kelas mereka muncul. Gadis bernama Estela itu bahkan tak sungkan memperlihatkan kedekatan dengan Neo, dan diminta guru untuk duduk sebangku dengan Zaki. Lantas muncul pula rumor bahwa Neo dan Estela adalah sepasang kekasih bahkan dijodohkan kedua orangtua dan Estela tinggal serumah dengan Neo. Neo yang menyadari perubahan sikap Trin, berusaha meluruskan dan meyakinkan Trin bahwa tidak ada apa-apa antara dia dengan Estela. Sesungguhnya, Estela adalah anak tiri ayahnya yang kini sebatang kara selepas meninggalnya ayah tiri dan ibu kandungnya dalam sebuah kecelakaan. Ayah Neo yang memang telah berpisah dengan ibu Neo sempat menikahi seorang janda berkebangsaan Spanyol dan tinggal di Spanyol cukup lama. Trin tentu saja kaget mengetahui fakta tersebut, apa lagi Neo memang tertutup dan tak pernah menceritakan kondisi keluarganya pada teman-teman. Trin pun suatu hari bersedia berbagi rahasia kekurangan fisiknya pada Neo, ketika terjadi ‘kecelakaan’ kecil selama latihan karate. Yang tak diduga Neo adalah Estela yang ternyata tak keberatan dijodohkan dan memang menyukai Neo.

Zaki, yang bermula dari terkesan dengan sikap Trin, juga mulai melakukan pendekatan. Mulai dari acara kerja kelompok, hingga momen-momen kecil makan siang bersama di kantin. Zaki juga telah bertekad berubah, tak lagi cuek dengan urusan sekolah, selain untuk membuat Trin terkesan juga demi membuat bangga mamanya, yang sempat sakit namun tak mendapatkan kepedulian dari suaminya. Trin yang sempat mengunjungi rumah Zaki bersama Bobby dan Nina terkesan dengan sikap penyayang Zaki pada dua adik perempuannya yang masih kecil. Dari sinilah Trin mulai mengubah pandangan terhadap Zaki yang selama ini dikenal sebagai bad boy.

Tak hanya disibukkan dengan kisah cinta, Trin, Neo, dan Zaki yang telah memasuki tahun terakhir sekolah juga bersaing meraih prestasi akademik terbaik, apa lagi menjelang kelulusan dan pendaftaran ke universitas. Trin yang aktif di eskul Mading juga mendapat amanah menjadi penanggung jawab Buku Tahunan Siswa di mana profil siswa berprestasi dan semua siswa senior dicantumkan. Momen-momen manis kembali tercipta, lewat kesempatan wawancara Trin dengan Neo sebagai murid teladan dan dengan Zaki selaku Kapten Tim Futsal. Neo dan Zaki pun terang-terangan bersaing secara sportif untuk mendapatkan hati Trin. Hingga suatu hari, Zaki menyatakan langsung pada Trin akan perasaan sukanya. Trin yang menyukai Zaki dan Neo, bingung dan tak bisa memilih. Dia memberi harapan tapi juga tak memberi kepastian pada Zaki. Di lain pihak, Neo seolah mengulur-ulur waktu untuk menyatakan langsung perasaannya. Diawali dengan ajakan menonton pertunjukan biolanya bersama beberapa pemain musik lain, Neo mulai memberikan sinyal. Zaki yang tak sengaja mengetahui hal ini, sempat kecewa dan mendiamkan Trin, meskipun tak bertahan lama. Puncaknya, di acara malam perpisahan murid senior, Neo khusus memainkan lagu untuk Trin dan terang-terangan mempersembahkannya di hadapan semua hadirin. Trin terkejut, senang, sekaligus malu. Neo juga menyatakan perasaannya di luar panggung dan sekali lagi memberi kejutan manis untuk Trin. Sayangnya, di hari lain selepas malam itu, Neo memberi kabar tak menyenangkan terkait pilihannya melanjutkan pendidikan ke tempat yang jauh. Di sinilah Trin akhirnya harus menjatuhkan pilihan, di antara dua lelaki yang menanti jawaban. Siapa pun yang akan dipilih, apakah Zaki yang bersedia selalu ada di sampingnya atau Neo yang akan berjauhan untuk sementara tapi tetap mengharapkannya, Trin harus mengakhiri dilema hati mereka.

REVIEW:

 “Kamu pernah dengar nasihat, kalau kamu mencintai dua orang di waktu bersamaan, pilihlah yang kedua. Karena kalau sungguh-sungguh mencintai yang pertama, kamu nggak akan tertarik dengan yang kedua.” (hal. 361)

    “Terkadang cinta pertamamu belum tentu menjadi jodohmu. Dia hanya menjadi kenangan indah yang terukir abadi di hati.” (hal. 384)

    Novel remaja ini merupakan salah satu judul—dari sebelas judul—seri Belia Writing Marathon yang merupakan rangkaian program dari Bentang Belia. Awalnya, kisah cinta segitiga remaja Trin, Neo, Zaki ditulis secara berkala di Wattpad dan berhasil mendapatkan kurang lebih 4,5 juta perhatian dari pembaca Wattpad. Untuk ukuran novel remaja, jumlah halamannya tergolong tebal. Hal ini akhirnya memberikan banyak ruang bagi penulis untuk mengembangkan alur, plot, dan karakter tokoh. Setelah saya membaca keseluruhan cerita, memang jelas terlihat hal tersebut.

    Bisa dibilang, ketiga tokoh utama cerita berhasil ditonjolkan dengan perkembangan karakter yang cukup signifikan dan bertahap. Terutama saya melihat adalah perkembangan karakter Neo dan Zaki. Neo yang penyendiri, tak lepas dari latar belakang keluarga di mana dia hidup bersama ibunya yang merupakan orangtua tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Kesibukan luar biasa ibunya selain membuat Neo kesepian, di sisi baiknya menjadikannya anak mandiri. Di sinilah karakter positif Neo tampak. Dia tidak melampiaskan kurangnya kasih sayang ortu ini lewat hal-hal negatif. Justru waktunya dipergunakan untuk belajar dan belajar, selain aktif di eskul Karate dan mengasah kemampuan bermain biola. Neo yang kidal juga diceritakan sempat kecewa dengan sikap orang-orang sekitarnya yang meremehkan dan menganggap aneh kondisi fisik bawaannya itu. Namun, seiring bergulirnya cerita, Neo perlahan lebih terbuka, peduli dengan orang-orang terdekat seperti Trin dan Estela, dan merasakan cinta pertama. Zaki di lain pihak, yang awalnya dilabeli sebagai anak badung, pernah berkasus dengan perkelahian, tidak segan membolos, dan cuek dengan prestasi akademik, pelan tapi pasti berubah ke arah yang lebih baik. Kedekatannya dengan Trin pun memberikan efek positif. Saya peribadi sangat suka dengan sifat easy going, ceplas-ceplos, over pede, namun penyayang dan setia kawan dari Zaki. Menurut saya, kehadiran Zaki memberikan nuansa ceria sekaligus menjadi pelengkap bagi Neo. Logis jika kemudian dilema tercipta dalam kisah cinta segitiga ini. Pembaca pun saya yakin merasa terlibat secara emosional, entah mendukung Neo atau Zaki. Satu hal positif lain dalam novel ini menurut saya dari segi penciptaan karakter adalah ketiadaan imej bad boy yang diiringi adegan kekerasan atau kenakalan ala remaja yang biasa saya jumpai dalam novel remaja lain, bahkan yang bernuansa religi sekalipun.

    Kisah tak melulu berfokus pada kisah cinta pertama ketiga tokohnya. Penulis juga menyoroti kepedulian remaja pada sekitar—lewat adegan kunjungan Neo dan kawan-kawan ke rumah sakit, masalah keluarga, kasih sayang antara anak-orangtua, ajakan untuk berlaku hormat pada yang lebih tua, persahabatan, dan tentu saja tentang meraih prestasi dan cita-cita setinggi mungkin. Saya suka bagian akhir di mana Neo bersikap dewasa atas pilihan pendidikannya, juga Zaki dan Trin yang mampu menetapkan pilihan untuk pendidikan dan masa depan mereka, menyadari masa depan mereka masih terbentang luas.

    Saya rasa novel ini terbilang berani tampil beda. Tak menonjolkan konflik cinta dramatis ala cinta segitiga umumnya, juga tidak mengumbar tipikal drama keluarga broken home dengan anak-anak nakal yang mudah dijumpai di novel lain. Salut dengan keberanian penulis dan saya mengapresiasi nilai-nilai positif yang hendak ditularkan lewat kisah ini. Ini wajib dibaca oleh para pembaca belia Indonesia.
 
 "Nggak boleh, ya, suka sama kamu dan dia?"


[RESENSI] Miss Complicated Designer: Cinta Jangan Diperumit

Posted by Melani Ika Savitri | 7:44:00 AM Categories:

Judul        : Miss Complicated Designer (Lovession Series)
Penulis     : Citra Novy
Editor       : Cicilia Prima
Cetakan   : pertama, Juli 2017
Tebal        : 234 hlm
Penerbit    : PT Grasindo

BLURB:

Han Yeon - Joo
Desainer gaun pengantin yang belum bisa melupakan seorang pria dari masa lalunya. Pria dengan bahu lebar 48 sentimeter. Bahu tempatnya berlindung dari kericuhan hidupnya, tempat bersembunyi ketika dunia sedang tidak bersahabat, dan tempat beristirahat saat ia sudah merasa lelah. Kini, pria itu hadir lagi dalam hidupnya dan memaksanya untuk berkata, “Saat itu, saat pertama kali menemukanmu berdiri di hadapanku. Dengan bahu lebar yang tak sengaja kuusap, aku memutuskan untuk jatuh cinta dan tak berniat melupakanmu.”

Park Jung – Hoo
CEO Calee Magazine yang belum bisa melupakan seorang wanita dari masa lalunya. Gadis yang tentu tidak bisa ia temukan dari sekumpulan gadis cantik model majalahnya, gadis dengan tinggi badan 165 sentimeter. Memudahkannya untuk mendekap saat gadis itu menangis, memudahkannya untuk mengecup kening saat gadis itu kesal, memudahkannya membisikkan gurauan saat gadis itu merajuk. Kini, gadis itu hadir lagi dalam hidupnya dan memaksanya untuk berkata, “Saat itu, saat pertama kali menemukanmu berdiri di hadapanku. Dengan tinggimu yang berada tepat di bawah daguku, aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu.”

SINOPSIS:

“Isi kepalanya sedang dipenuhi masalah yang sulit diselesaikan. Ayahnya yang sudah dua minggu terbaring di rumah sakit, jatuh sakit karena terus-menerus memikirkan kekacauan perusahaan tanpa menemukan penyelesaian. Ibunya yang belum bisa menerima keadaan bahwa suaminya tidak menghasilkan uang. Dan kekasihnya, yang seharusnya menjadi orang satu-satunya tempatnya bergantung, telah ia tinggalkan beberapa menit yang lalu.” (hal. 8)

““Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku merasa... hubungan kita harus berakhir.” Jung-Hoo tersenyum kecut, mendesah iba pada dirinya yang ternyata masih mampu mengulang kalimat gadis itu dengan lengkap di kepalanya.” (hal. 12)

Han Yeon-Joo dan Park Jung-Hoo dulunya adalah sepasang kekasih serasi yang saling mencintai. Hingga suatu hari, kehidupan keluarga Yeon-Joo porak-poranda akibat kebangkrutan yang menimpa perusahaan ayah Yeon-Joo. Yeon-Joo lantas memutuskan hubungan dengan Jung-Hoo secara sepihak, menggunakan rumor spekulatif yang sedang beredar tentang kedekatan Jung-Hoo dengan salah seorang model majalahnya sebagai alasan. Tanpa Yeon-Joo sadari, fotografer Kwon yang menjadi penyulut rumor itu pun turut terkena imbas. Ayah dan ibu Yeon-Joo meninggal dunia tak lama berselang, meninggalkan utang yang sangat besar. Segala harta peninggalan sang ayah telah habis tak bersisa demi melunasi utang, namun utang tetap belum tuntas terlunasi. Dua tahun berselang, Yeon-Joo masih berjuang bersama dua asistennya, mengelola satu-satunya sumber penghasilan: Collinette Boutique. 

Dan suatu hari, sebuah tawaran kerjasama datang dari Calee Magazine, majalah mode milik keluarga Jung-Hoo. Dengan bayaran tinggi yang dijanjikan, tak ada alasan bagi Yeon-Joo untuk menolak kontrak kerjasama. Sialnya, pada presentasi awal sekaligus penandatanganan kontrak, Jung-Hoo sengaja muncul menemui Yeon-Joo dan sukses membuat Yen-Joo terbawa masa lalu dan salah tingkah. Di lain sisi, ibu dari Jung-Hoo yang turut kecewa pada Yeon-Joo karena mencampakkan putranya, sedang berusaha menjodohkan Jung-Hoo dengan Kim Hye-Ra, salah seorang model cantik yang kerap mengisi foto di halaman Calee Magazine. Kehadiran kembali Yeon-Joo jelas tidak diharapkan, bahkan dibenci Hye-Ra yang mengendus aroma cinta lama yang belum benar-benar sirna. Fotografer Kwon yang kini beralih jabatan menjadi sekretaris CEO Jung-Hoo pun mencurigai motif Jung-Hoo.

Di tengah kekisruhan ini, kejutan lain datang. Ayah Yeon-Joo ternyata memiliki wanita lain semasa hidupnya, dan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang kini telah beranjak remaja. Nam Goo-Won dan Han Tae-Oh, ibu dan anak itu mendadak menemui Yeon-Joo dan menyatakan ingin tinggal bersamanya. Yeon-Joo yang awalnya terpaksa menyetujui demi menghindari keributan, perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran keduanya. Apa lagi sosok Nam Goo-Won yang sederhana dan hangat serta Tae-Oh yang ceplas-ceplos seolah mengisi kekosongan hati Yeon-Joo akan kasih sayang keluarga. Tapi tak diduga, Jung-Hoo ternyata mengenal Tae-Oh. Yeon-Joo semakin merasa dirinya menyedihkan setelah tahu bahwa Jung-Hoo mengetahui banyak rahasia keluarganya yang memalukan. Sedangkan Jung-Hoo yang selama dua tahun ini merasa hidupnya menyedihkan karena tak mampu melupakan Yeon-Joo bertekad mengobati hatinya. Jadi, sedingin apa pun sikap Yeon-Joo padanya, selebar apa pun jarak yang berusaha direntangkan, Jung-Hoo tetap ingin membuat Yeon-Joo jujur akan alasan sebenarnya mencampakkannya dua tahun silam, bahkan ingin mereka memulai lagi hubungan.




REVIEW:
  
 “Memang terkesan tidak ada gunanya dan tidak akan mengubah apa pun jika Nunna mengatakan yang sesungguhnya. Tetapi percayalah, hatimu akan damai.” (hal. 149)

    “Ini jawabannya. Ia menemukan jawaban dari hidup malangnya. Ia... hidup dalam diam untuk merindukan gadis itu, dan itu menyakitkan, melebihi patah hati yang seharusnya ia rasakan. Tidak seharusnya ia menunggu terlalu lama, dua tahun yang menjemukan. Seharusnya... ia melakukan ini dari dulu. Menemui gadis itu dan membuat berada di sisinya.” (hal. 164)

    “Kau lebih baik dari gadis mana pun yang kukenal. Hanya saja kau terlalu rumit, kau membuat masalahmu menjadi begitu rumit untuk hubungan kita.” (hal. 213-214)

    Novel K-fiction ini merupakan salah satu judul dari seri Lovession (love and profession) karya penulis Indonesia. Di bab prolog, kita akan diajak berkenalan dengan kelima gadis Korea Selatan yang bersahabat dan akan menjadi tokoh utama dalam kelima judul novel. Kisah cinta dilatarbelakangi profesi berbeda-beda dari masing-masing tokohnya ini memang menawarkan konsep yang menarik. Dan dalam judul ini, kita akan diajak mengenal dan menikmati perjalanan cinta yang rumit dari Han Yeon-Joo yang berprofesi sebagai desainer gaun pengantin. Karakter Yeon-Joo yang berusia 27 tahun sendiri selain cantik, selalu modis dan berpenampilan rapi, juga cerdas, mandiri, suka bertindak berdasarkan rencana yang telah dirancangnya, penyayang, kalem, namun terkadang suka memperumit masalah. Tokoh prianya yang merupakan sosok CEO sebuah majalah mode ternama digambarkan tinggi dan tampan. Yang saya suka dari Park Jung-Hoo adalah sikapnya yang easy going namun dewasa, seolah melengkapi karakter Yeon-Joo. Pasangan yang menurut saya memang serasi. Apa lagi diciptakan semacam kisah jatuh cinta pada pandangan pertama, di mana keduanya saling mengagumi penampilan fisik satu sama lain, seakan mereka merasa memang diciptakan sebagai pasangan. Penggalan kisah dalam blurb menjadi daya tarik yang memikat dari novel ini, romantis dan manis.

    Karakter lain yang cukup mencuri perhatian saya sekaligus menjadi pembangun plot yang bagus adalah Nam Goo-Won Ahjumma dan anak laki-lakinya yang juga adik tiri Yeon-Joo, Han Tae-Oh. Kemunculan mereka membuat kisah ini tak melulu tentang cinta sepasang kekasih, namun juga tentang penerimaan dan kasih sayang keluarga meski mereka belum lama saling mengenal. Yang menarik lagi, dalam kisah ini tidak saya jumpai karakter antagonis yang terlampau jahat atau dibuat-buat. Misalnya Kim Hye-Ra yang sebenarnya menyukai dan sudah berusaha dekat dengan Park Jung-Hoo cukup lama, atau Ibu dari Park Jung-Hoo sendiri yang awalnya terkesan mendendam pada Yeon-Joo. Justru cerita kemudian mengungkap keluarga Park yang terkesan santai, hangat,  dan cukup jauh dari kesan antipati ala keluarga kaya. Konflik hati Hye-Ra pun berakhir tanpa menjungkirbalikkan emosi saya. Bagi pembaca, ini bisa menjadi hal yang disukai namun bisa jadi kurang, karena konflik tak sedramatis ala drama-drama Korea atau romance dewasa pada umumnya.

Tapi saya tetap menikmati dan suka dengan tema yang diangkat sekaligus bagaimana penulis mengeksekusi tiap elemen cerita. Novel ini bagi saya adalah bacaan ringan yang bisa saya rindukan untuk dibaca ulang beberapa waktu di masa akan datang. Kisah keluarga yang disisipkan pun menyentuh hati. Dan bagi pencinta K-fiction, mengoleksi kelima judul seri lovession ini menurut saya layak dilakukan. Keempat sahabat Yeon-Joo juga sempat muncul bergantian secara sekilas sepanjang kisah cinta Yeon-Joo dan Jung-Hoo bergulir, membuat pembaca penasaran membaca kisah mereka masing-masing. Kovernya pun cantik dengan ilustrasi berwarna di bab prolog.

    “Aku pernah melepaskanmu satu kali dan aku hampir mati, jadi kali ini tidak akan lagi.”

Senin, 31 Juli 2017

[RESENSI] London: Malaikat Surga dan Keajaiban Cinta

Posted by Melani Ika Savitri | 7:57:00 AM Categories:


Judul                : London – Angel
Penulis            : Windry Ramadhina
Editor              : Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader  : Jia Effendie
Penerbit         : GagasMedia
Cetakan         : pertama, 2013
Tebal             : x + 330 hlm; 13 x 19 cm


BLURB:
Pembaca tersayang,
Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel ‘Orange’, ‘Memori’, dan ‘Montase’ membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.
Enjoy the journey.

Edtor

SINOPSIS:
    “Ning gadis yang cantik, benar-benar cantik. Dibutuhkan delapan tahun bagiku untuk menyadari hal tersebut.” (hal. 20)

    “Aku tidak punya cukup waktu untuk mengungkapkan perasaanku kepada Ning, apalagi menjadikannya milikku. Tahu-tahu saja dia sudah terbang ke London, kuliah di kota berpenduduk sepuluh juta orang itu, lalu bekerja di galeri seni kontemporer paling ternama di dunia. Tahu-tahu saja dia tak terjangkau. Padahal, sebelum itu dia selalu ada di sisiku.” (hal. 21)

    “Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam ‘mengejar gadis ke London atas nama cinta’ hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.” (hal. 55)

          Gilang yang seorang editor di sebuah penerbit karya sastra, cerpenis, sekaligus novelis yang ‘terjebak’ di penggarapan satu novelnya bersahabat karib dengan seorang gadis bernama Ning. Mereka telah bersahabat semenjak di bangku sekolah menengah. Hingga suatu hari di masa kuliah, seorang kawan baik lelakinya menyadarkan Gilang bahwa Ning terlalu indah untuk dipandang sebatas sahabat. Gilang pun mulai melihat Ning sebagai wanita tapi tak punya cukup keberanian maupun waktu untuk mengungkapkan perasaannya. Ning melanjutkan kuliah ke London hingga kemudian bekerja sebagai seorang kurator di sebuah galeri seni kontemporer ternama di sana. Semenjak Ning menetap di London, komunikasi mereka hanya berjalan lewat bantuan koneksi internet. Berawal dari Sabtu malam mabuk-mabukan bersama keempat sahabat prianya (Brutus, Hyde, Dum, Dee), terlontarlah pertaruhan untuk mengejar cinta Ning—gadisnya—hingga ke London. Sayangnya, acapkali harapan tidak seindah kenyataan.

    Dengan keinginan memberi kejutan, Gilang tak memberitahukan kedatangannya pada Ning. Nahasnya, Ning sedang bertugas ke luar kota selama beberapa hari dan tak ada kepastian kapan kembali ke apartemennya di Colville Place ketika Gilang sudah tiba di sana. Tak tahu harus menghabiskan waktu melakukan apa, jadilah Gilang mengunjungi beberapa tempat menarik di London, antara lain London Eye dan Shakespeare Globe Theatre. Di sinilah dia lantas berjumpa dengan seorang gadis asing berparas sangat menawan dengan rambutnya yang keemasan—yang lantas dia juluki Goldilocks—dan payung berwarna merah. Gadis misterius ini selalu muncul tiba-tiba di saat hujan mengguyur London, untuk kemudian menghilang begitu saja kala hujan reda. Ajaibnya, payung merah yang ditinggalkannya dan disimpan Gilang sempat ‘menyelamatkan’ pernikahan seorang pria yang dikenal Gilang di pesawat. Dan baru Gilang tahu kemudian juga membawa pada keajaiban cinta lain.


    Tentang kisah Gilang dan Ning, ketika akhirnya bisa bertemu, Gilang sempat diliputi keraguan akan pernyataan cintanya. Akankah Ning memiliki perasaan yang sama, atau jika tidak akankah pengakuan Gilang menghancurkan persahabatan yang telah terjalin belasan tahun? Dalam masa keraguan ini, banyak hal terjadi yang pada akhirnya memantapkan hati Gilang untuk jujur dengan perasaannya. Salah satu hal yang terjadi adalah kisah cinta pemilik motel di mana Gilang menetap, yaitu Madge atau yang biasa disapa Madam Ellis. Janda yang suaminya tewas dalam sebuah kecelakaan ini berubah murung dan menutup diri. Ia bahkan tak ingin menganggap keberadaan seorang pria sekaligus sahabat masa kecil yang telah lama mencintainya, yakni John Lowesley atau Mister Lowesley. Hingga suatu hari, kenekatan John mengubah segalanya. Kejadian menarik lain selama Gilang berada di London adalah beberapa perjumpaan tak disengaja antara dia dan seorang gadis Indonesia bernama Ayu. Ayu adalah seorang penggila buku tua dan klasik dan sibuk keluar masuk toko buku demi mendapatkan cetakan pertama ‘Wuthering Heights’ karya Emily Bronte. Sikapnya yang tak ramah dan sinis membuat Gilang keheranan.



REVIEW:
    “Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia,” kubilang. “Menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia.” (hal. 247)

    “Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.” (hal. 297)

    “Malaikat-malaikat yang turun bersama hujan? Ya. Aku pernah melihat satu.” (hal. 315)

    “Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri.” (hal. 320)

    Tema keajaiban cinta dan persahabatan menjelma cinta, demikian novel ini hendak mengarahkan cerita. Persahabatan pria dan wanita yang berubah cinta memang sudah sering diangkat dalam fiksi. Namun, berkat setting London di musim gugur dengan hujan yang mengguyur nyaris setiap waktu dan kepercayaan tentang malaikat yang turun ke bumi selama hujan turun, membuat kisah Gilang dan Ning ini sangat menarik dan membawa aura magis. Deskripsi London dalam balutan gerimis, dengan galeri-galeri seni kontemporer yang tersebar di Fitzrovia, melatarbelakangi kisah cinta yang ‘muram’, membuat saya merasakan betul feeling yang ingin disampaikan sekaligus keindahan novel ini. Penuturan menggunakan sudut pandang orang pertama, ‘aku’ sebagai Gilang pun, sekali lagi mampu menghipnotis saya sekaligus menyelami apa yang dirasakan dan dipikirkan tokoh pria yang bisa dibilang flamboyan ini. Salah satu deskripsi yang saya sukai, contohnya: “Namun, bunyi ketukan sepatu gadis itu seperti mantra. Iramanya menumpulkan akal sehat, menyulapku menjadi anak dungu dari Hamelin yang tunduk pada nada-nada seruling Pied Piper si pengusir tikus dalam legenda Jerman.”(hal. 263).

    Karakter-karakter dalam cerita juga tak ada yang ‘sia-sia’. Semua punya korelasi signifikan bagi plot cerita. Gilang, mengutip salah satu dialog, mengakui dirinya mengidolakan penulis legendaris Scott Fitzgerald, penyuka pub, bir, pesta (dalam hal ini bersama kawan-kawan prianya), yang saya rasa terinspirasi dari tokoh-tokoh fiksi Fitzgerald. Tapi, Gilang juga lucu, selera humornya bagus, dan tipe sahabat yang menyenangkan. Gilang memiliki kesamaan dengan Ayu, ‘terobsesi’ dengan buku-buku klasik dan tua, semacam cetakan pertama atau edisi khusus, terutama ‘Burmese Days’ yang gagal dia dapatkan. Gilang senang menjuluki sahabat-sahabatnya, semacam Brutus, Hyde, Dum, Dee, Jules, berdasarkan karakter spesifik mereka. Bahkan pria asing yang ditemuinya di perjalanan mendapat julukan ‘V’ yang berasal dari film, demikian juga si gadis misterius yang dijuluki Goldilocks karena mengingatkannya pada tokoh gadis cilik dalam cerita ‘Three Bears’. Menurut saya detail seperti ini merupakan nilai plus yang saya tunggu-tunggu dalam sebuah novel. Ning, di lain sisi, digambarkan sebagai gadis yang cantik, sangat cerdas, tahu apa yang dia mau, pencinta seni kontemporer, dan sahabat yang sportif. Cara Kak Windry membangun karakter Ning diperkuat dengan detail setting Fitzrovia dan galeri seni kontemporernya, semacam Tate Modern, di mana Ning bekerja. Karakter lain yang menarik bagi saya tentu saja Madame Ellis sang pemilik motel, Mister Lowesley si pemilik toko buku, dan Ed pelayan berdarah India yang cerewet dan suka ikut campur urusan orang lain. Kehadiran tiga orang ini membuat perasaan saya campur aduk.

    Novel ini akan jadi bacaan yang sangat tepat bagi para pencinta roman dan hujan. Bagi saya sebagai pembaca baru karya-karya Kak Windry, paragraf penutup yang diberikan membuat saya penasaran dan ingin lekas membaca kisah Gilang yang lain dalam ‘Angel in the Rain’. Great job!



[RESENSI] Montase: Idealisme Perfilman Hingga Filosofi Sakura

Posted by Melani Ika Savitri | 7:50:00 AM Categories:


Judul             : Montase
Penulis          : Windry Ramadhina
Editor            : Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader: Christian Simamora
Penerbit       : GagasMedia
Cetakan        : kelima, 2014
Tebal            : viii + 360 hlm; 13 x 19 cm

BLURB:
    Aku berharap tak pernah bertemu denganmu. Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku. Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu. Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu. Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.
    Tapi..., kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai... dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

SINOPSIS:

    “Ada sesuatu dalam film dokumenter, entah apa, yang menyebabkan aku sangat tertarik. Kejujurannya, mungkin, atau detail-detail autentik yang memperlihatkan kehidupan apa adanya. Barangkali juga, pemikiran yang membumi, kesadaran akan keberadaan masalah-masalah di dunia, dan kepedulian untuk mengatasi semua itu. Atau, bisa jadi, momen magis kala film itu usai dan aku merasa ada sesuatu yang berubah dari diriku.” (hal. 62)

    “Lalu, ketika tiba-tiba dia melempar pandangannya kepadaku dan tersenyum, aku merasakan sesuatu yang aneh, nyaris magis. Saat itu, waktu seolah-olah berhenti sejenak dan ruang di sekeliling kami menjadi beku. Haru ikut beku. Sosoknya yang berada dalam pelukan lili mengkristal selama sepersekian detik dan bermetamorfosis menjadi potret indah yang merenggut napasku.” (hal. 73-74)

    “Selama ini, setiap aku terbangun pada pagi hari, yang terpikir pertama kali di kepalaku adalah si Babe dan rencana syuting film dokumenter.” (hal. 219)

    “Menjadi pembuat film dokumenter? Ya. Itu impianku sejak masih sekolah. Bahkan, aku tidak ingat apa aku pernah memimpikan hal lain.” (hal. 249)

    “Menyukai seseorang dan mendapat balasan dari orang itu adalah salah satu impian Haru.” (hal. 340)

    Rayyi, seorang mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta Peminatan Produksi sesungguhnya tak pernah tertarik mengikuti jejak ayahnya, mengelola sebuah rumah produksi besar yang melahirkan banyak film dan sinetron komersil. Bermula dari perkenalannya pada film hitam-putih tanpa suara karya Dziga Vertov, “The Man with a Movie Camera” milik mendiang sang mama, Rayyi yang oleh ketiga sahabat karibnya selalu disapa Bao-Bao ini jatuh cinta pada film dokumenter dan selalu bermimpi membuat film dokumenter terbaik. Perbedaan pendapat dan kepentingan dengan sang papa ini tak kunjung menjumpai titik kompromi. Rayyi lantas kerap membolos kuliah Peminatan Produksi untuk syuting film dokumenter bersama kamera kesayangannya yang dinamai Babe. Rayyi juga seringkali menyusup ke kelas Peminatan Dokumenter untuk menimba ilmu. Suatu hari, di tengah kekecewaannya karena kalah dari seorang mahasiswi ‘studi banding’ dari Jepang, Haru Enomoto, dalam sebuah seleksi film dokumenter yang diselenggarakan Greenpeace, Rayyi kembali menyusup ke kelas Peminatan Dokumenter di mana seorang sineas muda ternama Samuel Hardi sedang menjadi dosen tamu. Tak disangka, Haru mengikuti kelas yang sama. Di kelas ini, Rayyi dan ketiga sahabatnya (Sube, Andre, Bev)—yang ikut-ikutan menyusup—mendapat tugas membuat sebuah film pendek dokumenter bertema observasi. Bermula dari usul iseng Andre agar Rayyi menjadikan Haru objek filmnya, Rayyi pun mulai mengenal Haru lebih dekat, setelah tawaran Rayyi disambut antusias oleh Haru. Boneka kokeshi Jepang, gadis berkepala angin, adalah julukan-julukan Rayyi pada Haru. Awalnya Rayyi meremehkan dan menganggap Haru gadis sembrono yang aneh dan tidak menarik, namun sebuah momen yang terekam kameranya mengubah pandangan itu.

    Pertemuan demi pertemuan makin mengakrabkan Rayyi dan Haru, hingga tanpa Rayyi sadari cinta telah tumbuh di hatinya. Momen kebersamaan mereka terasa sederhana namun indah, hingga suatu hari kebersamaan itu dihancurkan dengan terungkapnya rahasia mengenai kondisi kesehatan Haru. Rayyi juga tengah dihadapkan pada keputusan pahit papanya untuk ‘mendisiplinkan’ dan mengawasi ketat gerak-gerik Rayyi di kampus, usai insiden nilai ujian yang bobrok. Rayyi terpaksa menurut, menjadi karyawan magang di rumah produksi papanya setiap akhir pekan dan tak lagi membolos di kelas Peminatan Produksi. Tawaran Samuel Hardi untuk belajar langsung di rumah produksinya dan mengikuti ajang kompetisi internasional pun terpaksa Rayyi tolak. Kabar buruk lain datang tak lama kemudian. Haru mendadak kembali ke negerinya dengan hanya sebuah ucapan selamat tinggal singkat lewat pesan teks pada Rayyi. Rayyi tak mampu menghalangi kepergian Haru. Sepeninggal Haru, konflik antara Rayyi dan papanya memuncak hingga sampai pada pilihan Rayyi untuk hengkang dari rumah dan meminta Samuel Hardi menampungnya.

    Walaupun terpisah jauh, Rayyi tetap rajin bertukar kabar lewat surel dengan Haru. Rayyi pun bekerja keras merintis impian di rumah produksi milik Samuel Hardi. Hingga suatu hari, sebuah kabar diterima Rayyi dari orangtua Haru. Komunikasi lantas terputus. Namun, ketika Rayyi masih berjuang melanjutkan hidup, dua tahun kemudian datang sepucuk surat dari Haru. Sontak Rayyi kembali berharap dan tanpa pikir panjang terbang ke Tokyo. Di Tokyo, Rayyi menyaksikan langsung keindahan Sakura yang pernah ditunjukkan Haru lewat film pendeknya dan semangat untuk meraih impian besar kian terpacu.

REVIEW:
    “Jangan berhenti mengejar impianmu atau kau akan menyesal, Rayyi.” (hal. 249)

    “Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?” (hal. 250)

    “Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan.” (hal. 250)

    “Keindahan Sakura hanya sebentar, tapi karena itu dia begitu berharga.” (hal. 347)

    “Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi.” (hal. 347)

    Seingat saya, baru kali ini saya membaca novel yang mengangkat tema, setting, dan tokoh seputar dunia perfilman dokumenter. Yang mana, ini menjadi daya tarik tersendiri. Suasana perkuliahan, pergaulan para mahasiswa Fakultas Film dan Televisi IKJ pun kental mewarnai. Saya suka dengan tokoh-tokoh semacam Sube, Andre, dan Bev sebagai sahabat karib yang saling mendukung dengan Rayyi. Chemistry mereka terasa, ditambah kekonyolan dan banyolan khas mahasiswa yang mampu mengundang tawa. Misalnya teka-teki tentang nama panggilan Bao-Bao, juga detail semacam menu favorit mereka: internet. Kemunculan sesosok Samuel Hardi yang berpenampilan layaknya pria metroseksual, tapi angkuh dan suka meremehkan orang, juga sangat mendukung plot cerita (dan saya baru tahu kalau tokoh satu ini dibuatkan novel khusus). Kak Windry pun tak segan menyebutkan beberapa sineas kenamaan, membuat kritik dunia perfilman lebih tersampaikan. Mengenai setting Jepang, meskipun tak dominan tapi tidak bisa dikatakan hanya tempelan, sebab Jepang dan Sakura berkorelasi erat dengan tokoh Haru dan pesan moral yang ingin disampaikan. Saya pun cukup puas dengan deskripsi yang disajikan terkait beberapa spot di Tokyo. POV ‘aku’ sebagai Rayyi juga dieksekusi dengan baik.

    Jika pada novel roman umumnya, jatuh cinta digambarkan lewat adegan-adegan ‘kebetulan’ yang romantis, maka di sini muncul apa yang saya sebut ‘jatuh cinta lewat lensa kamera’. Ya, itu juga yang menggambarkan chemistry dari dua tokoh utama: Rayyi dan Haru. Dua orang yang bertolak belakang karakter. Haru yang berfisik lemah namun selalu optimis dan penyayang, sekaligus ceroboh sehingga mirip alien tersesat di planet bumi. Rayyi yang setia kawan, idealis, sangat mencintai kamera dan dunia perfilman dokumenter, tapi terjebak dengan impian sang ayah yang dibebankan ke pundaknya. Haru dan Rayyi dipersatukan oleh kesamaan nasib, di mana kuliah yang mereka ambil pada dasarnya bukan minat murni mereka. Tapi sikap penerimaan Haru yang tulus mampu menggugah hati Rayyi. Karakter Rayyi yang kurang saya sukai di sini adalah fakta bahwa dia terkesan baru berani memperjuangkan impiannya sesudah kemunculan sosok Haru, tapi di sisi lain saya bisa memahami memang di sinilah peran Haru dalam cerita. Ide yang bisa dibilang telah banyak diangkat: seseorang yang hadir untuk menginspirasi, namun tak selalu untuk dimiliki.

    Sebagai novel Kak Windry yang pertama saya baca, bisa dikatakan ini menjadi perkenalan yang menyenangkan. Saya dibuat jatuh cinta dengan gaya tulisannya sekaligus ketagihan ingin baca lebih banyak lagi karya Kak Windry.


Jumat, 21 Juli 2017

[RESENSI] Test Pack: Sejauh Mana Komitmen Membawamu

Posted by Melani Ika Savitri | 9:30:00 AM Categories:





Judul       : Test Pack
Penulis   : Ninit Yunita
Editor     : FX Rudy Gunawan
Penerbit: GagasMedia
Cetakan : keenam belas, 2013
Tebal      : xiv + 202 hlm; 13x 19 cm

BLURB:

Sebagian dari kita mungkin mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

    Will you still love them, then?
    That’s why you need commitment.
    Don’t love someone because of what/how/who they are.
    From now on, start loving someone,
    because you want to.


SINOPSIS:

  “Pernah menonton sebuah quiz dengan hadiah spektakuler sebesar 1 MILYAR RUPIAH di layar TV? Nama quiz tersebut adalah WHO WANTS TO BE A MILLIONAIRE dengan Tantowi Yahya sebagai host.
    “Dan... selama tujuh tahun, gua sering merasa sebagai orang yang duduk di kursi panas itu. Here’s the million dollar question: will I ever have a baby?”
(hal. 1-2)

    “Onde kucing tetangga gua itu memang nggak punya perasaan sama sekali. Kayaknya hanya sekali bertemu kucing jantan dan tadaaa! She’s got pregnant instantly. Now I hate cats more than anything in the world!” (hal. 53)

    “Siapa sih yang tidak menginginkan anak? Oke, terkadang anak kecil memang annoying. That’s why I hate kids sometimes. But the truth is... I want to have a baby from my wife, too. Pernah sih beberapa kali gue berimajinasi. Gue, Tata, dan si kecil yang mana gue menggendong si kecil dan Tata melingkarkan lengannya pada gue. Seperti iklan layanan masyarakat tentang keluarga berencana. Seminggu kemudian, gue mengambil hasil tes. Gue dinyatakan infertil.” (hal. 107)

    Arista alias Tata dan Rahmat Natadiningrat adalah pasangan suami istri yang telah tujuh tahun menantikan kehadiran anak. Layaknya wanita menikah yang telah melampaui usia 30 tahun pada umumnya (Tata berusia 32 tahun), Tata terobsesi untuk segera melahirkan anak. Atas alasan ‘takut’, dia belum memeriksakan diri ke dokter kandungan tentang kondisinya. Namun, segala upaya ‘alami’ telah rajin dia lakukan bersama suami. Pekerjaannya sebagai pengacara, yang sebagian besar mewakili klien untuk kasus perceraian, membuat Tata bersyukur pernikahannya bahagia, memiliki pasangan humoris yang dia cintai, kecuali tentu saja dalam hal mendapatkan momongan. Karena itulah impiannya tentang anak belum pupus. Sedangkan Rahmat yang seorang psikolog sekaligus konsultan pernikahan, juga kerap menemui pasangan yang bermasalah hingga berkonsultasi demi terhindarnya perceraian, dan dia bersyukur pernikahannya baik-baik saja.

Hingga suatu hari, ketika sahabat sekaligus rekan kerjanya mengabarkan tentang kehamilannya yang kedua, bersamaan dengan kehamilan orang-orang terdekat lain, Tata menjadi jauh lebih sensitif. Atas saran Dian sahabatnya, Tata pun akhirnya berkonsultasi pada dokter yang direkomendasikan. Lega, Tata kini memastikan kondisinya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kesuburan dan potensi untuk hamil ada. Sayangnya, tak demikian halnya dengan sang suami. Tak disangka, vonis infertil justru jatuh pada Rahmat. Fakta inilah yang kemudian mengubah segalanya. Tata dan Rahmat melalui masa sulit berdamai dengan kenyataan. Tata pun sempat menyatakan tak sanggup dan memilih menenangkan diri di rumah orangtuanya. Bagaimanapun, impiannya hancur seketika. Dia butuh waktu merenungkan kembali makna bahagia. Rahmat merasa menjadi manusia tak berguna dan suami yang patah hati. Pasangan ini menghadapi ujian terbesar atas cinta dan komitmen mereka dalam pernikahan.

REVIEW:

“Yang berbeda dari medis dan psikologis adalah bahwa dalam medis, setelah badan mati, nyawa tidak merasa sakit lagi. Dalam psikologis, ketika nyawa terluka, dia masih harus hidup dan merasakannya.” (hal. 15)

“Gue lalu memikirkan satu hal. Di luar sana ada jutaan pasangan yang susah setengah mati seperti kami untuk mendapatkan anak. Tapi tidak jarang kita melihat anak yang membentak orangtuanya. Anak yang manja, anak yang menyakiti orangtuanya. Sekarang gue tahu benar mengapa meski orang tua mencintai semua anak secara total, mereka juga sering kali, sakit hati.” (hal. 17)

“Tidak ada manusia sempurna sehingga kita semua tidak luput dari kesalahan. Di saat pasangan memiliki kelemahan, kita sering menyerangnya dengan ‘senjata’ yang kita miliki. Padahal kita tidak hidup di masa lalu. Kita hidup sekarang di mana senjata itu sudah tidak ada gunanya lagi.” (hal 111-112)

“Saat pasangan bercerai, I couldn’t help but wonder... have they forgotten the day when they fell in love?” (hal. 112)

“Banyak hubungan yang patah hilang dan berganti karena tidak memiliki komitmen. Orang sering mendasari cinta atas hal-hal yang dianggap indah. It may sound romantic dan melakukan hal tersebut bukan sesuatu yang salah... Jarang ada yang mengatakan: ‘Saya sayang dia karena saya ingin sayang dia.’ Itulah komitmen. Komitmen adalah sumber kekuatan bukan sesuatu yang justru membuat orang takut untuk menghadapinya.” (hal. 193-194)

Usai membaca blurb novel ini, sempat terpikir bahwa kisahnya akan melow. Lantas, saya juga membaca semua endorser, yang tersebar di backcover maupun halaman awal buku. Hmm... they wrote amazing comments about this novel. I’m interested. Then, tadaaa... when I read the first and the second chapter, I laughed instantly! Ninit Yunita yang juga adalah istri Adhitya Mulya ini ternyata punya selera humor yang bagus, pas dengan selera saya. Gaya berceritanya ringan, santai, dipadukan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari para tokohnya yang notabene para pekerja kantoran di Bekasi. Dia juga mampu menyisipkan adegan-adegan konyol yang berisi adegan ‘dewasa’, sindiran, maupun pertikaian pasangan suami-istri klien yang membuat saya tertawa sekaligus merana (karena adakalanya sebenarnya itu adalah adegan sedih). Ada banyak karakter annoying sekaligus lucu dalam novel ini. Misalnya dr. S. Perma dan dr. Peni. S (ya ampuun, itu nama diambil dari alat vital, bukan? Hahaha... ). Juga Sri Narsisari seorang resepsionis yang narsis, sok gaul, dan hobi bergosip. Ada juga pasangan Bapak dan Ibu Sutoyo yang kalau sedang berkonsultasi tak segan-segan ‘berkelahi’ hingga merusak barang-barang di kantor psikolog mereka. Bahkan, panggilan sayang Tata dan Rahmat saja sudah mampu membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Kakang dan Neng, 'sangat sunda', kan?

Meski demikian, tema besar tentang komitmen dalam pernikahan dan makna kebahagiaan itu sendiri tetap tersampaikan dengan baik. Cerita tidak melebar ke mana-mana seperti kisah novel bertema pernikahan umumnya, yang melibatkan unsur campur tangan keluarga besar, gangguan orang ketiga, maupun istilah-istilah dunia kedokteran yang njelimet (terkait upaya hamil). Penulis fokus pada dilema hati pasangan Tata dan Rahmat. Penggunaan POV orang pertama dari kedua tokohnya, Tata (gua) dan Rahmat (gue) pun sangat tepat, menyesuaikan fokus cerita itu sendiri. Saya akhirnya diajak menyelami perasaan dan pemikiran kedua belah pihak, pria dan wanita, sang istri maupun sang suami.

Kisah Tata dan Rahmat ingin menyadarkan banyak pasangan menikah di luar sana untuk meluruskan kembali komitmen awal pernikahan, alasan mereka mencintai pasangan, dan tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Bahwa pernyataan, ‘mencintai apa adanya’ bisa jadi bumerang suatu hari, kecuali kita memiliki komitmen. Sebuah novel ringan yang kaya pesan positif. No wonder novel ini telah dicetak ulang belasan kali, bahkan difilmkan.



  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube