Senin, 05 Mei 2014

[latihan deskripsi] Di Kafe Mie

Posted by Menukil Aksara | 2:19:00 PM Categories:


Malam itu kami putuskan melanjutkan wisata kuliner di kota Jember. Dinginnya hawa malam menusuk kulit, dibalut pula oleh hujan deras yang mengguyur kota semenjak siang. Mendung masih menggantung ketika kami keluar hotel. Halaman hotel masih basah, udara lembab. Kami menaiki sepeda motor sambil merapatkan jaket. Kehidupan malam di kota ini tak mati hanya karena air turun dari langit. Kendaraan padat berlalu lalang; pertokoan dan tempat karaoke bersahut-sahutan meriuhkan suasana malam. Lampu-lampu saling berkedip; warna-warninya memantul di kelopak mata. Setelah lima belas menit menyusuri jalanan kota, kami tiba di sebuah rumah makan. Kiri kanan jalan dipadati oleh warung internet, persewaan komputer, dan aneka warung makan. Pelataran sempit rumah makan tujuan kami disesaki kendaraan pengunjung. Empat gadis berkerudung, berpakaian kasual, tengah asyik mengobrol sambil menyantap menu pesanan mereka. Kami memilih meja kosong di dekat pintu masuk. Aku melihat cermin besar menggantung di dinding sebelah kanan. Warna merah bata dinding dan lampu-lampu menggantung ala lampion di atasku, menggelitikku untuk berfoto. Tak lama kemudian kami memesan makanan ke meja pelayanan sekaligus melirik daftar menu yang terpajang di dinding belakang meja. Nama-nama menunya unik dan harganya ramah di kantong. Pandanganku tercuri oleh sesosok pelayan. Ia berseragam sama dengan yang lainnya. Yang membuatku meliriknya tak lain karena dandanannya yang cukup menor dan gayanya yang gemulai. Ah, apakah menjadi pelayan rumah makan ala mahasiswa seperti ini harus mengubahnya menjadi lelaki gemulai sepeti itu? Aku akhirnya hanya tersenyum kecil.



0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube