Senin, 28 Juli 2014

[resensi novel] Kisah Cinta Sejati Dua Negeri

Posted by Melani Ika Savitri | 9:44:00 PM Categories:

Judul Buku   : Assalamu’alaikum Beijing – Pergi Cinta Mendekat Cinta
Penulis           : Asma Nadia
Penyunting Ahli   : dr. Lukman
Penyelaras Aksara : Fakhri Fauzi
Penata Aksara     : Nurul M. Janna
Perancang Sampul  : Tuarzuan AFC
Penerbit          : AsmaNadia Publishing House, April 2014

Blurb
    Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.
    Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama cinta. Namun, arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya.
    Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya.
    Dan di manakah Ra ketika dalam kegamangan Asma menelusuri Tembok China, menjejakkan kaki di pemakaman prajurit terakota dan menjelajah dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan?
    Dua nama, satu cinta. Bersama, mereka mencoba menaklukkan takdir yang datang menyapa.

Sinopsis
    Ra atau Asma memilih melanjutkan hidup setelah pengkhianatan sang kekasih—Dewa—yang berakibat dibatalkannya pernikahan mereka. Asma yang kemudian mendapat tugas liputan ke negeri tirai bambu berkenalan dengan pemuda bernama Zhongwen di bus yang ditumpanginya. Perkenalan singkat mereka membekaskan kesan tersendiri pada Zhongwen. Sesudah pencarian acaknya, Zhongwen berkesempatan bertemu kembali dengan Asma—yang ia panggil Ashima—di sebuah masjid tua di Xuanwu Distrik. Pertemuan kedua yang berlangsung lebih lama dari pertemuan pertama ini memperbincangkan banyak hal, termasuk kelanjutan kisah legenda cinta Ashima dan Ahei dan sekilas tentang agama. Pertemanan yang terjalin, tak terputus hingga Asma kembali ke Indonesia. Di lain pihak, Dewa yang terpaksa menikahi Anita—gadis yang menjebaknya dalam perzinaan—tak setitik pun menjumpa bahagia. Dewa bertekad kembali pada Ra (Asma) begitu ia menceraikan Anita pasca melahirkan. Tanpa diketahui Zhongwen dan Dewa, Asma tengah berjuang melawan maut akibat sindrom APS yang diidapnya. Hingga suatu hari, Zhongwen yang telah menjadi mualaf dan Dewa yang telah meninggalkan Anita datang bersamaan ke hadapan Asma. Di tengah kegamangannya akan cinta sejati dan perlombaannya dengan maut, akankah Asma memilih salah satu dari dua lelaki tampan itu? Berhasilkah Asma melawan penyakitnya? Novel religi yang manis sekaligus sarat hikmah ini akan menuntaskan kisahnya.

Kutipan-kutipan Inspiratif dalam Novel
    Novel religi setebal 342 halaman yang ditulis oleh Asma Nadia ini tak diragukan lagi keromantisan sekaligus kedalaman makna yang tersirat di dalamnya. Novel yang mengambil setting Indonesia dan China ini mengajak pembacanya larut dalam kisah dramatis tiga tokoh utamanya sekaligus berpetualang sejenak ke negeri asing dengan jejak peradaban Islam yang cukup kental. Penokohan yang pas, alur yang apik dan mengundang rasa penasaran semenjak lembar pertama, serta kutipan-kutipan sarat hikmah dan pelajaran sejarah peradaban Islam di China ini akan sangat menarik untuk dibaca. Berbagai persoalan kehidupan dirangkul di dalamnya, hubungan antar lawan jenis, hubungan anak dengan orangtua, keislaman, dan sejarah.
    Di sini saya akan menandai beberapa kutipan favorit dan saya anggap penting:
•    Untuk sampai ke The Great Wall—atau yang juga biasa disebut Long City—di China, para pelancong bisa memilih memulai dari bagian tembok yang mana. Umumnya Mutiayu atau Badaling menjadi pilihan karena lebih mudah, anak-anak tangga lebih teratur, dan perjalanan yang lebih singkat. (hal. 28)
•    Xi’an yang terletak di provinsi Shaanxi merupakan salah satu kota yang memiliki perkampungan Muslim cukup besar yang dikenal dengan nama Hui Min Jie. Dalam sejarah, suku Hui merupakan perpaduan dan keturunan suku Han dengan bangsa Persia dan Arab, sejak masa Dinasti Tang. (hal. 41)
•    Masjid Raya Xi’an merupakan masjid tertua dan terbesar di China dan menjadi jejak sejarah aktivitas dakwah para pedagang Arab dan Persia yang berlayar melalui jalur sutra dan kemudian menetap di beberapa kota seperti Ghuangzhou, Quanzhou, Hangzhou, Yangzhou, dan Chang’an atau Xi’an. (hal. 41)
•    Ada dua jenis APS atau Antiphospolipid Syndrome. APS primer artinya sindrom akan selamanya berada dalam tubuh. Tidak dapat diobati, hanya bisa dicegah agar darah tidak menyumbat bagian tubuh lain. APS sekunder akan hilang jika penderita rutin meminum obat. (hal. 163)
•    Rasa sakit akan menguatkan seseorang menapaki hidup. Penderitaan akan menumbuhkan kebijaksanaan. Kesengsaraan yang melewati batas akan melahirkan kekuatan yang tak terduga. (hal. 77)
•    Orang-orang yang sudah membuang kepercayaan yang kamu berikan, apalagi memberi akibat yang fatal, berarti telah keluar dari lingkaran hidupmu. You’ve done with him or her. (hal. 134)
•    Islam sangat rasional. Kenapa perempuan dalam Islam setelah bercerai, baru boleh dinikahi setelah tiga bulan? Karena selama itu masih ada jejak laki-laki dalam diri perempuan dan baru bisa hilang setelah tiga bulan. Dunia pengetahuan menemukan itu sekarang, sementara Islam sudah sejak dulu mengatakannya. (hal. 151)
•    Kita tak bisa menghindari takdir yang Allah berikan, tetapi bisa memilih cara bagaimana menghadapinya. (hal. 242)
•    Rasa sakit tidak berkurang ketika kita mengeluh, malah semakin menjadi rasanya. Jangan dilawan, belajar menikmati. Ada keindahan tersendiri ketika kita bisa melakukan itu. (hal. 242)
Selain kutipan-kutipan di atas, di tiap permulaan bab baru juga disajikan kutipan-kutipan puitis yang menggelitik rasa ingin tahu kita akan isi dari bab itu sekaligus kelanjutan kisah tokoh-tokohnya.
•    Harta dan kebangsawanan, tak membuat laki-laki menjadi pangeran. Cinta sejati seorang putri-lah yang mengubahnya.
•    Nafsu yang purba menyeretku ke lubang tanpa jiwa.
•    Sejarah tak mencatat para pecundang bahkan, walaupun bumi melahirkannya.
•    Api yang menari di matamu menguapkan rindu hingga pucuk keheningan.
•    Sekumpulan angin yang berbisik di antara kepak sepasang merpati juga nyanyian mistis tetes hujan saat pertunangan bunga dan kupu-kupu. Jika pernah kau mendengarnya, maka begitulah aku padamu.

Keunggulan Novel
    Novel berdesain sampul gambar tembok besar China dan didominasi warna merah menyala ini punya layout yang rapi. Sempurna dari sisi ejaan dan pemilihan font, serta proporsional dalam diksi yang digunakan. Novel ini menganut selera sastra modern yang tak terlampau mendayu-dayu gaya bahasanya. Kesederhanaan ini mendukung pesan isi novel yang lebih ingin ditonjolkan. Kisah ketabahan sosok Asma dalam melawan penyakitnya terinspirasi dari kisah nyata penulis, Asma Nadia, sehingga terasa begitu nyata dan menyentuh. Anda dijamin akan menitikkan air mata ketika menyusuri baris demi baris kalimat dalam kisah mengharukan Asma. Novel ini direkomendasikan untuk kalangan remaja dan dewasa muda yang mengandrungi novel-novel romantis namun tetap tak lepas dari identitas keislamannya. Setting luar negeri dan riset yang mendalam turut memberikan nilai plus.





Selasa, 22 Juli 2014

[review buku] Para Wanita Inspiratif Itu Dekat Dengan Kita

Posted by Melani Ika Savitri | 8:27:00 PM Categories:

Judul Buku             : 42 Kisah Wanita Inspiratif Indonesia
Penulis                : Risty Arvel, Ocha Thalib, Nenny Makmun, dkk

Pemerhati Aksara       :  Risty Arvel
Pewajah Sampul         : de A Media Kreatif
Penata Letak Isi       : de A Media Kreatif
Penerbit               : Meta Kata, Juni 2014

Blurb
    Tak perlu terlalu cemerlang, karena kau telah menjadi cahaya dalam hidupku. Tak harus seindah permata, jiwamu lebih bersinar dari perhiasan mana pun. Dan walau tak terlihat hebat, bagiku kau telah mampu menginspirasiku untuk berbuat lebih baik. Duhai, wanita inspirasiku...

Sinopsis
    Berpijak dari inspirasi sosok Kartini, tim penulis buku ini hendak mengangkat kisah-kisah inspiratif dari sosok-sosok yang berada di sekitar kehidupan wanita Indonesia. Mereka disebut sebagai sosok-sosok Kartini Baru yang menghasilkan mahakarya abadi, yang mampu menginspirasi wanita lainnya untuk menjadi lebih berdaya. Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah nyata yang dituturkan para penulisnya sekaligus hasil sebuah event menulis antologi bersama yang diadakan oleh penerbit.

Kisah-Kisah Inspiratif Dalam Buku
    Dari 42 kisah perempuan inspiratif Indonesia yang dituturkan dalam buku ini, sebagian besarnya mengangkat sosok ibu dan istri yang dekat dengan kehidupan penulis. Sebagai contoh, kisah yang dituturkan oleh Lenni Ika Wahyudiasti di halaman 40-43 berjudul ‘Mbak Yah Mencari Syorga’ mengangkat pengabdian seorang istri yang menjadi tulang punggung keluarga semenjak di-PHK-kannya sang suami. Di tengah kerasnya membanting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan berjualan, perempuan bernama Mbak Yah ini pun masih mengingat tugasnya sebagai seorang menantu yang berbakti dan merawat mertuanya tatkala sakit dengan ikhlas.
    ‘Dia Pengganti Ibu’ mengisahkan keteguhan dan kebesaran hati seorang remaja perempuan yang mengambil alih tanggung jawab ibunya yang telah tiada. Dia mengurus segala keperluan sehari-hari adik-adiknya, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, di saat dia sendiri disibukkan oleh tugas sekolah (hal. 29-32).
Kisah mengharukan lainnya berasal dari seorang penulis bernama Miss Qwerty. Mengambil judul ‘Nasi Basi’, penulis menceritakan ketulusan dan pengorbanan seorang wanita paruh baya yang mengasuh cucu-cucunya kala ibu mereka terpaksa mengais rezeki di negeri orang sebagai buruh migran. Sang perempuan tua ini bahkan rela mengumpulkan nasi basi dari tetangga kanan-kiri untuk dikeringkan lantas dijual demi membantu pembiayaan sekolah cucu-cucunya dan menyisihkan sebagian uangnya yang tak seberapa sebagai tabungan sekolah (hal. 93-96).
    Meski kisah-kisah di dalam buku ini didominasi oleh kisah-kisah dari para wanita sederhana nan luar biasa yang dekat dengan kehidupan para penulisnya, ada juga penulis yang mengangkat kisah-kisah dari wanita panutannya yang nama mereka telah dikenal luas oleh masyarakat. Kedua kisah tersebut berjudul ‘Uncommon Women’ di halaman 47-49, menuturkan sekilas perjalanan hidup seorang penulis wanita Indonesia, Asma Nadia. Kisah Ibu Ratna Megawangi, seorang aktivis perempuan Indonesia, direkam dalam kisah berjudul ‘Ratna Megawangi, Namanya Harum Mewangi ke Pelosok Negeri’ (hal. 147-150).

 
Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Buku yang ditulis oleh penulis-penulis wanita ini menyentuh hati pembaca sekaligus ringan dibaca. Bahasanya yang naratif dan jumlah halaman tiap kisahnya yang tak terlampau panjang membuat pembaca tidak terlalu bosan menelusuri tiap lembarnya. Jenis huruf dan ukuran yang digunakan pun cukup besar dan jelas sehingga tidak menyakiti mata yang membaca. Layout dan desain sampulnya cerah, feminim dengan hiasan bunga-bunga warna-warni menegaskan sisi feminim dari penulis maupun wanita-wanita yang dikisahkan. Kehadiran pelengkap berupa pembatas buku turut mempermanis.
    Laiknya buku-buku lain sebagai karya manusia yang selalu ada celah cela, buku ini pun menyelipkan kesalahan ketik, ejaan dan pemakaian kalimat efektif di beberapa bagiannya. Sebagai asupan gizi bagi hati, buku ini layak direkomendasikan bagi para wanita Indonesia yang haus akan keteladanan yang dapat dengan mudah dijumpai di sekitar mereka. Saya memberikan 3,5/5 bintang bagi buku ini.


[review buku] Stupid Love Stories – Agar Tak Dibodohi Oleh Cinta

Posted by Melani Ika Savitri | 8:18:00 PM Categories:

Judul Buku                : My Stupid Love – Agar Cinta Tak Bikin Kau Gila
Penulis                      : Afifah Afra, Riawani Elyta, Linda Satibi, dkk
Penyunting Bahasa     : Aisyah Biru
Penata Letak             : Mas Liek
Desain Sampul          : Andhi Rasydan
Penerbit                    : Indiva, Januari 2014

Blurb
    Pasti lagi ada gempa bumi di hatimu.
    Lho, kok tahu sih?
    Iya, soalnya getarnya terasa hingga hatikyuh

    Beuhh... ngomongin soal cinta memang tak ada habis-habisnya. Ada yang langsung panas dingin, ada yang mendadak kesetrum, ada yang tiba-tiba melayang ke udara, lalu tersangkut di bulan dan nggak bisa kembali ke bumi. Cinta, konon memiliki energi luar biasa. Saking luar biasanya, sampai rambut yang awalnya lurus, akan jadi keriting saat dialiri cinta.

Sinopsis

    Cinta selalu bisa bikin gila. Juga bikin oon, alias menggerus separuh kecerdasan. Bagaimana bisa? Menurut para ahli, kalau sedang dibanjiri emosi, otak kita memang lebih mirip otak reptil ketimbang otak manusia. Ada sebuah peristiwa di otak yang disebut ‘Pembajakan Emosi’, yakni tindakan spontan tanpa mempertimbangkan logika—terhadap sebuah respon yang bersifat emosional. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang sedang jatuh cinta seperti kehilangan kendali, bahkan cenderung menjadi stupid.  Meski demikian, cinta sesungguhnya bisa dikelola agar tidak membabi-buta. Cinta yang benar adalah cinta yang menghidupkan, menginspirasi, dan mendorong ke arah kebaikan. Tujuh penulis yang memiliki kepedulian terhadap remaja yang menuturkan kisah-kisah cinta stupid di dalam buku ini berharap pembaca bisa mengambil hikmah sehingga tidak salah langkah mengelola cinta.

Kisah-Kisah Ajaib dalam Buku

    Buku setebal 232 halaman ini memuat 12 kisah cinta menggelikan namun menginspirasi. Bahasa yang digunakan pun bahasa gaul ala remaja masa kini dengan celupan humor di sana-sini. Halaman pertama mengawal kisah lewat interogasi penuh motif oleh penulis Afifah Afra. Yang menjadi target tanya-jawab cinta kali ini adalah seorang laki-laki—sebut saja namanya Ferry—yang ‘ditodong’ untuk buka-bukaan terkait pengalaman ajaibnya menjadi seorang player. Sang mantan Don Juan ini sudah menikah dan benar-benar telah tobat. Dia mengisahkan awal mula petualangan cintanya di masa remaja lengkap dengan lika-liku pendekatan, penembakan, penolakan, hingga perselingkuhan. Menurut pengakuannya, perempuan-perempuan muda yang pernah dekat dengannya berbilang lebih dari sepuluh orang. Bermula dari dendamnya setelah ditolak oleh seorang gadis yang ditaksirnya, Ferry lantas ketagihan bergonta-ganti pacar dan teman dekat tanpa status jelas. Dan dari penuturannya pula terkuak bahwa salah satu penyebab utama petualangan cintanya adalah kekurangdekatannya dengan keluarga. Kehadiran seorang pacar dirasa bisa mengisi kekosongan akan kebutuhan seorang teman. Ironisnya, meski mantan playboy, Ferry mengaku tetap mendambakan seorang perempuan baik dan shalihah sebagai istri dan ini pun benar-benar terjadi, di mana istrinya sekarang adalah sosok jilbaber yang taat beribadah. Bila mendengar kisah ini tentulah kita akan eneg banget, padahal tak dipungkiri masih banyak playboy yang lebih sadis lagi perlakuannya pada perempuan di luar sana. Wawancara eksklusif di atas kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Afifah Afra dalam poin-poin penting yang melatarbelakangi lahirnya para playboy ini beserta karakter-karakter yang biasanya melekat pada diri mereka (hal. 7-44).
    Kisah-kisah selanjutnya mengupas habis fakta-fakta menyentil tentang cinta monyet, cinta yang menipu dan menjerumuskan. Misalnya kisah yang dituturkan oleh Riawani Elyta tentang seorang anak gadis yang salah mengartikan pengawasan ketat ayahnya sebagai pengekangan. Ia baru benar-benar tersadar kala seorang remaja lelaki yang sempat ia puja-puja menorehkan trauma dengan kebejatan yang nyaris merenggut kehormatannya (hal. 45-67).
    Kisah menarik lain dibingkai apik dengan humor menggelitik ditulis oleh Pipi Kaira. Kisah berjudul unik—‘Pacar Siri’—ini menyindir fenomena pergaulan yang salah di kalangan remaja masa kini. Pacaran menjadi bukti eksistensi diri dan sebuah hubungan saling menguntungkan sesaat belaka. Mempunyai lebih dari satu pacar seakan menjadi tren. Padahal satu pacar saja sudah mengantarkan pada dosa mendekati zina, apalagi lebih dan itu hanya untuk ajang bersenang-senang (hal. 149-154).
    Kisah-kisah berikutnya mengulik aneka fenomena masih terkait cinta yang membodohkan. Sebut saja kisah cinta pertama masa sekolah ‘Behelku Sayang Behelku Malang’ yang menyindir makna cinta yang begitu dangkalnya sebatas penampilan dan selera (hal.107-121). Juga kisah ‘My Stupid First Love’ seorang jilbaber aktivis dakwah yang terjerumus dalam pacaran terselubung dengan rekan satu organisasi (hal. 69-93).
    Di dalam buku ini para pembaca dari kalangan remaja akan cukup dimanjakan dengan istilah-istilah semacam woles, keles, cupu, move on, PHP, TTM, yang lekat dengan perbendaharaan bahasa anak muda. Diksi yang dipakai nyaris di semua kisah pun jauh dari kesan formal sesuai EYD laiknya buku-buku bacaan pada umumnya. Guyonan segar sekaligus menohok pun dapat ditemui, terutama di kisah ‘Pacar Siri’ dan ‘My Stupid First Love’. Beberapa penulisnya yang memang masih muda turut mendukung gaya penceritaan.

Keunggulan dan Kelemahan Buku
    Buku ini ringan, segar, sekaligus memberi pencerahan bagi pembacanya. Terdapat beberapa diksi unik yang dipergunakan, semisal klepas-klepus, petantang-petenteng, menekuklututkan, kluwuk, seneb, kolah, slulup, ngelangut, nyusruk, mobil damkar yang membuat kita mengernyit dan tertarik untuk menelisik maknanya. Pengajaran yang disodorkan oleh kisah-kisah dalam buku ini pun sangat dekat dengan dunia remaja yang nyata dibarengi pesan teguran tanpa suguhan yang njlimet dan membuat enggan untuk membaca. Desain sampulnya yang lucu, imut, didominasi warna kuning bersemu oranye menambah daya tarik pertama buku ini.
    Terkait kurang sempurnanya ejaan, salah pengetikan, dan kalimat yang kurang efektif, memang masih dijumpai di beberapa bagian buku. Hal ini barangkali bisa diperbaiki seandainya buku ini dicetak ulang.
    Bagaimanapun, buku ini patut mendapat apresiasi yang bagus sebagai bacaan mendidik untuk remaja Islam. Kalangan muda yang acapkali menjadi korban salah pergaulan dan kebebasan yang kebablasan patut memperhitungkan buku semacam ini sebagai bacaan mereka. Saya memberikan 3,5/5 bintang untuk kehadiran buku motiva remaja ini.
   


Sabtu, 19 Juli 2014

[review buku] Raih Surga dan Kemuliaan Berkat Lansia yang Hidup Bersama Kita

Posted by Melani Ika Savitri | 1:37:00 PM Categories:

Judul Buku              : Cinta dan Harapan di Masa Tua – Tips dan Panduan
                                  Untuk Anak yang Tinggal Serumah dengan Orang Tua/
                                   Mertua Agar Menyenangkan dan Penuh Berkah
Penulis                    : Indah I.P., Haya Aliya Zaki, dkk
Editor                      : Naqiyyah Syam
Editor Penerbit         : Muhammad Ilyasa
Desain Sampul         : msfstudio7
Desain Isi                : Muhsinul Fajri
Penerbit                  : Jendela-Lini Zikrul Hakim, Juli 2013

    Masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu tua. Itulah fase kehidupan yang harus dilalui setiap anak manusia yang terlahir ke dunia. Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Mungkin kelak—atau sekarang pun sudah—kita akan menghadapi hidup bersama ayah-ibu, mertua, kakek-nenek, atau saudara yang telah beranjak lansia. Ini menjadi tantangan tersendiri yang lantas mengantarkan kita pada dua pilihan: membuka pintu surga atau menguak keburukan pada sifat dan sikap kita. Suka duka yang selalu menghampiri ketika hidup bersama para lansia terpampang lewat kisah-kisah nyata yang dituturkan oleh para penulis dalam buku ini.

Sinopsis
    Dunia lansia (lanjut usia) adalah dunia yang unik. Di dalamnya penuh tantangan yang menguji kesabaran, keharuan, keikhlasan, bahkan kelucuan yang menggelikan. Semuanya disebabkan perilaku lansia yang tak jarang kembali seperti anak kecil. Kondisi fisik pun telah jauh menurun sehingga menghambat gerak bebas lansia. Bagi mereka yang dekat dengan Allah, lansia bisa menjadi ladang amal yang tak pernah kering demi menggapai ridho Allah. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang kuat kesabarannya, lansia bisa menjadi pintu pembuka keburukan diri. Kekurangpahaman atas dunia lansia pun dapat menjadi penyebab lain terkuaknya tabir kelemahan diri. Buku yang ditulis oleh 20 penulis wanita ini berisi pengalaman-pengalaman pribadi penulis maupun orang lain yang dituturkan lewat goresan pena penulis. Kisah-kisahnya mencoba menyingkap tabir dunia lansia, dengan harapan, kita tak salah bersikap dan tak berujung pada gagalnya meraih surga dan ridho-Nya.

Kisah-kisah Inspiratif dalam Buku
    “Sebelum meninggal di Mekah dulu, Opa berpesan, ‘Andaikata aku sudah tidak ada lagi, Bu, pergi dan tinggallah bersama anak kita, Tuti. Karena dia orang yang penyabar dan penyayang.’ Oma menatap saya sambil tersenyum lalu melanjutkan, “Kata-kata itu selalu Oma ingat. Sekarang terbukti benar. Hanya Mama kamu yang paling bisa merawat Oma dengan sabar dan penuh kasih sayang. Di sini hati Oma tenang dan bahagia.” (hal. 9)
    Cuplikan dialog di atas merupakan bagian dari sebuah kisah mengharukan yang dituturkan oleh Indah I.P., salah seorang tim penulis buku ini.  Kisah berjudul Mencintaimu Sepanjang Usiaku ini mengangkat tokoh seorang anak perempuan yang begitu sabar dan telatennya mengurus sang ibu yang telah renta. Sang ibu yang semasa mudanya adalah sosok yang aktif dan berprestasi, berubah menjadi sosok lemah di usianya yang menginjak 82 tahun. Dia menggantungkan setiap jengkal aktivitasnya pada bantuan sang anak perempuan. Berbekal keikhlasan dan kasih sayang tiada batas pada ibunya, sang anak perempuan mengatur jadwal kegiatan ibunya sedemikian rupa sehingga sang ibu selalu tampak segar, sehat dan bahagia. Kelelahan fisik yang mendera karena ketiadaan asisten, sempat membayangi. Namun berkat kesabaran dan kerja sama yang baik dengan anggota keluarga lainnya, rintangan itu berhasil ditepis.
    “Hari-Hari Senja Ayahku” merupakan tulisan di lembar-lembar akhir buku yang ditulis oleh Wylvera W. Tulisan ini menarik, mengambil kisah sosok seorang ayah yang sempat kecanduan rokok sehingga berdampak buruk pada kesehatannya di masa tua. “Kalau kalian bilang, gara-gara rokok umur seseorang lebih pendek dari yang tidak merokok, kelirulah itu! Lihat, teman-teman Papa yang tak pernah menghisap rokok. Mereka malah terjangkit macam-macam penyakit. Sementara Papa? Alhamdulillah sampai setua ini masih sehat-sehat saja.” (hal. 201)
    Sikap keras kepala yang digambarkan lewat penggalan dialog di atas menyiratkan sulitnya menangani sang ayah yang berupaya dijaga kesehatannya oleh anak-anaknya. Pada saat penyakit paru-paru benar-benar mendera, barulah kesadaran yang terlambat itu menghampiri. Hari-hari yang kemudian dijalani menjadi lebih berat, dihantui rasa pesimis dari sang ayah. Berbagai suntikan kalimat penyemangat, pendampingan, pengobatan, diupayakan demi kesembuhan sang ayah.
    Satu kisah terakhir yang ingin saya nukilkan di sini adalah kisah seorang Mbah Suli yang terlantar. Kisah memiriskan hati ini dituturkan oleh Nunik Utami. Kisah ini mengambil sudut pandang orang luar, tetangga dekat Mbah Suli. Mbah Suli mendapat perlakuan kasar dan sewenang-wenang dari sang anak perempuan. Perlakuan tak manusiawi ini dilatarbelakangi himpitan ekonomi dari sang anak yang tak lagi bekerja, hanya mengandalkan uang bulanan suami yang tak seberapa dan anggapan bahwa usianya yang telah senja menjadi beban bagi hidup sang anak. Yang menyedihkan adalah ketika Mbah Suli tidak bersedia pindah ke rumah anaknya yang lain yang notabene jauh di luar kota, semata karena keengganannya berpisah dengan kampung halaman. Mbah Suli menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah gubuk tak layak huni setelah diusir dari rumah anak perempuannya.

    Keunggulan Buku
    Perwajahan buku ini memang tak glamor, lebih kepada kesan sederhana dengan balutan warna hijau pupus dan putih pada sampulnya. Gambar kursi roda menjadi simbol kelemahan lansia, namun diimbangi dengan gambar dan tulisan cinta di sampingnya. Buku ini adalah buku sarat hikmah yang jauh dari kesan menggurui. Kisah-kisahnya ditulis dengan hati, mencurahkan segenap cinta pada orang-orang terkasih ataupun empati pada para lansia di seputaran hidup penulisnya. Gaya penuturan yang tak seragam, kisah yang berwarna-warni, menjadi kekayaan yang dapat digali dari buku inspiratif ini. Selain itu, poin plus juga disajikan lewat tips-tips sederhana dan aplikatif yang dirangkum di bagian akhir buku. Tips-tips ini berisi aneka panduan seputar pendampingan dan perawatan para lansia. Terlepas dari aneka teknik perawatan yang disarankan, inti dari semuanya tetaplah terletak pada keikhlasan dan kesabaran tiada bertepi. Karena semua yang datang dari hati yang tulus akan menciptakan detak-detak kasih sayang yang mampu tertangkap oleh hati si penerima. Saya memberikan 4,5/5 bintang untuk buku ini, terlepas dari setitik kesalahan ejaan yang sudah lumrah ada di buku manapun. Buku istimewa ini tak mudah dijumpai mengingat topik yang diangkat dan gaya penuturan yang khas.



Kamis, 17 Juli 2014

Aku Bangga Dengan Namaku

Posted by Melani Ika Savitri | 11:05:00 PM Categories:


    Sepasang mata bening itu menatap layar televisi di depannya nyaris tanpa kedip. Beberapa jenak kemudian mengerjap-ngerjap. Pemilik sepasang mata itu bahkan tak menyadari kehadiran sang mama.
    “Kak Abdullah asyik sekali menontonnya,” tegur sang mama.
    “Ssst... jangan kencang-kencang, Ma,” bisik Abdullah sembari menunjuk sesosok hafidz cilik di layar kaca.
    Sang mama tersenyum geli. Ia lantas menjajari duduk anak sulungnya itu.
    “Wah, hebat! Lancar!” pekik Abdullah.
    “Kakak juga bisa lho seperti adik kecil di televisi itu,” celetuk sang mama.
    Abdullah sontak memalingkan wajah ke arah mamanya. “Iya, Ma. Abdullah ingin seperti dia. Abdullah malu. Kan Abdullah lebih besar darinya.”
***
    Semenjak hari itu, Abdullah benar-benar menunaikan janjinya untuk setekun sang bocah lelaki penghafal Al-Qur’an di acara televisi. Syaamil Qur’an kesayangannya menjadi peneman kesehariannya.
    “Kak, tolong temani adik bermain sebentar, ya! Mama harus menyiapkan menu berbuka,” pinta sang mama pada Abdullah yang sedang khusyu’ bertilawah di dalam kamar.
    Abdullah bersungut-sungut meski badannya bangkit keluar kamar. “Ah, Mama. Nggak bisa lihat aku sedang menyelesaikan bacaan!”
    Sang adik, Ahmad, yang masih balita tampak berlarian di ruang tengah.
    Keesokan harinya, Abdullah kembali mendengus kesal tatkala diingatkan sang mama untuk membereskan kamar dan mengerjakan tugas sekolah.
    “Mama perhatikan, Kakak kok sering cemberut dan bersungut-sungut tiap kali Mama menyuruh melakukan sesuatu. Kenapa?”
    “Karena Mama mengganggu tilawah Kakak!”
    Mama terhenyak kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Beberapa saat kemudian Mama berujar, “Kakak tahu kan mengapa Mama memberi nama Kakak Abdullah?”
    “Iya. Karena Abdullah adalah nama yang dicintai Allah.”
    “Sekarang Mama akan berkisah tentang salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash.”
    Abdullah memicingkan mata. Ia lantas menatap lekat mamanya.
    “Sahabat ini sangat mencintai ibadah. Bahkan saking cintanya, ia terus-menerus berpuasa, shalat, bertilawah, tanpa mempedulikan keluarganya. Suatu hari, Nabi menemuinya.”
    Mama memberi jeda pada kisahnya.
“Nabi bertanya apakah Abdullah bin Amr bin Ash bertilawah sepanjang malam tanpa tidur. Abdullah membenarkan. Lalu Nabi menyarankan agar Abdullah bertilawah sampai khatam dalam satu bulan. Kalau bisa lebih cepat, khatam dalam sepuluh hari. Kalau bisa lebih cepat lagi, dalam tiga hari.”
    Abdullah masih menyimak kisah mamanya, ketika sang mama melanjutkan,”Nabi pun bersabda bahwa sesungguhnya Nabi juga istirahat dan memberi hak pada keluarganya.”
    Abdullah tercenung. Tampaknya ia sedang berupaya memahami perkataan Nabi dalam kisah itu. Sesudah cukup lama terdiam, Abdullah berkata, “Kalau begitu Abdullah juga salah, ya, Ma. Maafkan Abdullah, ya, Ma.” Abdullah teringat sikapnya beberapa hari ini setiap Mama meminta tolong atau mengingatkan.
    Mama tersenyum. “Iya, sayang, Mama maafkan. Kakak tetap harus rajin membaca Qur’an, tapi jangan lalai dengan kewajiban lainnya.”
    “Dan sebagai hadiah atas ketekunan Kakak, Ayah menghadiahkan My First Al-Qur’an ini,” ucap Ayah yang ternyata telah berdiri di belakang Abdullah.
    Abdullah terpana menerima sepaket Al-Qur’an lengkap dari ayahnya. Ia tersenyum sumringah dan berucap terima kasih seraya berkata, “Abdullah berjanji akan mencontoh sahabat Abdullah bin Amr bin Ash. Aku bangga memiliki nama Abdullah!” ucap lantang Abdullah diiringi senyum lebarnya.


*jumlah kata 466
*diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerita Anak #AyoNgajiTiapHari Syaamil Qur'an

[resensi novel] Mengulik Kelamnya Hidup Para ODHA dalam Pengisahan yang Membuka Hati

Posted by Melani Ika Savitri | 10:49:00 PM Categories:

Judul Novel             : Jasmine – Cinta yang menyembuhkan luka
Penulis                    : Riawani Elyta
Penyunting              : Mastris Radyamas
Penata Letak           : Puji Lestari
Desain Sampul        : Andhi Rasydan
Penerbit                   : Indiva, April 2013

ODHA—Orang Dengan HIV/AIDS—kerapkali dikucilkan dan dicibir, bahkan dicap sebagai sampah masyarakat. Bukan semata akibat salah kaprah, namun juga karena sebagian besar pengidapnya adalah orang-orang yang menyimpang perilaku sosial dan seksnya. Di lain pihak, ada pula fenomena cyber crime yang disutradarai oleh para crackers yang cenderung meresahkan. Dua topik besar ini belum terlampau banyak diangkat ke dalam novel fiksi, apalagi fiksi yang menginspirasi. Riawani Elyta, seorang novelis yang telah menulis sederet novel dan karya lain bersama dengan prestasi-prestasinya, mencoba menuangkan ide besarnya dalam novel yang juga memenangkan penghargaan di ajang lomba menulis novel inspiratif Indiva ini.

Sinopsis
Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, kasih sayang yang nihil dirasakannya dari seorang terkasih bergelar ibu, ia terhempas dalam lubang kelam human trafficking dan prostitusi belia. Namun keindahan parasnya pulalah yang lantas menawan hati seorang pemuda tampan putra seorang konglomerat yang sekaligus dedengkot jaringan Cream Crackers, Dean Pramudya -The Prince. Di tengah liku pelariannya, Jasmine bersua sosok Malika, yang mengantarkan secercah hidayah. Ada pula Rowena, wanita yang menelusuri keberadaan putri sulungnya dan sempat menyangka Jasmine sebagai putrinya tersebut.  Dean, Malika, dan Ibu Rowena menjadi penyemai cinta di hati Jasmine. Cinta yang membebat luka. Hingga ujian hidup lain kembali menghampiri dan menyodorkan vonis penyakit mematikan pada Jasmine.

Isi Menarik Novel
Novel bernuansa hijau cerah dan putih di sampulnya ini terkesan feminin, dengan sebuah potret wajah berparas cantik di ujung atasnya. Novel ini adalah novel ketiga dari penulis yang saya baca dan paling tebal jumlah halamannya (318 halaman).
Sebagai novel pemenang sebuah ajang bergengsi, novel ini menghadirkan tema tak biasa yang sarat detil setting, diksi apik, konflik yang memacu adrenalin dan rasa penasaran, dan tak ketinggalan inspirasi dari kisah cinta yang juga tak biasa.
Proses mix and match antar beberapa tema—pelacuran, perdagangan anak, cyber cryme, ODHA—konflik, dan penokohan yang notabene tak pernah bersinggungan langsung dengan rutinitas sehari-hari penulis, tentu bukanlah hal mudah. Oleh sebab itu, tak pelak ada saja celah ketidaksempurnaan dalam detil deskripsi setting maupun aktivitas tokoh, misalnya mengenai crackers. Kita jelas akan lebih dimanjakan detil jika dihadapkan pada kisah crackers atau hackers yang ditulis oleh sang pelaku sendiri atau setidaknya sang ahli teknik pemrograman komputer. Walau demikian, istilah-istilah di dalam novel, seperti skimmer, soft attack, hamster, flooding program, banking fraud, cukup mewakili penggambaran dunia cyber crime.
Diksi yang apik dan segar juga dapat dijumpai dalam novel ini, menambah nilai keindahan alurnya. Setting utama kota Batam yang dipilih penulis juga turut menghidupkan cerita, apalagi nampaknya ini bukan kali pertama penulis mengambil Batam sebagai setting novelnya (sebelumnya di novel The Coffee Memory). Barangkali karena Batam juga familiar mengingat domisili penulis di Riau. Selain itu, pelacuran dan kota industri adalah dua sejoli yang tak dapat dipungkiri keserasiannya.
Pengisahan takdir kelam para ODHA yang tak semata para pelaku penyimpangan seks juga dieksekusi apik. Jasmine kakak Luthfi dan Malika dijadikan perwakilan wanita-wanita baik yang berjodoh dengan mantan pecandu dan harus menelan pahitnya vonis AIDS sepeninggal pasangan hidupnya. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya mengetahui riwayat kesehatan dan penyakit serius dari calon suami/istri kita sehingga kelak siap dengan konsekuensinya. Kisah Jasmine yang awalnya menderita Herpes menyusul AIDS juga menyentak kesadaran bahwa zina apalagi berganti-ganti pasangan terlampau berat resikonya. Human trafficking yang diceritakan mengeksploitasi perempuan belia demi rupiah pun bukan rumor tak berdasar dan kita akan memahami kasus penentangan ditutupnya lokalisasi semacam Dolly oleh para pelaku mafia prostitusi. Mereka telah dibutakan oleh kesenangan duniawi dan kemudahan yang diperoleh dengan menindas yang lebih lemah; tak heran jika menolak mentah-mentah kemudahan itu dihapuskan.

Kutipan adegan yang saya sukai dalam novel ini antara lain:
•    Rowena mendekatkan lagi bibirnya ke telinga Malika. “Dalam beberapa hari ini, apa yang saya tahu, Jasmine telah mulai menunaikan shalat, fisiknya juga beransur membaik. Saya yakin, Allah telah mengatur pertemuan Jasmine denganmu. Meski pertemuan itu sangat singkat, namun Allah telah memilihmu untuk menitipkan hidayah-Nya pada Jasmine, untuk mengingatkan Jasmine agar kembali ke jalan-Nya... “ Dari ujung kedua mata Malika, mengalir tetes bening. (hal. 260)
•    “... Aku baru sadar bahwa tidak ada takdir-Nya yang sia-sia. Semua orang yang dikaruniai nikmat usia, pasti akan menjalani hidup seperti perputaran roda... dan sekarang, memiliki Ibu dalam hidupku adalah kebahagiaan terbesarku... “ (hal. 291)
•    “... Vonis itu tak mampu meruntuhkan semangat hidupku setelah kepahitan demi kepahitan beruntun kualami. Aku yakin, Allah telah menyiapkan sesuatu untukku di akhir perjalanan nanti. Sesuatu yang Ia berikan atas nama kasih sayang pada hamba-hamba-Nya, meski sang hamba tak lagi punya harga dan derajat di mata manusia... “ (hal. 315)

Kelebihan dan Kekurangan Novel

    Di samping setitik kesalahan ketik dalam penulisan novel ini, saya menyukainya lebih dibandingkan dua novel penulis lainnya, The Coffee Memory dan A Miracle of Touch. Menurut saya, keberanian, kejelian, dedikasi penulis dalam melakukan serangkaian studi atas topik dan eksplorasi penokohan tergambar dalam novel ini. Saya pun menyukai penuturan sisi cinta yang tak melulu antar lawan jenis dalam novel ini, tapi juga cinta seorang ibu dan sesama manusia. Kepahitan hidup seorang Jasmine maupun kekecewaan seorang Dean pada keluarganya mewakili ketidaksempurnaan manusia dan menyentuh ceruk hati terdalam pembaca. Untuk itu, saya memberikan 4,5/5 bintang bagi novel inspiratif yang satu ini.


[resensi novel] Kisah Romansa Beda Budaya Dibalut Intrik Klasik

Posted by Melani Ika Savitri | 10:40:00 PM Categories:

Judul Novel                  : A Miracle of Touch
Penulis                         : Riawani Elyta
Penyunting                   : Yuliyono
Desain Sampul dan Isi : Marcel A.W.
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama, 2013

    Kisah romansa dua anak manusia berlatar perbedaan, entah itu beda budaya, beda latar belakang sosial, bahkan beda keyakinan, dijejali intrik apik memang tema klasik yang tak lekang untuk diperbincangkan, pun dituliskan dalam novel. Kisah Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Romeo and Juliet, hingga Cinderella adalah contoh-contoh kisah cinta klasik yang masih dikenang tak tergerus oleh zaman.
    Novel yang menyuguhkan tema serupa dipoles dengan nuansa kekinian dan setting negara tetangga yang telah tersohor dihuni oleh penduduk multi etnisnya—Singapura—ini mencoba menyita minat pembaca lewat jalinan ceritanya.

Sinopsis
Talitha, seorang dietician berkewarganegaraan Indonesia yang menetap dan bekerja di Singapura tengah dihimpit oleh persoalan permohonan perpanjangan izin kerjanya yang terancam tidak dapat diperpanjang. Sebagai tumpuan ibu dan kedua adik perempuannya yang telah kehilangan kepala keluarga, Talitha memaksakan diri pada sebuah keputusan irasional dan nekat dengan menikahi Ravey, anak lelaki sulung keluarga Malhotra, berdasar kesepakatan simbiosis mutualisme. Namun selaiknya pernikahan yang tak dilambari ikatan kasih sayang yang kokoh, pernikahan semu Talitha dan Ravey menemui ujian demi ujian yang kian lama kian menyudutkan Talitha. Berawal dari sikap tak bersahabat yang nyata-nyata ditunjukkan oleh Laksmi Malhotra, sang ibu mertua, Talitha juga ditelikung oleh Mary Jane, seorang perempuan asing yang mengaku tengah menanti benih yang disemai Ravey dalam rahimnya. Klimaksnya, Ravey mengalami kecelakaan mobil yang nyaris menewaskannya disertai dugaan sabotase yang semestinya ditujukan demi menghilangkan nyawa Talitha. Ketegangan pun meruncing disusul dengan pengusiran Talitha dan menyisakan misteri terkait siapa sutradara di balik sabotase mematikan tersebut. Di belakang hari terbit kabar bahwa Laksmi Malhotra divonis mengidap depresi berat yang mengancam kesehatan jiwanya. Di antara lilitan masalah pelik ini, Talitha dan Ravey berupaya mempertahankan keutuhan pernikahan sekaligus menyambung kembali jalinan cinta mereka yang sempat pudar dan menggantung.

Isi Menarik Novel
    Ide cerita novel ini terbilang klasik, kisah cinta yang sempat dihinggapi perbedaan dan sulit menyatu, dibayang-bayangi ancaman dari pihak luar yang berupaya memisahkan. Karakter kedua tokoh utama, Talitha dan Ravey yang digambarkan rupawan secara fisik, dengan latar belakang ekonomi sang tokoh wanita yang lebih rendah, menguatkan tema klasik tersebut. Apalagi sang tokoh prianya berasal dari keluarga kaya raya yang mirip aristokrat dengan sifat-sifat yang kurang dewasa, cenderung seenaknya, dikuasai oleh orangtua, menjadi ciri khas dari karakter anak lelaki dari keluarga konglomerat. Ide pernikahan berdasarkan saling menguntungkan dan sebatas formalitas di awalnya lantas berubah menjadi cinta sesungguhnya menjadikan sang tokoh perempuan mirip karakter-karakter tokoh dalam telenovela atau melodrama klasik.
    Setting negara Singapura dengan keberagaman etnisnya menjadi daya tarik utama novel ini. Keluarga Malhotra mewakili budaya India yang masih kental dipadukan dengan budaya Indonesia dari keluarga Talitha. Penuturan-penuturan menggunakan bahasa Hindi dan Inggris, serta uraian-uraian singkat sambil lalu seputar budaya kedua bangsa membangun keotentikan setting cerita.   
    Intrik-intrik yang dirancang untuk membangun konflik bisa dikatakan sudah cukup lazim dan nyaris mudah tertebak—misalnya munculnya orang ketiga yang mengaku-ngaku hamil ataupun kawan lama yang lantas dituding mempunyai kedekatan khusus—kecuali bumbu-bumbu gangguan kejiwaan pada tokoh Laksmi yang cukup beda. Eksplorasi tokoh Ravey menurut saya masih kurang, termasuk detil masa lalunya, passion-nya pada seni, dan kesehariannya dalam bisnis keluarga, termasuk seluk-beluk bisnis itu sendiri. Selain itu, satu hal yang cukup mengganggu saya adalah tokoh Talitha yang dikisahkan masih memiliki darah campuran Indonesia-Prancis. Mengapa ia tak digambarkan saja sebagai perempuan pribumi yang mewakili budaya Indonesia seutuhnya dengan paras ayu khas Melayu? Toh perempuan pribumi yang ayu tak kalah cerdas dan mahirnya berbahasa asing jika dia mau. Bagaimanapun, imej cantik dan tampan dalam penokohan novel romantis klasik masih melekat kuat dalam novel ini, meski terdapat penekanan bahwa sang pria jatuh cinta lebih karena kecerdasan dan keberanian sang wanita (hal. 156).

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Novel dengan ketebalan 234 halaman ini merupakan pemenang berbakat lomba novel amore Gramedia Pustaka Utama. Desain sampulnya yang berlukisan karikatur matahari mengingatkan saya pada lukisan henna di punggung tangan Talitha di pesta pernikahannya, sebagaimana dikisahkan di sebuah halaman (hal. 58). Warna latar sampul yang didominasi merah muda pucat dan ungu mengesankan kelembutan yang berpadu dengan kehangatan matahari. Dibonuskannya sehelai pembatas buku selalu menyenangkan bagi pembaca novel.
Warna multi etnis dan setting luar negeri menjadi keunggulan dari novel ini. Suguhan kerupawanan para tokohnya juga pemanis bagi penggemar novel-novel romantis, melambungkan imaji pembaca pada alam khayal yang nyaris sempurna laiknya dongeng-dongeng putri dan pangeran.
Saya cukup terganggu dengan munculnya banyak kata yang dipisah dengan tanda hubung dash (-), meski letaknya di tengah kalimat dan tidak sepatutnya dipisah. Bisa jadi ini kesalahan ketik dan kekurangcermatan penyuntingan. Menurut saya novel ini layak mendapat 4/5 bintang.



Senin, 14 Juli 2014

[resensi novel] Cinta dan Rindu Dalam Secangkir Kopi

Posted by Melani Ika Savitri | 5:03:00 PM Categories:

Judul Novel             : The Coffee Memory – Ketika aroma cintamu menyergapku
Penulis                    : Riawani Elyta
Penyunting              : Laurensia Nita
Perancang Sampul   : Satrio d’Labusiam
Penerbit                  : Bentang, Maret 2013

    Anda penyuka kopi? Apa makna kopi bagi Anda? Adakah dia sebatas minuman hangat peneman aktivitas membaca koran di tiap pagi? Ataukah dia menu utama kala sarapan tiba? Ataukah penghalang kantuk yang menyergap? Bagaimana jika filosofi kopi, dunia usaha yang mengitarinya, serta kisah hidup orang-orang di dalam dunia itu terangkai indah dalam tuturan novel? Jika Anda tergelitik untuk melongoknya, tak salah jika novel manis karya seorang novelis wanita yang telah cukup ternama, Riawani Elyta, ini menjadi pilihan utamanya.

Sinopsis
    Saat aroma kopi itu menjauh, kusadari bahwa kau tak mungkin kutemui lagi. Seperti aromamu yang terempas oleh butir udara, meninggalkanku dalam sunyi yang dingin.
    Adalah sepasang kekasih jiwa, Dania dan Andro yang mesti terpisah jarak dan waktu akibat sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang lelaki, Andro. Pasangan yang telah menikah dan dikaruniai seorang bocah lelaki bernama Sultan ini tengah dalam perjalanan bisnis ke Liwa kala kecelakaan terjadi. Andro pergi meninggalkan sel-sel kenangan sekaligus warisan berupa sebuah kafe kopi bernama Katjoe Manis di daerah pertokoan Nagoya, Batam. Tak ayal, Dania yang mendapati dirinya telah berubah status menjadi orangtua tunggal harus belajar menahan kerinduan kepada sang suami di tiap helaan kenangan yang terhirup sembari bangkit demi kelangsungan kafe Katjoe Manis. Kehadiran seorang Barry, barista baru pengganti posisi Andro lewat rekrutmen terbuka, menyelipkan setitik misteri sekaligus percik-percik warna segar dalam hidup Dania. Bukan itu saja, sebuah ancaman mengintip dari seorang Redi, kakak ipar yang culas, dan Pram, teman semasa SMA, yang mencuri-curi celah di masa sulit Katjoe Manis. Tanpa dinyana, Pram yang pernah menaruh hati pada Dania kala remaja dengan blakblakan menyatakan niatnya mempersunting Dania. Di tengah kegusaran Dania menerima pernyataan cinta Pram, sang putra semata wayang jatuh sakit dan kafe kebanggaannya terlalap api. Di saat inilah kehadiran Barry yang selalu setia mendampingi beserta para karyawan kafe menyuntikkan asa bagi Dania. Mereka membangun kembali Katjoe Manis dari nol. Di saat yang bersamaan, misteri seorang Barry yang ternyata mengenal baik Andro semasa hidupnya turut terkuak. Terkuak pula fakta bahwa Barry diam-diam mencintai Dania. Akankah Dania bersedia membuka hati sekali lagi untuk sekeping cinta? Siapakah yang akan dipilihnya, Pram atau Barry? Anda dapat menjumpai jawabnya di jalinan kisah cinta berbalut dunia kuliner dalam novel ini.

Isi Menarik Novel
    Di tiap pembuka babnya, tercantum sekotak nukilan manis yang berisi filosofi dan fakta menarik dari kopi, atau sekadar pernyataan romantis dari sebuah adegan di bawahnya yang ditampilkan di bagian atas halaman. Kutipan favorit saya antara lain di halaman 179, “Tidak ada yang lebih kuharapkan selain cinta yang sederhana. Hanya ada aku dan kamu, no one else.” Sedangkan filosofi kopi terfavorit datang dari pernyataan Barry, “Secangkir kopi itu... sesuatu yang membangkitkan kerinduan... Rindu yang sama pekatnya seperti warna asli kopi... (hal. 43)”
    Novel The Coffee Memory ini menawarkan warna berbeda dibandingkan dengan novel-novel Riawani Elyta lainnya. Selain karena topik kopi yang diangkat dari kegemaran sang penulis sendiri, judulnya juga dikatakan relevan dengan kerinduan yang telah dipendam sang penulis sejak lama. Ritme novel ini juga lebih ringan dan ngepop dibandingkan novel-novel penulis lainnya, dengan harapan para pembaca bisa menikmatinya dalam suasana tenang, santai, sembari ditemani secangkir kopi hangat.
    Kita tak sekadar dihibur dan dihanyutkan oleh kisah cinta di dalamnya, namun kita dapat pula mencecap inspirasi dunia bisnis kuliner di lembaran-lembarannya. Novel ini bertabur istilah-istilah dunia kopi dan barista, semacam: kopi luak, espresso fredo, coffee grinder, filter, shaker, shooter, latte-art, kopi tiam, coffee shop, tenant, kopi manggarai, cinnamon caramel coffee, peppermint coffee, ibrik, perkolator, vacuum brewer, french press, dan sederet nama-nama seputaran dunia kuliner lain. Selain itu ada satu kosakata yang membuat saya memicingkan mata lantas tergerak membuka KBBI, yaitu menghidu yang ternyata berarti mencium atau membaui.
    Alur cerita dan karakter-karakter di dalam novel ini entah mengapa membuat saya berpikir betapa menariknya jika seandainya novel ini divisualkan atau difilmkan, padahal saya nyaris selalu membenci jika novel kesukaan saya difilmkan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel
    Novel setebal 234 halaman ini semenjak mata memandang, sampulnya telah memanjakan pembaca dengan kehangatan dan pesona secangkir kopi. Sampul berwarna dasar gelap dengan taburan gambar biji kopi, diselimuti lagi oleh selembar sampul kertas kayu dengan cuplikan pengantar sinopsis yang singkat namun mencuri hati. Satu hal lain yang selalu saya senangi dari sebuah buku—pembatas buku—terselip cantik di novel ini.
    Kesalahan penulisan ejaan nyaris tak terdeteksi, bahasanya pun mengalir indah tanpa berlimpah diksi yang puitis dan rumit. Alur cerita yang maju dengan sedikit kilasan-kilasan kenangan masa lampau di tengah-tengahnya membuat pembaca benar-benar menikmati sejalan dengan tujuan sang penulis untuk menciptakan suasana santai ketika membacanya. Satu hal yang cukup mengganggu saya adalah pemberian nama beberapa tokohnya yang kurang pas menurut saya selain kurang familiar maknanya di telinga saya, yaitu Andro dan Redi. Saya kurang paham maksud penulis memilih nama ini.
    Bagi penyuka dan penikmat kopi seperti saya, novel ini jelas akan mencuri hati dan takkan sudi menutup hingga lembar terakhir usai dibaca.
   

Minggu, 13 Juli 2014


Judul Buku                : Catatan Hati Pengantin – Kisah dan Berbagai tips praktis
                                    Yang memandu agar selamanya pengantin baru
Penulis                      : Asma Nadia, Isa Alamsyah, dkk
Coach Editor             : Isa Alamsyah
Layout                       : Isa Alamsyah
Desain Sampul         : Tuarzuan AFC
Ilustasi Isi                  : Wasi Kendedes
Ilustasi Foto              : Debora Purwaningrum
Penerbit                    : AsmaNadia Publishing House, Maret 2014

    Apakah saya telah siap menjadi pengantin? Siapkah melalui hari-hari pernikahan? Saya ingin menikah, calon sudah ada, namun penghasilan belum memadai. Calon mengajak menikah tapi kuliah belum selesai. Saya mencintainya tapi tidak cocok dengan keluarganya. Apakah saya harus tetap menikahinya? Ini hanya sejumput pertanyaan dari seabreg pertanyaan yang biasa terlontar. Pun ketika telah menikah, akan terbit pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang tiada habisnya. Sebenarnya ada apa dengan pernikahan? Negeri pengantin yang banyak diimpikan, nyatanya tak berarti tanpa ujian.
    Telah berderet di rak toko, buku-buku berbingkai pernikahan. Sebagian besarnya mengupas persiapan pernikahan hingga panduan menjalani hari-hari paska pernikahan dalam bahasa non fiksi yang penuh pemaparan dan argumentasi. Di buku ini, kita disuguhi sajian pernikahan dalam hidangan berbeda. Apakah keunikan dari buku ini? Ada baiknya kita luangkan hati dan pikiran untuk menyimak kisah-kisah di dalamnya.


Sinopsis
    Tak ada sekolah yang bisa menyiapkan seseorang memasuki gerbang pernikahan. Meski inginnya hari-hari setelah menikah penuh pelangi, kenyataannya berbagai persoalan mengintip, siap mengobrak-abrik istana kebahagiaan.
Tak ada masalah tanpa solusi. Tak ada tantangan tanpa harapan. Catatan Hati Pengantin hadir untuk mempersiapkan pasangan yang baru akan atau sudah menikah dalam menghadapi badai pernikahan yang mungkin mengepung dari segala arah. Ujian kesehatan, mertua, saudara, dan orang ketiga sebagai penyebab. Atau kelelahan akibat pekerjaan, anak-anak, maupun ego pasangan. Bahkan persoalan yang terkesan remeh seperti salah memilih rumah bisa menguras emosi dan memancing keributan.
    Saatnya belajar dari pengalaman pasangan lain, hingga tantangan serupa tak perlu kita alami, atau jika pun terpaksa berhadapan, kita sudah memiiki jurus menaklukkannya.


Isi Buku
    Disusun dengan praktis dan lengkap, hingga tiap babnya akan membekali. Masih ditambah halaman-halaman kuisioner yang memudahkan mengenali karakter dan visi pasangan. Buku ini berisi sederet kisah kehidupan pernikahan yang dituturkan oleh 21 penulis dan dibagi ke dalam 10 bab. Masing-masing bab mengemban satu tema yang sama. Bab pertama mengusung tema kesehatan, bab kedua bertema perekonomian, bab ketiga tentang kerinduan, bab keempat temanya pekerjaan rumah tangga, bab kelima mengenai tempat tinggal, bab keenam mengisahkan tema orang ketiga, bab ketujuh mengulik tentang perbedaan, perselisihan, dan komunikasi, bab kedelapan bertajuk impian, bab kesembilan menelisik tentang mertua dan kerabat, dan bab terakhir menuntaskan pembahasan tentang kehilangan.
    Selain itu, tiap babnya diimbuhi kuisioner yang wajib diisi pembaca, baik secara pribadi, maupun bersama pasangan atau calon pasangan. Catatan khusus yang ditulis oleh Asma Nadia di tiap babnya akan memperjelas dan mempertegas pembahasan. Buku juga dipermanis dengan hadirnya puisi-puisi apik yang dipersembahkan oleh tim penulis yang sekaligus anggota Komunitas Menulis Bersama asuhan Isa Alamsyah. Sebagai pemanis lain adalah kehadiran ilustrasi kisah bergambar di beberapa halamannya.
    Berbagai kisah menarik dijumpai di dalam buku ini, beberapa diantaranya sangat menarik, membuat kita melengkungkan senyum, atau bahkan menangis. Beberapa kisah tersebut adalah:
•    Kisah seorang istri yang didera bayang-bayang penyakit serius sekelas lupus lengkap dengan perjuangannya melalui hari-hari pernikahan sekaligus menunaikan kewajiban sebagai istri dan ibu dapat ditilik dalam judul Bersahabat dengan Lupus oleh Nenden Siti Murniati (hal. 31-36).
•    Kisah Jatuh Bangun Ekonomi Keluargaku menyeret kita dalam alur cerita perjuangan dalam menghadapi naik turunnya kondisi finansial rumah tangga. Percekcokan yang kerap terpicu dihadapi dengan kesabaran dan komitmen (hal. 63-68).
•    Permasalahan yang sepintas terlihat sepele seperti menemukan tempat tinggal yang pas, juga menjadi topik yang layak diperbincangkan seperti dinukil dalam kisah Nostalgia Pengantin Baru Kontrakan Demi Kontrakan. Kita akan diajak belajar menentukan kriteria rumah idaman yang layak huni sebelum menjatuhkan pilihan (hal.127-130).
•    “Perang” dan persaingan antara mertua dan menantu dapat terlukis jelas dalam penggalan kisah Lukisan Pelangi. Posisi sang suami sebagai anak bungsu yang sangat dekat dengan ibunya menjadi bibit perselisihan dalam jangka waktu lama. Hadirnya kerabat tiada jeda dalam rumah juga turut menyumbang percekcokan (hal. 241-258).
•    Kisah Ketika Aku Adalah Ratu mengingatkan para istri agar selalu siap akan datangnya ujian kehilangan pasangan melalui jalan kematian. Di sini dikisahkan betapa nestapanya seorang istri yang tak memiliki pegangan karena terbiasa dimanjakan oleh sang suami semasa hidup (hal.289-301).


Sebagai penutup, Asma Nadia secara khusus menyelipkan tips untuk menyiapkan sebuah pernikahan, mulai dari keutamaan ta’aruf yang benar dan tepat, pengenalan diri sendiri dan pasangan secara mendetil dan anjuran kesabaran ketika telah memasuki gerbang pernikahan.


Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Buku yang berwajah sampul foto Asma Nadia dan suami ini cukup berbeda dari buku-buku terbitan AsmaNadia Publishing House sebelumnya. Selain karena tim penulisnya yang berlatar belakang beraneka rupa, juga karena gaya penulisannya yang lebih mirip kisah fiksi dan esai pribadi. Karakter tiap penulis memengaruhi gaya penceritaan masing-masing kisah sehingga menjadi kekayaan tersendiri bagi buku ini. Layout buku juga keren, kreatif dan menarik. Terselipnya pembatas buku menjadi faktor ringan yang tidak bisa dianggap sepele dalam menambah kelebihan buku ini. Ketika membaca lembar demi lembar buku, niscaya kita akan menelurkan aneka ekspresi dan reaksi. Bisa jadi kita tersentil, tersindir, atau tergugah saat membacanya karena kisah-kisahnya sangat dekat dengan kehidupan kita dan dikisahkan sebagian besar oleh sang tokoh sendiri.
    Satu-satunya kekurangan yang saya jumpai adalah kesalahan cetak dan ejaan dalam beberapa halamannya. Barangkali karena disusun beramai-ramai, peluang kesalahan oleh masing-masing penulis lebih besar dibandingkan jika ditulis oleh penulis tunggal. Editing masih perlu dilakukan demi kerapian tulisan.
Saya memberikan nilai 4,5/5 bintang untuk hadirnya buku ini sebagai alternatif panduan dalam pernikahan.





Judul Buku         : The Chronicles of Ghazi Seri #1 – Perseteruan Hidup-Mati
                              Dracula dan Muhammad Al-Fatih
Penulis               : Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw
Penyunting         : Rini Nurul Badariah
Proof Reader      : Desti Ilmianti S.
Desain Isi           : Cecep Ginanjar
Desain Sampul    : Al-Fatih Studio
Penerbit              : Mizania, Februari 2014

    “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada Allah, Tuhannya manusia. Dan hanya kepada Allah saja. Kami datang untuk mengubah penindasan manusia menjadi keadilan Islam.” Pernyataan ini milik Rabi’ah ibn Amir, seorang mujahidin, ketika menghadap Kaisar Persia untuk menyampaikan surat dakwah Rasulullah.
    Sebagian besar dari umat Islam sekarang sudah cukup asing dengan sejarah peradaban Islam. Mereka barangkali tak pernah tahu bahwa Islam pernah berjaya menaklukkan dunia di bawah komando Rasulullah SAW lantas tongkat estafet perjuangan beliau dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Novel sejarah yang ditulis oleh duo Say Muhammad Isa dan Felix Siauw ini berupaya mengungkap kembali tinta emas kegemilangan umat Islam di masa silam tersebut. Melalui gaya penulisan fiksi, kisah yang memang benar pernah terjadi ini menjadi menarik dibaca, diambil pelajarannya sekaligus menghanyutkan hati.  

Sinopsis
Di satu belahan bumi, lahir seorang lelaki yang kelak akan menjadi pemimpin terbaik kaum Muslim. Di belahan bumi yang lain, lahir pula lelaki yang akan menjadi salah satu manusia terkejam dalam sejarah. Muhammad Al-Fatih II dan Vlad Dracula III menjadi wakil dari pertarungan haq dan bathil, antara kesultanan Usmani dan kerajaan Eropa Timur, dan takdir mereka sudah digariskan untuk berbenturan sejak kelahirannya. Kisah mereka dijalin dalam novel serial di mana novel yang akan dibahas kali ini merupakan seri pertama. Diawali dengan cuplikan adegan kala Muhammad Al-Fatih II masih belia, kisah berjalan mundur ke satu masa di mana Khalifah pendahulunya telah menorehkan sejarah dengan perseteruan panjangnya melawan para pemimpin kafir yang membentuk persekutuan di Eropa Timur. Mereka mengatasnamakan persekutuan ini sebagai perang suci.

Isi Buku
    Novel sejarah setebal 305 halaman ini dibagi menjadi enam episode dan diawali dengan deskripsi karakter/tokoh dalam novel. Kisah bermula dari adegan seorang remaja istimewa berusia 13 tahun bernama Mehmed (bahasa Turki untuk Muhammad) yang sedang bersama ayahnya, Sultan Murad II dari kekhilafahan Usmani, dan seorang ulama bernama Syaikh ‘Aaq Syamsuddin. Sang remaja yang digembleng sedari kanak-kanak untuk disiapkan menjadi penerus kepemimpinan ayahnya, diingatkan kembali akan sebuah cita-cita yang telah dijanjikan Rasulullah SAW, yaitu menaklukkan Byzantium. Sang ayah dan gurunya Syaikh Syamsuddin sangat mengharapkan Mehmed mampu memikul tanggung jawab mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Kisah kemudian berjalan maju mempertemukan Mehmed dengan sang calon musuh abadinya, sebuah perwajahan dari kezaliman dan kebathilan, yaitu Vlad Drakula III. Di lembar berikutnya, kisah dimundurkan pada masa pendahulu Mehmed, Sultan Murad I. Episode demi episode mengisahkan sepak terjang Sultan Murad I yang akhirnya menemui syahid dalam memerangi kebathilan. Perjuangannya diwarisi oleh putranya, Bayazid.
    Perseteruan abadi Sultan Murad I dengan Raja dari kerajaan-kerajaan di Eropa Timur dipicu oleh sebuah insiden di mana surat dakwah yang dibawa utusan sang sultan untuk Kaisar Lazar Hrebeljanovic ditolak mentah-mentah. Pendudukan Velbudz, sebuah daerah di wilayah kekaisaran Eropa Timur, menjadi titik mula. Dari sinilah peperangan demi peperangan kemudian berkecamuk. Tak sedikit pejuang dari kesultanan Usmani, termasuk sang sultan Murad sendiri yang menjumpai syahid dalam peperangan ini. Meski demikian, keteguhan iman dan hati para pejuang Muslim tak tergoyahkan sedikit pun. Di bawah komando pemimpin baru, Sultan Bayazid, para prajurit dan ulama pendamping sang sultan merangsek maju ke wilayah kekaisaran Eropa Timur dan menemui takdir mereka. Di lain pihak, persekutuan para kaisar Eropa Timur tak berjalan mulus. Acapkali mereka berselisih paham bahkan saling mengancam tatkala sedang merumuskan strategi perang bersama. Hal ini tak aneh lagi mengingat persekutuan mereka dibangun di atas pondasi yang lemah, kepentingan duniawi sesaat untuk mempertahankan kekuasaan masing-masing.
    Banyak cuplikan kisah bersejarah yang termuat dalam novel ini. Beberapa diantaranya sangat menyentuh hati dan ingin saya cuplikkan di sini.
•    Masuk Islamnya Fregadovic—Boyar Velbudz—di hadapan Sultan Murad I langsung dan tanpa jeda dia langsung menerjunkan diri dalam peperangan melawan para kaisar Eropa Timur (hal. 51).
•    Syahidnya Sultan Murad I di tangan Milos Obilic, seorang kafir yang mendendam pada beliau, namun kemudian Milos sendiri menemui ajalnya di tangan Bayazid, putra sang sultan (hal. 68-69).
•    Kekejian Mircea—voivode Wallachia—terhadap utusan Sultan dengan membunuh mereka dan menyalib jasad mereka untuk dipertontonkan pada sang sultan (hal. 118-121).
•    Kekejian rombongan pasukan salib yang membunuhi penduduk Oryahovo tanpa ampun, sekaligus menyalib sang amir—Dogan Bey—di   pusat kota untuk dipamerkan kepada Sultan Bayazid (hal. 209-210).
•    Kisah kepahlawanan Hamed Bey, Aslan, dan Yazed dalam mempertahankan Nicopolis dari serbuan pasukan salib. Keteguhan hati mereka dan kecerdikan strategi mengantarkan mereka pada kemenangan dengan datangnya bala bantuan tepat waktu serta dipukul mundurnya pasukan salib (hal. 231-304).

Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Sebagai sebuah novel sejarah, buku ini dituturkan dalam alur yang detil dibalut dengan bahasa indah yang cukup sederhana dan mengalir. Di beberapa halaman kita dapat menumpai ilustrasi atas peristiwa yang tengah dikisahkan.  Ejaannya nyaris sempurna tanpa cela. Kekurangannya bagi saya sebagai seorang yang kurang menggemari sejarah adalah berderetnya nama-nama tokoh. Memang untuk memudahkan mengenal dan menelisik latar belakang tokoh-tokoh dalam cerita telah disediakan bab khusus deskripsi karakter, namun tetap saja saya kesusahan mengingat nama-nama yang demikian banyaknya. Satu-satunya solusi adalah dengan membalik kembali halaman deskripsi tiap kali saya lupa.
    Bagaimanapun juga, novel sejarah semacam ini memang langka. Novel ini berupaya menyuguhkan fakta sekaligus mengangkat kembali nama harum kekhilafahan Islam yang kini mulai diasingkan dari telinga generasi muda Islam. Buku semacam ini sangat bagus dibaca oleh kawula muda Muslim demi mengingatkan mereka bahwa mereka dapat menjadi bagian dari sejarah dengan membangkitkan kembali kejayaan tersebut.



Sabtu, 12 Juli 2014

[cermin Ramadhan] Puasanya Pemula

Posted by Melani Ika Savitri | 6:06:00 AM Categories:
      Ramadhan adalah tamu yang wajib disambut dan dimuliakan, demikian petuah yang biasa diperdengarkan menjelang dan selama bulan penuh berkah ini berlangsung. Keutamaan Ramadhan, bagi yang semenjak lahir sudah memeluk Islam sepertiku acapkali diajarkan semenjak dini. Di usia sekolah dasar, aku mulai dianjurkan berpuasa oleh ibuku. Puasa semenjak azan Subuh hingga Maghrib bagi seorang kanak-kanak tentulah belum sekokoh mereka yang telah dewasa. Bagiku kala itu, puasa terasa cukup berat. Ini diperparah oleh kondisiku yang disekolahkan di sebuah sekolah swasta Katolik. Ya, akibat terlampau perfeksionis dalam menetapkan standar kedisiplinan pengajaran, ibuku merelakanku menuntut ilmu di sekolah berbasis non Muslim.
      Aku ingat betul kala itu. Ramadhan bertepatan dengan musimnya ujian sekolah. Kotaku yang terletak di garis pantai memang terkenal panas. Terik mataharinya mampu melelehkan keringat dan memicu rasa haus yang teramat menyiksa. Diantara jadwal ujian, ada satu jadwal yang merisaukan. Ujian itu tak lain adalah ujian praktik olahraga. Hari itu aku diuji dalam beberapa cabang olahraga, antara lain senam dan lari. Ah, terbayang bukan, betapa seorang anak kecil yang masih doyan merengek diwajibkan menahan dahaga di saat kawan-kawan lain bebas minum dan makan di hadapannya. Begitu ujian berakhir dan aku pulang ke rumah, bisa dipastikan aku mengeluh tak sanggup meneruskan puasa. Dengan muka ditekuk sedalam mungkin dan hati yang gondok, aku mengomel hingga didengar oleh ibu. Alih-alih menghibur atau memberikan keringanan, ibuku malah menekankan agar aku jangan cengeng dan uring-uringan. Karena kesal, aku mendekam di kamar selepas pulang sekolah. Entah karena fisikku yang lelah, bibirku yang capek mengeluh, atau memang efek tubuh yang sedang berpuasa sehingga mudah mengantuk, aku pun tertidur. Dan taraa.. sore pun menjelang dan azan Maghrib tinggal menghitung menit. Aku sukses melanjutkan puasaku hingga waktu berbuka tiba.
      Lain masa sekolah dasar, lain pula masa sekolah menengah pertama. Kali ini kehebohan puasa ala pemula masih terasa. Salah satu kewajiban dari sekolah—yang jika dipikir sekarang agak konyol—adalah mengumpulkan absensi tarawih pribadi di masing-masing lingkungan tempat tinggal, lengkap dengan dibubuhi tanda tangan takmir—pengurus—masjid. Bisa dipahami maksud baik dari penugasan ini, agar siswa-siswi rajin melaksanakan ibadah sholat yang spesial hadir setahun sekali itu. Kelemahannya adalah penugasan tak diimbangi dengan penanaman pemahaman niat ikhlas dalam beribadah. Alhasil, aku dan beberapa kawan yang tinggal dalam satu kompleks tempat tinggal memaknai tugas ini sebatas formalitas sekaligus menghindari nilai jelek di rapor—meskipun aku tidak sepenuhnya yakin penugasan ini berdampak signifikan terhadap nilai.
     Demi mendapatkan tanda tangan bukti keabsahan absensi tarawih, kami mau tak mau harus mengenal salah satu pengurus masjid. Anehnya, alih-alih mencari tahu, kami membuat asumsi sendiri bahwa pengurus masjid itu bisa siapapun, asalkan dia tampak selalu menghadiri jamaah tarawih. Salah satu kandidat terkuat itu adalah seorang pemuda tetangga yang ramah. Jadilah kesepakatan tercapai. Setiap selesai menjalankan ibadah tarawih, dengan malu-malu kami menghampiri pemuda itu dan memintanya menandatangani buku absensi tarawih kami. Pemuda baik hati itu pun tak keberatan. Yang terpenting, di akhir Ramadhan kami bisa mengumpulkan buku itu tanpa cela.
      Satu hal yang masih melekat di benakku hingga sekarang tentang Ramadhan di kotaku adalah suasana tarawih yang nyaris sama di mana pun. Di tiap masjid perumahan, akan selalu ada barisan anak-anak dan remaja yang datang bergerombol—kerapkali membuat “shaf khusus” anggota geng mereka—dan menyisakan rakaat-rakaat akhir dengan keriuhan. Tingkah laku mereka ini seringkali mengundang teguran dari jamaah dewasa. Namun bukan kanak-kanak namanya jika mereka patuh begitu saja. Di lingkungan rumahku sekarang, terdapat tradisi pembagian kue-kue basah setiap usai tarawih. Maka jamaah yang paling antusias berebut kue sudah bisa dipastikan adalah jamaah biang keriuhan itu. Meski polah mereka ini perlu dibenahi, namun masa-masa ini pasti membekaskan kenangan tak terlupa kala mereka telah matang kelak. Sama halnya dengan yang kurasakan sekarang.

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube