Sabtu, 30 Agustus 2014

Reformasi Dunia Penerbitan Buku Indonesia

Posted by Melani Ika Savitri | 7:50:00 PM Categories:
    Buku adalah gudang ilmu, jendela dunia. Barangkali kata-kata itu sudah tak asing lagi di telinga kita. Beberapa periode waktu silam saya bahkan sempat menyaksikan sebuah iklan masyarakat berslogan kata-kata mutiara ini berseliweran di layar kaca. Sayangnya, iklan tersebut sudah tak saya jumpai lagi sekarang. Berbincang tentang buku, menurut saya, memang tak pernah menjemukan. Selalu saja ada bahasan menarik. 

foto dari SINI

Saya pribadi telah mengakrabi aneka buku bacaan semenjak kanak-kanak. Ketiadaan dukungan dari orangtua semasa kecil, tak menyurutkan gairah membaca saya. Jikalau pun saya tak mampu memiliki, minimal saya bisa berusaha meminjam ke sana kemari. Pengalaman ini membuat saya bertekad dalam hati untuk memberikan perhatian khusus terhadap minat baca-tulis anak-anak saya kelak. Jika semasa kanak-kanak hingga remaja saya lebih banyak meminjam ke teman-teman dan perpustakaan sekolah Ibu, maka di bangku kuliah, saya sempat menyisihkan uang saku untuk membeli satu-dua buku sambil tetap meminjam ke perpustakaan kampus dan teman-teman (masih jadi peminjam sejati haha...). Setelah menikah, tak ada lagi yang bisa meminjami, maka mau tak mau saya harus menganggarkan dana untuk membeli hehe...

sebagian buku koleksi pribadi

Untuk urusan membeli buku, saya tergolong pilih-pilih. Selain karena terbatasnya anggaran, buku untuk dimiliki itu harus benar-benar berkualitas. Saya memang melahap segala jenis bacaan, tapi itu tak berarti saya sangat gampang menjatuhkan pilihan dan mencomot buku untuk dibawa pulang. Hal-hal yang biasanya menjadi bahan pertimbangan saya dalam membeli antara lain:
•    Cover/sampul buku. Memang ada istilah “don’t judge a book by its cover”, namun tak salah juga mengatakan bahwa penampilan menentukan kesan pertama bagi yang melihat. Buku yang isinya bagus namun sampulnya sangat norak atau tak ada kesesuaian dengan isi, misalnya, tentu menjauhkan tangan calon pembaca untuk meraih. Apa lagi jika tak terdapat sinopsis (blurb) di bagian belakang.
•    Judul. Judul yang menyedot perhatian, menarik rasa ingin tahu, unik, atau kontroversial, bisa jadi menggugah calon pembaca untuk membeli. Tapi jangan pula melupakan keterwakilan isi buku melalui judul.
•    Penulis. Yap, tak bisa saya pungkiri bahwa nama besar seorang penulis cukup memengaruhi pilihan saya. Minimal saya sudah cukup familiar dengan nama sang penulis buku atau pernah membaca buku karyanya sehingga tahu track record penulis tersebut.
•    Penerbit. Setahu saya, tiap penerbit memiliki kebijakan masing-masing terkait corak buku-buku terbitan. Pasti ada semacam benang merah dari semua buku, kekhasan, visi misi yang hendak ditampilkan. Selain itu, kualitas dari kerapian tulisan, editing, layout, biasanya turut dipengaruhi oleh penerbit. Saya sendiri kerap menemukan buku-buku yang cukup bagus isinya namun buruk kualitas editing dan layout-nya karena ditangani kru penerbit yang kurang berdedikasi.
•    Review dan rekomendasi teman. Selain mencari informasi sendiri, membaca review teman atau rekomendasi yang ditulis dalam status media sosial terbukti cukup ampuh dalam membantu memilih buku yang bagus. Saya sendiri gemar mereview buku dan bergaul dengan kalangan pecinta buku, bahkan penulis. Maka di sinilah saya meraup keuntungan setinggi-tingginya.
•    Promosi. Promosi lewat status di media sosial yang dilakukan penerbit dan penulis bukanlah hal baru. Maka ini juga bisa menjadi informasi segar ketika kita tengah bingung ingin mengoleksi buku-buku baru.
•    Kebutuhan. Karena jangkauan jenis bacaan saya cukup lebar, maka saya kerap juga menerapkan prioritas ini. Saya membeli buku berdasarkan apa yang saya butuhkan saat itu. Apakah buku tentang agama, buku sastra, buku bimbingan rumah tangga, buku ilmiah, atau buku bacaan anak. Bagi pecinta buku dengan isi kantong terbatas, bisa jadi ini justru poin pertama.
•    Harga buku. Jika ada dua atau beberapa buku bertema sama, berbobot sama dari bocoran review, penulis yang sama-sama disukai, penerbit pun terjamin, sudah pasti buku dengan harga yang lebih terjangkaulah yang akan dipilih.

foto dari SINI

Kalau bicara mengenai buku, tak bisa kita pisahkan dari dunia penerbitannya. Dunia penerbitan buku Indonesia yang terlihat meriah di permukaan, pastilah tetap menyelipkan beberapa masalah krusial. Menurut pengamatan saya, masalah krusial itu tetaplah terletak pada kebijakan yang melingkupi. Karena, kebijakan, aturan-aturan dari ataslah yang akan menentukan arah pergerakan dunia penerbitan kita, termasuk iklim dunia kepenulisan. Sebagai contoh, kasus yang marak beberapa waktu silam, tatkala sebuah penerbit menarik sebuah buku yang menuai protes dan janji untuk introspeksi, apakah ini semata kesalahan penerbit dan penulis? Bukankah pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi, dengan deretan menteri dan departemen yang dibawahinya seharusnya mampu mencegah insiden ini muncul ke permukaan? Misalnya jika pemerintah ketat mengharuskan penerbit bergabung dalam suatu wadah resmi, dengan kewajiban mematuhi segala aturan di dalamnya—yang saya yakin tak akan merugikan masyarakat, maka gerak-gerik penerbitan akan lebih mudah dikontrol. Pemerintah pun bersama organisasi dan penerbit bisa bergandengan memajukan dunia penerbitan yang akan berimbas pada meningkatnya minat baca masyarakat.

foto dari SINI

Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme yang menggejolak di negara kita merongrong idealisme sebagian pihak. Semua akan berujung pada uang. Penerbit dan penulis yang terjebak pada mainstream ini mudah melanggar kode etik moral dan iman ketika buku-buku yang dihasilkan lebih berpedoman pada nilai jual di pasaran. Apa pun akan dijual senyampang ada peminat. Sedangkan hal-hal bermuatan baik dan benar itu tak selalu ramai peminat. Terakhir, dari sisi penulis, saya mendengar berbagai keluhan tentang kurang dihargainya karya tulis sehingga materi yang diperoleh kurang memadai. Ini tak boleh dianggap remeh. Jika penghargaan terasa minim, gairah untuk konsisten berkarya dan bertanggung jawab terhadap karya akan turut terjun bebas. Bukankah di masa kejayaan Islam dulu, penulis sangat dihargai, meski tak ada yang namanya hak cipta atau royalti? Buku yang ditulis cukup ditimbang dan dinilai dengan mata uang emas yang cukup melimpah untuk sebuah kehidupan yang layak? Saya yakin Indonesia bisa meneladani suatu hari nanti.



*blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Parade Ngeblog #PameranBukuBandung2014


Jumat, 29 Agustus 2014

IKAPI: Harapan di Masa Depan

Posted by Melani Ika Savitri | 8:37:00 PM Categories:
    Dunia literasi Indonesia sejauh pengamatan saya telah jauh berkembang. Penerbit-penerbit bertunas, menguncup, dan mekar di Indonesia. Penerbit mayor yang buku-bukunya beredar di pasaran luas, baik offline maupun online, baik di toko-toko buku besar maupun kecil jumlahnya sudah sulit saya hapal (memangnya hapalan? Hehe...). Demikian juga penerbit minor atau indie publishing yang skala penjualan buku terbitnya lebih terbatas. Sekarang ini, jika saya membeli buku baru, maka ketika membaca nama penerbitnya, tak jarang saya mengerutkan kening karena merasa tak familiar (ooh.. ada, ya, nama penerbit seperti ini hehe...). Para penulis pun tak kalah banyak lahir dan bersaing menorehkan karya dan prestasi. Terpampang di rak-rak toko buku besar, nama-nama baru di dunia kepenulisan bersama novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, atau buku nonfiksi populer mereka yang teranyar. Sungguh sebuah kemajuan yang patut dibanggakan, terlepas dari kualitas mereka masing-masing. Saya sebagai penyuka buku sekaligus peminat dunia kepenulisan turut bersyukur atas angin segar ini.

logo IKAPI

Lantas, dengan bejibunnya penerbitan, penulis, dan karya-karya yang dihasilkan, adakah wadah yang bertugas mempersatukan mereka, menjadi mediasi dan penyambung tali silaturahmi? Tentu saja ada dan harus ada. Nah, selama ini, penerbit-penerbit di Indonesia telah berada dalam naungan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Apa itu IKAPI? Apa saja wewenangnya? Kegiatan apa sajakah yang telah diselenggarakan? Saya sendiri memang bukanlah praktisi dunia penerbitan sehingga yang saya ketahui tentang IKAPI amatlah sedikit (hanya kerap mendengar nama). Untuk itu, agar saya bisa memahami lebih baik dan memberikan pandangan objektif, saya berangkat dari penelusuran di website resmi IKAPI Indonesia.

Latar Belakang IKAPI
Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) adalah asosiasi profesi penerbit satu-satunya yang menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia. IKAPI didirikan pada tanggal 17 Mei 1950 di Jakarta. Para pelopor dan inisiator pendirian IKAPI adalah Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Nyonya A. Notosoetardjo. Pendirian IKAPI didorong oleh semangat nasionalisme setelah Indonesia merdeka tahun 1945.
IKAPI kemudian menjadi organisasi profesi penerbit buku berasaskan Pancasila, gotong royong, dan kekeluargaan. Atas kesepakatan para pendiri IKAPI, diangkatlah Achmad Notosoetardjo sebagai Ketua pertama IKAPI, Ny. Sutan Takdir Alisjahbana sebagai wakil ketua, Machmoed sebagai sekretaris, M. Jusuf Ahmad sebagai bendahara, dan John Sirie sebagai komisaris. Pada masa awal tersebut bergabung tiga belas penerbit sesuai dengan buku yang disusun Mahbub Djunaidi dan versi lain dari Zubaidah Isa menyebutkan jumlah empat belas penerbit bergabung pada masa awal IKAPI tersebut. Namun, baik Mahbub maupun Zubaidah tidak menyebutkan siapa saja penerbit yang bergabung tersebut.
Lima tahun setelah berdiri, IKAPI mampu menghimpun 46 anggota penerbit yang sebagian besar berdomisil di Jakarta dan sisanya di Pulau Jawa dan Sumatra. IKAPI dipusatkan di Jakarta sebagai ibu kota negara. Dalam sejarah perkembangannya, Medan sebagai salah satu kota basis penerbitan di Indonesia telah lebih dulu memiliki organisasi yang menghimpun penerbit dan pedagang buku lokal sejak 1952. Organisasi itu bernama Gabungan Penerbit Medan (Gapim) dengan 40 anggota dan 24 di antaranya adalah pedagang buku. IKAPI kemudian merangkul Gapim melalui kunjungan ketua IKAPI ke Medan pada September 1953. Gapim bersedia melebur ke dalam wadah IKAPI sehingga terbentuklah IKAPI Cabang Sumatra Utara pada Oktober 1953 dengan 16 anggota sebagai cabang IKAPI pertama.

Visi IKAPI

Menjadikan industri penerbitan buku di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan dapat berkiprah di pasar internasional.

Misi IKAPI

Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui upaya penciptaan iklim perbukuan yang kondusif, pengembangan sistem perbukuan yang kompetitif, dan peningkatan profesionalisme asosiasi serta para anggotanya sehingga perbukuan nasional mampu berperan secara optimal demi mempercepat terbentuknya masyarakat demokratis terbuka dan bertanggung jawab.

gambar dari SINI

Dari latar belakang pendirian, visi dan misi di atas, IKAPI telah menggelar aneka program dan kegiatan. Berangkat dari semangat cita-cita Ikapi dalam mencerdaskan bangsa dan memajukan perbukuan nasional, berbagai usaha untuk memperluas kesempatan membaca dan memperbesar golongan pembaca dengan jalan mendirikan perpustakaan desa telah dilakukan. Demikian pula usaha menyebarkan hasil cipta sastrawan indonesia dengan jalan mengekspor buku dan usaha melindungi hak cipta. Kepengurusan IKAPI pun diduduki oleh jajaran penulis dan editor yang juga aktif berkiprah di  berbagai penerbit Indonesia. 

 Tantangan IKAPI untuk memenuhi kebutuhan anggotanya dari masa ke masa terus meningkat. Kini banyak penerbit yang berdiri, tetapi tidak sedikit pula yang tidak berminat menggabungkan dirinya kepada Ikapi. Tentu hal ini tidak dapat dilarang, apalagi sejak era reformasi yang menjadikan semua orang berhak berpendapat dan berhak pula ikut atau tidak dalam suatu institusi/organisasi. Nah, di sinilah tugas IKAPI beserta jajaran pengurusnya menjawab tantangan tersebut. Bagaimana mempromosikan sekaligus memberikan bukti nyata kepada penerbit-penerbit yang masih enggan bergabung, bahwa mereka akan kehilangan peluang emas dalam banyak hal. Di antaranya: pengembangan profesionalitas perbukuan, perlindungan kode etik bisnis penerbitan buku serta bantuan hukum (advokasi) terhadap masalah-masalah terkait perbukuan, informasi tentang berbagai kebijakan pemerintah menyangkut perbukuan, proyek-proyek pengadaan buku pemerintah, maupun kegiatan-kegiatan nasional atau internasional di bidang perbukuan, silaturahim atau hubungan antarpenerbit sehingga dapat membina kerja sama dalam bentuk penerbitan bersama (co-publishing) atau kerja sama lainnya yang saling menguntungkan, eksistensi sebagai anggota organisasi profesi untuk berhubungan dengan organisasi profesi atau organisasi bisnis lainnya, dan terakhir prioritas keikutsertaan dalam berbagai event pameran buku, baik yang diadakan di Indonesia maupun di luar negeri dengan biaya yang lebih efisien.

gambar dari SINI

Jika tantangan dalam mempersatukan seluruh penerbit buku di Indonesia mampu dijawab dengan baik oleh IKAPI, saya percaya bahwa IKAPI akan menunjukkan peran nyata yang maksimal di dunia baca tulis. Bukankah kekuatan terbesar terletak pada persatuan dan kekompakan langkah? Ibarat semboyan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Selain itu, dengan bersatu dan kompaknya penerbit-penerbit di Indonesia, akan mudah melakukan kontrol terhadap kualitas industri penerbitan, bersama karya yang dihasilkan. Ini akan menekan kasus-kasus miring terkait konten buku yang tidak layak terbit.

gambar dari SINI

Jika saya boleh berandai-andai menjadi pengurus IKAPI, reformasi apa yang sekiranya akan saya lakukan dalam mengembangkan dunia baca tulis di Indonesia? Hmm... sebuah pertanyaan sulit.  Dengan menelisik aneka kegiatan yang telah berhasil digawangi IKAPI, seperti pameran buku, festival buku Indonesia di luar negeri dengan menggalang kerjasama dengan institusi asing, kursus kepenulisan dan konvensi editor, mengikuti aneka seminar dan expo di dalam dan luar negeri, saya bisa merumuskan beberapa hal yang saya rasa belum terwujud. Antara lain:
•    Mewajibkan tiap penerbit yang menjadi anggota IKAPI untuk memiliki program wakaf buku dan pengadaan perpustakaan keliling atau taman bacaan
•    Mewajibkan tiap penerbit dalam keanggotaan untuk mengirimkan penulisnya secara bergantian dalam seminar atau konvensi nasional maupun internasional yang dirujuk IKAPI
•    Menggiatkan aneka award (penghargaan), event kepenulisan di berbagai daerah yang dilaksanakan berbarengan dengan penyelenggaraan pameran atau pesta buku bersama seluruh penerbit terkait
•    Mempererat hubungan baik dengan media, komunitas, forum penggiat literasi dalam rangka kerja sama dan promosi aneka kegiatan, kalau bisa dibuat kerja sama dalam jangka panjang
•    Menggalakkan penerbitan buku-buku sastra klasik dan berbahasa daerah atau yang mengangkat budaya daerah yang positif, sekaligus membatasi terbitnya buku-buku sastra modern yang terlampau banyak mengandung muatan bahasa non formal. Ini demi mencegah terkikisnya bahkan punahnya akar bahasa Indonesia baku dan bahasa daerah
•    Memberikan sanksi atau bahkan memasukkan dalam daftar hitam bagi anggotanya yang terbukti melanggar kode etik kepenulisan atau menerbitkan buku yang tak layak baca (bermuatan negatif) 

gambar dari SINI

Sudah pasti banyak kekurangan dalam usulan saya di atas mengingat saya belum benar-benar paham seluk beluk dunia penerbitan buku dan program-program IKAPI. Namun saya tetap menaruh harapan besar supaya IKAPI sebagai sebuah wadah resmi berskala nasional mampu menunjukkan eksistensi di ranah publik. Tak seharusnya ke depan nanti masih ada penulis baru, peminat buku, yang asing mendengar IKAPI, atau bertanya-tanya, “Memangnya apa yang telah dilakukan IKAPI?”


Referensi: www.ikapi.org

Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Parade Ngeblog #PameranBukuBandung2014

















Kamis, 28 Agustus 2014

Gadget: Antara Kebutuhan dan Gengsi

Posted by Melani Ika Savitri | 8:33:00 PM Categories:
Di era globalisasi,  kemajuan teknologi informasi turut menjadi penanda. Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan kecerdasan, mampu menggali ilmu pengetahuan yang akhirnya menghasilkan aneka ragam produk teknologi yang tujuan utama penciptaannya adalah demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Produk-produk tersebut juga tidak mandeg, namun sebaliknya, mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejalan dengan kemajuan tingkat hidup manusia yang bersinergi dengan hubungan sosial kemasyarakatan dan alam lingkungannya.

foto dari sini

Salah satu produk teknologi di era digital (yang secara harfiah bermakna gambar, grafis yang mendeskripsikan dalam bentuk numeris melalui piranti komputer) masa kini adalah kemunculan aneka gadget mutakhir dengan segala persaingan yang melingkupinya. Gadget (bahasa Indonesia: gawai) adalah suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah ukurannya yang selalu dirancang lebih kecil. Sebagai contoh: laptop, notebook, netbook, adalah gadget (gawai) dari komputer. Telepon rumah memiliki kebaruan lewat gawainya, telepon selular. Dan kini, telepon selular pun memiliki gawai berupa telepon selular pintar atau yang biasa disebut smartphone. Pun, banyak perusahaan digital yang menyediakan konten-konten menarik yang bisa diunduh dan dimanfaatkan pengguna gadget. Konten atau bahara (bahasa Inggris: content) adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik. Fenomena gadget versus konten ini paling jelas terlihat di ranah teknologi informasi, seperti ponsel pintar. Terutama, sejak kemunculan sistem operasi android. Android adalah sistem operasi berbasis kernel Linux yang pada awalnya dikembangkan oleh Android Inc, yang didukung Google finansial dan kemudian dibeli pada tahun 2005. Android diresmikan pada tahun 2007 seiring dengan berdirinya Open Handset Alliance-konsorsium hardware, software, dan perusahaan telekomunikasi yang ditujukan untuk memajukan standar perangkat selular. Peminat sistem operasi ini meningkat tajam ditandai perkembangan android sendiri hingga telah mencapai kurang lebih 19 kali pergantian (dari 2.1 Android 1.0 sampai 2.19 Android 4.4 KitKat). Kesuksesan ini tak lepas dari keunggulan android yang mudah pengoperasiannya, menarik tampilannya, dan memakai sistem open source yang memungkinkan penggunanya mengunduh jutaan aplikasi (mayoritas adalah gratis) di luar sana. Program aplikasi merupakan perangkat lunak siap pakai yang nantinya akan digunakan untuk membantu melaksanakan pekerjaan penggunanya. Aplikasi ini disiapkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

foto dari sini

Iming-iming kemudahan penggunaan dan bertaburannya jutaan aplikasi inilah yang kemudian memicu tren pemilikan gadget semacam ponsel pintar, sekaligus digunakan sebagai simbol prestise atau gengsi. Pemakainya pun menjangkau kalangan luas, dari kanak-kanak hingga usia senja. Bahkan, bisa dikatakan, kalangan kanak-kanak dan remaja lebih banyak ketimbang kaum tua (di atas 50-60 tahun). Mengapa? Karena sesuai pengamatan dan pengalaman saya sendiri pun, anak-anak dan remaja lebih mudah belajar, menyerap informasi baru, termasuk perkembangan teknologi dibandingkan dengan kaum tua yang lebih mengedepankan fungsi dasar. Dominasi konsumsi gadget, terutama ponsel pintar (termasuk komputer tablet) oleh kalangan muda usia ini membawa dampak positif maupun negatif. Postifnya, tentu saja, anak-anak mampu mengikuti perkembangan zaman, meraup informasi berguna untuk tugas-tugas sekolah, keperluan pembelajaran lain dari gadget ini tanpa kesulitan tinggi seperti di masa-masa tahun sebelumnya. Negatifnya, pemakaian gadget yang terlampau sering, apa lagi dengan ketiadaan orangtua sebagai pendamping akibat kesibukan, dapat menjadi bumerang. Informasi dari konten-konten dan aplikasi yang tidak ramah anak, misalnya berisi pornografi dan pornoaksi, kekerasan, dan isu-isu SARA, dapat menjadi penghantar kemerosotan akhlak dan kecerdasan. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak tidak belajar yang substansi seperti bahasa, dari layar TV, tablet, atau PC sampai usia mereka 30 bulan. Hingga disarankan orangtua harus menunda pemberian gadget seperti tablet dan atau komputer sampai usia mereka paling cepat 2 tahun. Yang tak boleh juga dilupakan, sebisa mungkin jadilah orangtua yang lebih dulu memahami gadget itu sendiri, termasuk aplikasi di dalamnya. Sehingga saat anak main gadget, orangtua sudah faham betul seluk beluk gadget yang dipakai anak. Jangan sampai ibunya sendiri tidak tahu apa saja aplikasi yang terdapat dalam gadget yang dipegang anak. Singkatnya, jangan jadi orangtua gaptek.

foto dari sini
Dari pemaparan di atas, saya berpendapat bahwa gadget memang sebuah kebutuhan di era digital sekarang ini. Sah-sah saja jika kita menghendaki gadget dengan kualitas top, meski harus merogoh kocek lebih dalam. Namun, tak perlu memaksakan diri pula untuk fanatik terhadap satu merk tertentu karena gengsi atau prestise, sedangkan di luaran bertebaran gadget dengan harga lebih terjangkau dan konten maupun aplikasi yang tak kalah bagus dan mampu memenuhi kebutuhan kita. Beredarnya aneka ponsel pintar berbasis android misalnya, memberikan kita ragam pilihan yang luas. Karena yang penting dari sebuah gadget, bagaimanapun, adalah kontennya. Di smartphone android milik saya pun, hanya diunduh aplikasi-aplikasi yang memang dibutuhkan via playstore, semacam facebook, tweetcaster for android, instagram, opera mini for android, BBM, whatsapp, LINE, kamera, personal diary (untuk mencatat hal-hal penting), Qur'android, Tafsir Jalalain dan Ibnu Katsir, antivirus, dan clean master. Sengaja tidak ada aplikasi games karena saya tidak terlalu menyukainya. Lantas bagaimana dengan strategi bundling yang marak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di industri selular? Dalam definisi ilmu pemasaran, bundling produk adalah strategi untuk menggabungkan penjualan dua produk menjadi satu paket penjualan dengan harga khusus. Tentu dalam industri selular ada dua kekuatan utama yang bermain, yakni operator dan vendor. Insiatif bundling umumnya dilakukan pihak operator dengan menggandeng vendor. Tapi vendor juga tak jarang menjadi inisatif bundling, semisal dalam menggandeng penyedia konten. Sebagai negara berkembang, Indonesia punya tantangan dan peluang pasar tersendiri dalam strategi ini. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta, diperikirakan masih ada 160 – 180 juta orang yang belum mengakses telekomunikasi. Potensi ini hanya bisa dibuka bila akses ke perangkat semakin mudah, harga perangkat semakin murah, serta layanan sendiri lebih murah dari yang selama ini ditawarkan.

foto dari sini

Melihat kemajuan perkembangan dan persaingan strategi pemasaran di dunia telekomunikasi selular tersebut, kita sebagai konsumen sekaligus orangtua, mau tak mau harus pandai-pandai memilih dan memilah gadget dan konten yang bermanfaat dan menutup semua kebutuhan kita. Sebagai muslim, selain kebutuhan komunikasi yang lancar dan cepat, kita juga haus akan kebutuhan beragama terutama beribadah. Dari sini, sewajarnya jika kita lebih meilirik gadget dengan konten yang bagus, syukur-syukur sudah bundling konten dan built-in aplikasi sehingga harga lebih terjangkau. Sejauh pengamatan saya, salah satu contoh dari gadget ini telah diterapkan dan dilempar ke pasaran oleh Sygma Creative Media Corporation (Sygma CMC) sebagai perusahaan penerbit Al-Qur’an yang juga bergerak di industri kreatif, melalui produk terbarunya, Syaamil Tabz dan Syaamil Note. Syaamil Tabz merupakan tablet yang didalamnya dilengkapi aplikasi built in Islami paling lengkap. Penciptaan gadget yang didasarkan pada tujuan dakwah ini menghasilkan isi yang lengkap, termasuk game untuk anak dan tanya jawab tentang keislaman. Dengan keberadaan gadget ini di genggaman, kaum muslimin akan dimudahkan dalam belajar Islam, tak perlu membuka-buka banyak buku, terutama di kesempatan yang tidak memungkinkan, misal kala di perjalanan atau kantor. Syaamil Tabz dan Syaamil Note juga menjadi alternatif hiburan dan sumber informasi yang sehat untuk seluruh anggota keluarga. Built-in aplikasi yang terdapat dalam kedua gadget ini antara lain: Quran Miracle The Practice, Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz, Aplikasi Haji dan Umrah, E Book “Pustaka Sains Populer Islami”, Game A Ba Ta, Syaamil Quran Terjemah per Kata, Ibadah Muslim Tafsir Ibnu Kosmopolitan, My First Question and Answer, E Book “It’s My World”, Bonus video animasi dan tambahan E-Book lainnya. Masya Allah, saya terpana membaca deretan aplikasi tersebut. Baru kali ini saya menemukan gadget yang benar-benar mendukung pendidikan agama, dakwah, dan hiburan positif sekaligus. Inilah sebuah inovasi teknologi yang dibutuhkan oleh umat muslim Indonesia saat ini, di tengah gempuran pengaruh negatif dari arus globalisasi dan dekadensi moral bangsa. Semoga upaya ini terus digalakkan dan dikembangkan, tak kalah dengan pesatnya perkembangan gadget lain yang begitu cepatnya. Dan, semoga saya sendiri diberikan rizki dan kemudahan untuk memiliki satu dari gadget keren ini hehe...

foto dari sini

 
Referensi:
www.syaamilquran.com





 Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Parade Ngeblog #PameranBukuBandung2014


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube