Senin, 15 September 2014

[resensi] Romansa Remaja Tahun 90-an

Posted by Melani Ika Savitri | 7:47:00 PM Categories:


Judul Novel : Dua Masa di Mata Fe
Penulis : Dyah Prameswari
Penyunting : Sasa
Proof Reader: Dyah Utami
Lay out : Erina Puspitasari
Desainer Sampul & Ilustrasi: Fahmi Fauzi
Penerbit : Moka Media, 2014
Halaman : iv + 220 hlm

Blurb

Mei 1998, masa ketika aku genap berusia 21 tahun. Usia yang matang memang, apalagi untuk memahami kenapa api tiba-tiba datang membakar harapan dan kebahagiaan. Teriakan dan bau penderitaan itu, aku tak ingin membahasnya. Namun, satu hal, aku hanya ingin sejarah tak meminta waktu untuk mengulang kejadian yang sama. Seperti cinta dan rasa sakit.

Sinopsis

Novel ini bersetting tahun 1998 (flashback), tepatnya kala kerusuhan Mei tengah bergolak. Berkisah tentang sepenggal episode hidup seorang Fe, gadis keturunan tionghoa berusia 21 tahun yang terjebak di dalam bangunan ruko bersama kedua orangtua dan adik laki-lakinya, ketika massa penjarah memporakporandakan kebahagiaan dan ketenteraman. Fe selamat dari tragedi pembunuhan dan pembakaran, namun terpaksa memasrahkan keselamatan pada seorang pemuda bernama Raish. Dalam perjalanan menjauhi marabahaya inilah mereka saling jatuh cinta, diwarnai pernak-pernik intrik dan ujian sepanjang perjalanan. Hingga ketika Fe berhasil bertemu Opa-Oma di Surabaya, terkuaklah rahasia kelam tentang siapa diri Raish sesungguhnya. Apakah takdir akan berpihak pada kisah cinta mereka? Silakan baca saja kisah selengkapnya di dalam novel remaja ini.

Sisi Menarik Isi Novel

Semenjak menyentuh sampul novel, saya merasa sudah dimanjakan desain yang elegan, dengan motif timbul kotak-kotak kecil di keseluruhan badan sampul. Ketika diraba, akan nyata bedanya. Ilustrasi gambar sampul juga menarik. Gambar dua tokoh dilatarbelakangi cangkir dan jam pasir. Pilihan warnanya juga mencolok, didominasi warna merah. Oh ya, bonus pembatas buku cantik turut menyumbang nilai plus.

Di halaman ucapan terima kasih, saya terkesan dengan separagraf terakhir berisi pesan bagi pembaca novel. Begini bunyinya, "Dan kamu, yang sedang membaca halaman ini, yang akan menjadi saksi bagaimana Fe memulai kisahnya. Ini bukan sekadar tentang cinta, tapi juga tentang perbedaan yang selalu ada. Perbedaan yang menuntut pemahaman, dan untuk dijalani, bukan untuk dirutuki. Pada kamulah aku menitipkan kisah ini." (halaman iv)
Wah, membaca ini pembaca akan merasa spesial.

Novel ini memang mengambil setting yang bisa dibilang cukup muram. Barangkali yang membaca blurb akan salah sangka, mengira isinya akan berat. Memang ada tragedi, kehilangan, dan kesedihan di dalamnya, namun itu semua dikemas manis ala novel remaja.

Meski terdapat sisi suram dalam plotnya, namun terserak pula plot yang menyegarkan, menggelitik tawa atau senyum, dan rona-rona merah jambu. Simak saja dalam adegan Fe dan Salsa (adik Raish) yang tengah asyik berkencan dengan komik-komik pada zaman itu.
"Ranma Setengah? Apaan sih ini," Salsa mencibir saat membaca judul komik yang dipegangnya. "City Hunter, Kobochan... Huh!"
"Salsa paling suka Candy-Candy," ujar Salsa lagi. (halaman 90)

Atau ketika Fe dan Raish membicarakan lagu-lagu kesukaan mereka yang sedang hits di masa itu, seperti lagu dari Savage Garden, Toni Braxton, Bon Jovi, dan Dewa 19.(halaman 107-121)

Selipan ini sekaligus menggambarkan kedetilan penulis dalam upaya menampilkan tren masa tahun 90-an. Setting Jakarta, Cimahi, jalur pantura, dan Surabaya pun cukup apik ditata.

Keunggulan novel Mbak Dydie ini juga terletak dalam suspense yang diciptakan di nyaris semua babnya. Jika terdapat bab yang lebih 'tenang', mungkin hanya pada bab pertama dan bab terakhir yang settingnya di masa sekarang.
Berkat kepiawaian penulis menyuguhkan ketegangan demi ketegangan di tiap bab dan lembaran novel, saya merasa jauh dari rasa bosan saat membaca, bahkan selalu terpancing rasa penasaran akan nasib sang tokoh selanjutnya.

Bab yang paling menegangkan menurut saya adalah pada bab kedua (halaman 9-38), tatkala huru hara berlangsung. Juga pada bab Fighter (halaman 123-146), ketika Fe nyaris diperkosa. Bahkan di bab ini saya merasa sangat geram dengan sosok Djunaedi dan turut merasa ingin memukul si karakter antagonis ini. Ini pertanda Mbak Dyah sukses menciptakan koneksi antara karakter dengan pembaca.

Beberapa kutipan menarik juga saya jumpai dalam novel ini, diantaranya:

"Hawa pagi selalu dipenuhi buntalan doa, Fe. Mereka siap melangit." (halaman 200)

"Tapi waktu tidak bisa diputar ulang agar kita bisa belajar dari rasa sakit." (halaman 211)


Rekomendasi

Ada yang pernah menyatakan, tiada karya sastra yang sempurna. Selalu ada celah kekurangan. Sisi kekurangan novel ini menurut saya semata dari temuan typo di sana-sini, namun bukan yang fatal hingga merancukan isi atau mengusik kenyamanan membaca.
Novel ini bagus, menyajikan sisi lain kehidupan remaja, yang tak selamanya indah, penuh keriangan, dan diwarnai kisah cinta monyet yang klise.
Saya berikan 4/5 bintang untuk karya Mbak Dyah Prameswari ini.







posted from Bloggeroid
Reaksi:

4 komentar:

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube