Minggu, 09 November 2014

[resensi] Kisah Menggelitik Si Gila Belanja

Posted by Melani Ika Savitri | 12:09:00 PM Categories:

Judul Novel          : Confessions of a Shopaholic
Penulis                   : Sophie Kinsella
Alih Bahasa           : Ade Dina Sigarlaki
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Ketujuh  : Januari 2011
Jumlah Halaman : 472 hlm.; 18 cm
ISBN                       : 978-979-22-0236

Blurb:


    Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan... berbelanja.


    Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu... sesuatu untuk dirinya sendiri...


    Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya—selamanya.

Sinopsis:


    Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis dari sebuah majalah keuangan Successful Saving di London, sedang dilanda kegalauan hebat. Tagihan-tagihan mulai menumpuk dan menghantui hari-hari yang sebelumnya tenang. Sesungguhnya hari-hari tenang yang semu, yang menunggu sebuah bom meledak di waktu yang tepat. Kegilaaannya berbelanja—terutama menggunakan fasilitas kartu kredit—yang menyeretnya pada onggokan tagihan pembayaran tersebut. Sebelum benar-benar menyadari kekeliruannya, otak kreatif dan imajinatif  Rebecca selalu siap sedia dengan segudang alasan pembenaran atas kelakuannya. Angan-angan semu tentang mendadak kaya, kejatuhan rezeki entah dari mana, investasi masa depan lewat penampilan, semakin menyurukkannya ke kubangan masalah.


    Di lain pihak, Luke Brandon, seorang pengusaha muda sukses bersama perusahaan jasa public relation-nya acapkali berjumpa dengan Rebecca baik disengaja maupun kebetulan karena Brandon Communications mewakili banyak klien yang bergerak di dunia keuangan.   Rebecca yang kurang suka dengan karakter Luke yang sinis, dingin, dan kaku sempat terlibat insiden kurang menyenangkan dengannya suatu hari. 


    Di saat bersamaan. seorang penagih dari sebuah bank bernama Derek Smeath gigih meminta pertemuan dengan Rebecca demi menyelesaikan tunggakan pembayaran kartu kredit. Rebecca yang lihai berulang kali selamat dari pertemuan yang tak dikehendaki itu, apalagi mengingat kondisi keuangannya yang belum memungkinkan melunasi utang. Ironisnya, alih-alih menekan kegilaan belanja, Rebecca tetap berkali-kali jatuh di lubang kekhilafan yang sama. Dua upaya besar dengan mengurangi pengeluaran dan memperbesar penghasilan gagal dijalaninya. Rebecca pun memilih jalan pintas dengan membeli tiket lotere. Naas, itu pun berujung pada hasil nol. 


    Suatu hari, di ujung keputusasaannya, Rebecca melarikan diri ke rumah orangtuanya di luar kota. Di saat itulah, pasangan tetangganya bercerita bahwa mereka baru saja tertimpa kemalangan, yang salah satunya diakibatkan saran menjerumuskan Rebecca. Demi menebus kesalahan itu, Rebecca bertekad menulis artikel yang berisi analisis terkait pengalaman nyata pasangan tersebut. Artikel inilah yang lantas membawanya ke pintu kehidupan baru. Akankah Rebecca berhasil mengenyahkan kegilaan belanjanya? Bagaimana nasib hubungannya dengan Luke, yang belakangan diketahui menaruh hati padanya? Anda bisa membaca utuh kisah menggelitik ini dalam novel terjemahan penulis Sophie Kinsela bergenre comedy romance ini.

Review:


    Tak banyak menurut saya novel comedy romance bersetting Inggris dan mengangkat tema keuangan dikaitkan dengan kegilaan belanja. Penulis cukup cerdik membidik area yang belum banyak dijamah dan mengemasnya secara apik. Terbukti, novel ini telah diadaptasi ke layar lebar, dan meskipun ada beberapa perubahan dalam alur-plot kisahnya dalam versi film, ide asli tetap tak kalah menarik. 


    Karakter tokoh wanita utama, Rebecca Bloomwood pun terbilang unik. Secara profesi, dia bisa dikatakan beruntung dalam arti menekuni suatu bidang yang tak terlalu dikuasai dan diminati tapi orang-orang sekitar menganggap dia seorang pakar. Simak saja penuturan sang tokoh dalam novel:


    “Aku sendiri mengawali karierku dengan menulis untuk Personal Investment Periodical. Aku belajar mencontek berita press release dan terkantuk-kantuk dalam konferensi pers, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan seolah-olah aku tahu apa yang kubicarakan. Sesudah satu setengah tahun—percaya atau tidak—aku diminta bekerja di Successful Saving.”
(halaman 21)


    Sayangnya, keberuntungan ini bukannya disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin, malah justru menjadikannya ogah-ogahan dan lupa diri. Rebecca bahkan meliarkan kegemarannya berbelanja, terutama barang-barang terkait fashion. 


    “Aku memang punya kebiasaan merinci seluruh pakaian yang kukenakan, seolah untuk ditulis di halaman majalah mode. Aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun—sejak getol membaca Just Seventeen.”
(halaman 25)


    Obsesinya terkait fashion ini berimbas pada kegilaannya yang akan mendadak muncul setiap kali melewati toko busana bermerk terkenal yang sedang mengadakan program promo, cuci gudang, atau kerap disebut SALE.


    “Di jendela Denny and George tampaklah tanda kecil yang tak begitu mencolok. Dasarnya hijau tua dengan huruf-huruf krem, bertuliskan: SALE. Aku terpaku menatap tulisan itu, jantungku berdegup keras.”
(hal. 26)


    Cuplikan di atas menggambarkan betapa godaan itu demikian dahsyat bagi seorang penggila belanja seperti Rebecca. Dan fenomena semacam ini bisa jadi menimpa kita atau orang-orang terdekat kita. Bukankah begitu? Juga kebiasaannya yang merasa tidak bisa hidup tanpa mengunjungi toko dalam jangka waktu lama.


    “... aku hampir saja mengintip untuk mencari label harga ketika teringat di mana aku berada. Tentu saja. Ini bukan toko.”
(hal. 140)


    “Dan aneh sekali, sepertinya aku terus menerus mendengar denting mesin kasir. Pasti aku berkhayal.” (hal. 141)


    “Ya Tuhan, tak salah lagi! Itu sebuah toko! Ada toko, persis di hadapanku! Tiba-tiba langkahku menjadi ringan; tenagaku pulih dengan ajaib.”
(halaman 142)


    Ironisnya lagi, bukan sekali-dua kali Rebecca tertipu dengan program promo atau sale besar-besaran demi mengincar produk bermerk tertentu. Ia acapkali berakhir menyesali pilihannya dan berujung pada alibi yang diciptakan otak kreatifnya sebagai pembelaan diri.


    “Jadi, aku beli sebotol besar parfum Samsara untukku sendiri dan itu menambah 150 poin ekstra pada kartuku—lalu aku mendapat alat pengeriting rambut itu gratis! Satu-satunya yang kusayangkan, aku tidak begitu suka parfum Samsara—tapi itu tak kusadari sampai aku tiba di rumah.” (hal, 94)


    “Ya Tuhan. Kau tahu, persoalannya, sudah lama sekali aku mencari kardigan warna abu-abu yang bagus. Sungguh... Dan harganya hanya 45 pound. Dan aku bisa membayarnya dengan VISA... Betul, ini adalah sebuah investasi.” (halaman 95)


    Lucunya lagi, Rebecca juga dengan loyalnya menghadiahi diri sendiri untuk sebuah pencapaian yang tak bisa dibilang signifikan. Ujung-ujungnya, sebagai pembenaran atas hasrat berbelanjanya.


    “Sesudah begitu berbudaya sepagian, aku pantas mendapat sedikit hadiah di siang harinya, jadi aku membeli majalah Vogue dan sekantong Minstrel.” (hal. 145)


    Digambarkan pula bahwa obsesi belanja Rebecca ini sebenarnya tak lain adalah pelarian dari setiap masalah yang menekan.


    “Setiap kali aku menambah sesuatu ke atas tumpukan belanjaanku, ada semburan perasaan senang, seperti kembang api yang memancar. Dan untuk sejenak, semuanya teasa beres.” (hal. 319)


    Ketika sudah terjepit dengan kejaran penagih utang kartu kredit, kegagalan menekan pengeluaran ataupun memperbesar penghasilan, Rebecca pun dengan lihainya berkelit. Sebuah tindakan pengecut untuk lari dari masalah nyata yang terhampar di depan mata. Atau mencari jalan pintas untuk mengakhiri masalah.


    “Dan begitulah, dalam perjalanan menuju rumah orangtuaku aku mampir di pompa bensin untuk membeli dua tiket lotere.”
(hal. 59)


    “Pilihan pertama: menemui mereka dan berterus terang. Aku tak bisa. Pokoknya tak bisa... Pilihan kedua: menemui mereka dan berbohong... Pilihan ketiga: jangan temui mereka... Pilihan keempat: temui mereka dengan cek sebesar seribu pound... Pilihan kelima: melarikan diri.” (hal. 275-277)


    Tentu saja, jalan pintas yang ditempuh dan pelarian yang dijalani tak membuahkan hasil memuaskan. Akhirnya, Rebecca menemukan suatu jalan keluar yang tak diduga-duga berkat kepeduliannya pada sepasang suami-istri kenalan keluarga yang merasa ditipu oleh program promo asuransi. Pengetahuannya, kreativitasnya, yang selama ini dibiarkan tersembunyi di dasar benak, tenggelam oleh obsesi belanja, terkuak sudah.

Penutup:


    Secara keseluruhan, kisah ini menarik. Di banyak halaman, kita akan disuguhi pemandangan surat-menyurat tagihan pembayaran untuk Rebecca, istilah-istilah dunia keuangan, kelihaian Rebecca berkelit, imajinasinya yang kelewatan dan menggelikan, sehingga menjadi sebuah lelucon yang sebenarnya memprihatinkan. Karakter sang tokoh kuat dan meskipun dia adalah tokoh utama pembaca justru seringkali dibuat kesal oleh ulahnya, namun secara bersamaan menginginkan dia berubah dan bisa menyelesaikan masalah. Sebuah penokohan yang tak biasa. Yang mungkin cukup disayangkan adalah karakter Luke Brandon, yang kurang dieksplor, terutama terkait interaksinya dengan Rebecca. Tak mengherankan jika di layar lebar, terjadi perubahan total di bagian ini.


    Penerjemahan novel berbahasa asli Inggris ini juga bagus, kosa katanya mudah dipahami dan menarik, membantu pembaca terlarut dengan alur cerita. Desain sampulnya yang didominasi warna pink dengan ilustrasi kantong-kantong belanja sangat pas dengan isi cerita dan tokoh utamanya.


    Walaupun tetap ada typo di beberapa kata dan kalimat, novel ini cukup mengasyikkan untuk dibaca, terutama oleh kaum wanita sebagai hiburan maupun penyadaran akan fenomena yang cukup familier dan banyak pekajaran menarik lain. Saya berikan 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel terjemahan ini.
   
   
   
Reaksi:

2 komentar:

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube