Selasa, 11 Juli 2017

[RESENSI] Golden: Pilihan Atas Sebuah Momen Perubahan

Posted by Melani Ika Savitri | 11:12:00 AM Categories:





Judul                  : Golden
Penulis              : Jessi Kirby
Penerjemah      : Wisnu Wardhana
Penyunting      : Adeliany Azfar
Penerbit           : Spring
Cetakan           : pertama, Januari 2017
Tebal                : 308 hlm; 19 cm

BLURB:
Parker Frost belum pernah mengambil risiko. Dia akan lulus SMA sebelum sempat mencium cowok yang dia sukai. Jadi, saat nasib menjatuhkan buku catatan Julianna Farnetti ke pangkuannya—buku catatan yang mungkin bisa membongkar misteri kota tempat tinggalnya—Parker memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Julianna Farnetti dan Shane Cruz dikenang sebagai pasangan ideal di SMA Summit Lakes, sempurna dalam segala hal. Mereka meninggal dalam kecelakaan di malam bersalju, meninggalkan hanya sebuah kalung, tanpa jenazah. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Hanya saja, tidak semua kebenaran ingin ditemukan...




SINOPSIS:
“Aku merasa perlu mengingatkan diri sendiri bahwa hanya karena seseorang menulis, tidak akan membuat seseorang itu menjadi nyata.” (hal. 14)


“Aku harus melakukan sesuatu yang tidak terduga, yang akan meninggalkan kenangan yang bisa kusimpan dan kuingat. Suatu pengalaman dan bukannya tujuan. Tapi sepertinya, pengalaman-pengalaman yang kau ingat, hal-hal yang akan selalu kau kenang, bukanlah yang bisa kau paksakan, atau kau cari. aku selalu berpikir hal-hal seperti itu, entah bagaimana, yang akan menemukanmu.” (hal. 38)

Parker dan Kat adalah dua murid SMA kelas senior yang bersahabat baik, meskipun karakter mereka bertolak belakang. Parker yang pintar, berprestasi, punya kesempatan mendapat beasiswa berkuliah di Stanford, sekaligus di bawah ‘kendali’ sang ibu dalam tiap jengkal pilihan hidupnya. Dia tipikal gadis remaja yang ‘lurus-lurus’ saja. Lain hal dengan Kat yang ekspresif, berani ambil risiko, kerap melakukan ‘pelanggaran’, namun juga setia kawan. Di tahun akhir sekolah, keduanya mengalami masa dilema persahabatan, karena jelas Parker akan melanjutkan kuliah ke kota lain, sedangkan Kat tidak. Kat sering menggoda Parker untuk tak melewatkan masa akhir sekolahnya begitu saja. Setidaknya dia harus melakukan hal yang diinginkan, yang tak terduga, yang di luar kebiasaannya. Kesempatan itu secara mengejutkan datang, ketika Parker yang menjadi asisten guru bahasa Inggris, Mr. Kinney diserahi tugas mengurusi jurnal para siswa senior sepuluh tahun lalu untuk dikirimkan. Yap, Mr. Kinney yang merupakan guru favorit Parker ini punya kebiasaan unik, yaitu tiap musim semi ia memberikan tiap murid senior sebuah jurnal mengarang. Sisa tahun ajaran kemudian diisi dengan tugas mengisi jurnal. Diisi dengan hal-hal yang menggambarkan mereka saat itu, yang mungkin akan mereka lupakan bertahun-tahun kemudian. Di bulan Juni sepuluh tahun kemudian, jurnal-jurnal tersebut akan dikirimkan ke alamat mereka. Nah, Parker ternyata mendapati jurnal milik legenda kota, Julianna Farnetti.
Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat dan terngiang kata-kata Kat tentang pengalaman tak terduga, Parker memutuskan membaca isi jurnal Julianna dan betapa kagetnya dia ketika menemukan sebuah fakta yang tak semua orang ketahui tentang kisah cinta Julianna – Shane. Ada orang ketiga di hati Julianna. Dibantu Kat dan Trevor Collins (cowok teman sekelas yang sudah lama ditaksir Parker), Parker memulai petualangan masa akhir sekolahnya. Berdasarkan petunjuk di dalam jurnal dan temuan lain, mereka bertiga menelusuri jejak ‘keberadaan’ Julianna. Walaupun pada akhirnya kecewa, pengalaman itu memberi pelajaran berharga dan memengaruhi keputusan penting yang diambil Parker di kemudian hari.



REVIEW:
“Bagian favoritku dari kisah cinta mana pun adalah permulaannya. Seperti Romeo yang merayu Juiet untuk menciumnya, orang yang sama sekali asing, di suatu pesta dansa. Atau Noah yang memanjat kincir ria untuk mengajak Allie berkencan dalam ‘The Notebook’. Permulaan adalah keajaiban.” (hal. 95-96)

“Pertanyaan itu berasal dari puisi karangan Mary Oliver, dan bunyinya seperti ini: ‘Apa rencana yang akan kau lakukan pada satu-satunya hidupmu yang liar dan berharga?’” (hal. 287)

“Tapi terkadang, hidup memberi kita momen-momen yang langka itu di mana kita benar-benar melihat kesempatan yang sedang terjadi. Dan dalam momen itu, kita punya pilihan. Dan terkadang kita harus mengambil risiko. Dan itu menakutkan. Itu membuat kita rapuh. Tapi saya tahu itu pantas dilakukan.” (hal. 289)

Jika ditanya, novel terbitan Spring dengan kover dan kisah favorit, sejauh ini Golden masih masuk dalam daftar teratas. Novel remaja yang nggak hanya asyik dibaca, tapi padat kutipan dan hikmah keren. Terjemahannya oke, sama sekali nggak mengecewakan. Tema problematika remaja yang diangkat pun tetap up-to-date, layak untuk pembaca remaja masa kini.
Saya suka karakter Parker yang mengalami dilema dengan diri sendiri, mencari-cari pembenaran atas jati dirinya, keinginan sesungguhnya yang ingin dia raih demi kebahagiaan. Di lain sisi, ibunya yang memiliki masa lalu mengecewakan, termasuk masalah dengan ayah dari Parker seakan membebankan impian tak kesampaiannya ke pundak sang putri semata wayang. Di sinilah letak konflik utama selain misteri kecelakaan Julianna-Shane. Ada juga karakter Kat yang membuat cerita ini lebih berwarna. Prinsip hidupnya yang sederhana, karakternya yang ceria membuat kisah persahabatan dalam novel ini menyenangkan, mengingatkan kita akan masa remaja yang penuh petualangan. Karakter Julianna sendiri yang digambarkan nyaris sempurna sekaligus misterius, membuat saya benar-benar tak sabar mengungkap rahasia besarnya. Chemistry dan ‘permainan’ tarik-ulur Trevor dan Parker pun membuat saya tersenyum-senyum, walaupun kisah romansa mereka tidak jadi fokus utama. Tokoh lain yang cukup berkesan meski tak terlalu menonjol tentu saja Mr. Kinney. Dia sudah pasti akan mengingatkan kita pada sosok guru favorit yang mengajar dengan cara menyenangkan dan kreatif.
Dari segi alur, memang ada dinamika, di mana di awal hingga pertengahan agak lambat, namun tetap ada adegan-adegan menegangkan. Di jelang akhir, akan menjadi bagian yang tak mungkin saya lewatkan dan saya terpuaskan dengan akhir yang disuguhkan penulis. Meskipun, layaknya fiksi, kisah ini memiliki aspek-aspek ‘kebetulan’ yang bisa jadi terlalu indah jika ada di dunia nyata, hehe...
Bagi penggemar puisi, terutama fans Robert Frost, kalian akan dimanjakan oleh tersebarnya kutipan-kutipan puisi terbaik Frost di sini, mengingat Parker dan ayahnya diceritakan mengagumi penyair satu ini. Tertarik membaca novel remaja terjemahan berkover kece ini? Saya jamin suka, deh, apalagi jika kalian penggemar teenlit Amerika.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube