Sabtu, 15 Juli 2017


Judul: Better With You
Penulis: Clara Canceriana
Editor: AlaineAny
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: pertama, 2017
Tebal: viii + 336 hlm; 13 x 19 cm

BLURB:
    Seseorang pernah berkata kepadaku, memberi tahu perasaan kita kepada orang lain itu sah-sah saja. Namun, mengapa aku selalu kesulitan untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya? Kepada dia yang sehangat matahari. Yang mampu meluluhkan segala gundah di dalam hati.

    Ada juga yang bilang, bila sembunyi-sembunyi gini, ia tidak akan pernah tahu perasaan yang kurasakan. Entah, mengapa rasa takut itu selalu ada? Padahal, ia selalu mengajarkanku untuk melawan rasa takut dan jujur pada diri sendiri.

    Namun, saat kita sudah merasa begitu nyaman di dekat orang yang kita sukai, apakah kita masih perlu mengungkapkan perasaan hati?

SINOPSIS:
    “Setiap manusia punya keberanian dalam diri mereka. Cuma rasa ragu yang besar, bikin keberanian itu nggak kelihatan.” (hal. 70)

    “Ketika kamu berjanji, kamu sedang menitipkan sebuah masa depan bagi seseorang.” (hal. 148)

    “Kalau mengerahkan seluruh tenaga untuk berusaha, pasti bisa.” (hal. 152)    

Luna Laurensia, siswi kelas XII SMA Bina Bhakti, sebuah sekolah elit bagi anak-anak kalangan menengah ke atas. Luna adalah siswi paling pintar, langganan juara umum sekolah, ketua kelas, papanya adalah pengacara ternama yang sekaligus salah satu donatur dana terbesar sekolah. Satu hal yang tak diketahui teman-teman maupun guru-gurunya, bahwa Luna tertekan. Dia selalu merasa hidupnya serba diatur, diwajibkan menjadi nomor satu, bisa dibanggakan di hadapan keluarga besar mamanya. Luna tak benar-benar bahagia. Hadirnya Higashi Haruki, siswa pindahan penerima beasiswa mengubah segalanya. Haruki bersikap ceria, meskipun semua siswa dan guru memandangnya sebelah mata sebagai siswa penerima beasiswa. Haruki pun menawarkan ketulusan persahabatan alih-alih persaingan kepada Luna. Sayang, niat baiknya dinilai sebagai kelicikan oleh Chika dan Boy, sebagai upaya menurunkan Luna dari posisi juara satu. Apalagi ketika Haruki dan Luna dilaporkan membolos sekolah bersama, disusul kejadian-kejadian tak menyenangkan lain yang bersumber dari kesalahpahaman. Orangtua Luna jelas marah dan mengancam Haruki agar menjauhi putri mereka. Juga ada Eros, pacar Luna yang bertingkah menyebalkan, tak mau diputuskan begitu saja oleh Luna. Eros meneror Luna dengan permintaan maaf, kiriman bunga dan cokelat hingga Luna ketakutan. Perangai Luna yang tak tegas pun memperunyam keadaan. Eros bersama teman-temannya juga pernah mengeroyok Haruki yang dianggap menjadi biang keladi perubahan sikap Luna padanya.
Haruki sesungguhnya punya masalah sendiri yang tak dia bagi kepada semua orang. Papa mamanya telah berpisah semenjak dia masih berusia tujuh tahun. Mamanya memutuskan kembali ke Indonesia usai perpisahan dan berusaha keras menjadi orangtua tunggal yang layak. Papanya yang asli warga negara Jepang pernah menjanjikan datang di tiap kelulusan sekolah Haruki, namun tak pernah ditepati. Bahkan beberapa waktu ini mama Haruki meminta Haruki tak lagi berusaha menghubungi sang papa. Tak terima, Haruki berusaha membujuk sang mama dengan mengikuti lomba mading antar sekolah dengan mengajak Luna. Harapan Haruki, jika dia menang, mamanya akan bangga dan mau memberi Haruki kesempatan berbicara dengan papanya. Sayangnya, meski kemenangan diraih, percakapan Haruki dengan papanya lewat sambungan telepon justru meninggalkan kekecewaaan dan luka di hati. Sang papa telah memiliki keluarga baru dan tak bisa meninggalkan mereka, meski sebentar.

Tak cukup sampai di sana, Haruki kembali harus menghadapi kesedihan ketika saat ujian akhir pengawas menemukan kunci jawaban soal di tasnya. Ada seseorang yang memfitnahnya. Haruki terpaksa dikeluarkan dari ujian. Di lain sisi, Luna syok berat dan ketakutan ketika mengetahui peringkatnya turun drastis di saat pengumuman kelulusan. Orangtuanya saling menyalahkan dan bertengkar hebat. Luna yang sangat tertekan nekat melakukan hal mengerikan hingga masuk rumah sakit. Inilah momen di mana kedua orangtuanya menyadari kelalaian mereka dan memperbaiki hubungan dengan sang anak, termasuk memperbolehkan Luna dekat dengan Haruki. Tatkala Luna menyangka keadaan mulai membaik baginya maupun Haruki, musibah mengerikan lain terjadi pada Haruki.



REVIEW:
    “Dalam anggukan pelan Luna, Haruki merasakan punggung bekunya dijalari kehangatan, seolah ada yang tengah memberikan Haruki kekuatan dari usapan pelan tangannya. Begitu menenteramkan. Karena baginya, Luna bukan saja memberi uluran tangan untuknya, tapi seperti tidak menolak untuk hanyut dalam sebuah luka. Yang membuat ketakutan Haruki otomatis hilang, berganti sebuah harapan untuk mengubah makna ‘sebentar’ yang dia ucapkan dengan makna ‘selamanya’.” (hal. 201)

    “Bagian dari merindukan seseorang adalah bersahabat dengan ketidakpastian dan berteman dengan air mata.” (hal. 223)

“Kejujuran adalah tugas manusia yang paling sulit.”
(hal. 310)

Novel ini bertema kehidupan remaja di kota besar. Diwakilikan dua tokohnya, Haruki dan Luna, dengan menggunakan alur flashback. POV menggunakan sudut pandang orang ketiga, ‘mata yang tahu sgealanya’, namun pendekatannya terasa ‘aku’, karena penulis membagi buku dalam beberapa bab dengan judul ‘Memori Luna’ dan ‘Memori Haruki’. Kisah nyaris keseluruhan bersetting tahun-tahun akhir Haruki dan Luna bersekolah di SMA Bina Bhakti. Menurut saya, seperti layaknya novel lain, dua tokoh utama memiliki karakter yang bertolak belakang, dibumbui konflik perbedaan status sosial, permasalahan keluarga, juga kenakalan remaja.

Karakter Haruki sangat menonjol di sini. Sosok remaja blasteran Jepang – Indonesia, dengan kedua orangtua telah berpisah, mama yang berperan sebagai orangtua tunggal sambil bekerja di restoran, kehidupan ekonomi keluarga yang tak berlimpah harta, namun tetap selalu ceria dan bersemangat sekolah. Kisah keluarga Haruki mewakili kisah-kisah anak yang terpisah dengan salah satu orangtua, lantas merasa tak diinginkan. Hanya saja, di sini Haruki digambarkan sebagai sosok remaja yang berhati besar dan kuat sehingga tak melampiaskan kekecewaannya pada hal-hal negatif. Luna di lain sisi, adalah remaja perempuan yang tak pernah berani mengambil keputusan sendiri, kerap dimanfaatkan teman untuk kepintarannya, sosok siswi teladan yang dipuji guru atas kepatuhan dan prestasi akademis. Namun di balik itu semua, Luna sebenarnya tertutup, pendiam, cenderung polos dan pemalu, dan merasa tertekan atas tuntutan orangtua untuk selalu menjuarai peringkat kelas maupun sekolah. Saya sampai dibuat sangat gemas dengan tabiat Luna yang terkesan lemah, berkali-kali tak bisa mengatakan ‘tidak’ untuk pada akhirnya tak bahagia. Karakter ini kemudian menjadikan Haruki sosok pemberani yang lebih aktif mendekati Luna, berusaha menjadi temannya, dan berinisiatif melindungi. Tekanan keluarga Luna sekaligus menggambarkan permasalahan yang menimpa sebagian besar remaja masa kini. Di mana persaingan sangat ketat di masa sekarang dan secara umum prestasi akademislah yang dianggap akan menjamin masa depan, selain karena kurikulum pendidikan juga yang membuatnya demikian. Kondisi ini memicu kecurangan dan tindakan-tindakan tidak sportif lainnya. Komunikasi antara orangtua – anak juga disoroti, bahwa orangtua juga harus bersikap hangat, bijak, jangan melulu menuntut tapi alpa menyediakan telinga untuk mendengar dan hati untuk menyayangi. Anak tak cukup dilimpahi materi, tapi juga butuh perhatian. Pesan ini juga tercermin dari karakter Chika, Boy, dan Eros, teman-teman Luna.

Yang agak saya sayangkan dari novel ini hanyalah masalah teknis penulisan, terkait masih ada typo dan kekurangtelitian penulis menyusun kalimat efektif. Secara keseluruhan, ide, alur, plot, penokohan, dan feel, saya sangat suka. Novel ini menyuguhkan twist ending yang bisa dibilang ‘berani beda’ dan mengejutkan untuk ukuran novel remaja. Juga sanggup ‘memaksa’ saya menitikkan air mata. Wajib dibaca adik-adik remaja yang butuh cerminan kegalauan dengan pesan yang positif.




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube