Jumat, 14 Juli 2017

[RESENSI] Carisa dan Kiana: Dua Kisah Pencarian Jati Diri

Posted by Melani Ika Savitri | 8:29:00 AM Categories:

Judul       : Carisa dan Kiana
Penulis   : Nisa Rahmah
Editor     : M. Adityo Haryadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : pertama, 2017
Tebal      : 208 hlm.; 20 cm
   
BLURB:

Lima fakta tentang Carisa: pintar berorganisasi, judes apalagi jika berhubungan dengan Stella, diam-diam punya bakat dalam bermusik, menyukai Rama (sahabatnya sendiri), dan menyimpan kisah kelam tentang keluarganya.

Lima fakta tentang Kiana: jagoan sains SMA Pelita Bangsa, pemalu, bersahabat dengan Stella si cewek populer, menjalin komunikasi misterius dengan cowok terkenal di sekolahnya, dan menyayangi Papa melebihi apa pun di dunia.

Rama bersaing dengan Rico, pacar Stella, dalam pemilihan ketua OSIS SMA Pelita Bangsa. Strategi kampanye yang diusung Carisa sebagai ketua tim sukses Rama, terbukti jitu. Stella jadi berang dan mengembuskan gosip tidak sedap tentang Carisa dan Rama.

Carisa berniat melabrak Stella. Namun hanya ada Kiana, dialah yang diserang Carisa hingga terjadi kecelakaan kecil. Orangtua Carisa dan Kiana pun dipanggil. Di pertemuan orangtua itu, satu rahasia tentang keluarga mereka terungkap.

Bagaimana Carisa dan Kiana menghadapi kenyataan baru yang mengubah cara pandang mereka akan hangatnya keluarga? Apa yang harus Carisa dan Kiana lakukan saat menyadari mereka sama-sama menyukai Rama?

SINOPSIS:

“Kiana punya kesimpulan sendiri kenapa Stella begitu benci dengan Carisa. Mereka bagai dua bintang yang bersinar paling terang di antara murid-murid SMA Pelita Bangsa.” (hal. 27)

“Saat gue percaya gue lahir ke dunia karena ada suatu sebab, saat itu gue berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap orang punya masalah. Cara menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawa.” (hal. 135)

Carisa bersahabat baik dengan Rama awalnya disebabkan kesamaan organisasi sekolah. Lantas diperkuat ketika kakak perempuan Rama meminta bantuan Carisa untuk kepentingan tugas kuliah. Di sekolah, kini Carisa dan Rama sedang disibukkan dengan kampanye pencalonan diri Rama sebagai Ketua OSIS. Carisa yang berbakat berorganisasi ikut menyusun visi dan misi dan didaulat menjadi ketua tim sukses. Di kubu lain, ada Rico yang juga maju mencalonkan diri, dengan pacarnya Stella sebagai tim sukses. Sayangnya, Stella dan Carisa diketahui memang bersaing sejak lama. Stella yang cantik, kaya, dan populer, sedangkan Carisa disegani karena bakat berorganisasi dan bermusik (yang masih sembunyi-sembunyi). Apalagi ketika pendekatan kampanye direct selling usulan Carisa terbukti jitu. Stella yang dengki pun melakukan cara tidak sportif demi menjatuhkan tim Rama. Stella menyebarkan foto fitnah Carisa dan Rama lalu menghilang. Carisa yang marah mencari Stella, namun hanya menjumpai Kiana. Kiana dikenal dekat dengan Stella. Sebenarnya ini pun bukan pertemanan yang sehat, karena Stella hanya memanfaatkan Kiana yang pintar, juara olimpiade sains, dan ketua eskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Namun karena sedang dikuasai emosi, Carisa melabrak Kiana hingga terjadi insiden kecelakaan kecil. Akibatnya, ibu dari Carisa dan papa dari Kiana dipanggil menghadap ke sekolah, Carisa diancam diskors, dan Rama dipaksa mundur dari pencalonan. Tak disangka, pertemuan kedua orangtua mengungkap sebuah rahasia masa lalu ibu dari Carisa dan papa dari Kiana. Carisa dan Kiana ternyata adalah saudara satu ayah.

Dari insiden itu pulalah, Carisa lebih mampu mengenal sosok Rico yang sebenarnya. Tentang hubungan tak sehatnya dengan Stella yang bermasalah dan Rico ikut mendapat pamor kurang bagus. Semenjak Stella diskors karena akhirnya terbukti bersalah dalam insiden pemfitnahan lalu dikabarkan pindah sekolah, Rico yang otomatis terpilih menjadi Ketua OSIS menyusul mundurnya Rama mulai mendekati Carisa. Ini demi tujuan merealisasikan syarat dari Rama. Rico yang mengajak Rama bergabung sebagai wakil ketua harus mengajak Carisa juga sebagai pengurus. Penawaran Rico awalnya ditolak Carisa, namun karena suatu hal, Carisa akhirnya menerima. Tak hanya itu, Carisa juga menggantikan posisi Rico dalam band sekolah, Orion. Dari sinilah kedekatan Carisa – Rico bermula. Di lain pihak, Rama yang sempat ‘dijauhi’ Carisa, malah menjadi dekat dengan Kiana. Ternyata keduanya pernah berteman dan saling kirim surat diam-diam, namun terputus. Perkembangan hubungan keempat orang ini mengubah segalanya.

Terkait rahasia keluarga yang terungkap, Carisa dan Kiana belum bisa sepenuhnya menerima. Kiana terus menghindar dari papanya dan tidak mau memaafkan, pun tidak menerima Carisa. Hingga suatu hari, sebuah insiden lain yang melibatkan Carisa dan ayah tirinya memaksa Carisa lari dari rumah dan bersembunyi di kantor papa kandungnya. Ibunya sendiri tak tahu menahu dan sedang bekerja di luar negeri. Tapi berkat insiden ini, Kiana memahami sekaligus iba pada Carisa dan perlahan mulai menerima. Bahkan Kiana berencana menggantikan posisi Carisa dalam perlombaan musikalisasi puisi antar sekolah ketika Carisa sakit. Hubungan yang mencair ini bertahan hingga perlombaan band antar sekolah dengan Carisa terlibat di dalamnya bersama band Orion.






REVIEW:

“Ketika seorang anak belajar apa pun dalam kehidupannya, sebenarnya orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik.” (hal. 185)

“Bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya.” (hal. 197)

Tema remaja dengan pernak-pernik kehidupan lengkap dengan masalahnya lagi-lagi menjadi andalan novel, termasuk yang satu ini. Kali ini ada dua tokoh utama remaja perempuan yang ditampilkan. Kiana, mewakili sosok remaja perempuan yang berprestasi secara akademis, pintar dalam bidang sains, meski tak terlalu populer dari segi pergaulan. Kiana memiliki keluarga yang bahagia, meskipun sang mama telah tiada. Dia juga diceritakan dekat dengan papa dan adik laki-lakinya. Carisa, dia wajah remaja berbakat di luar bidang sains dan pandai bergaul. Carisa yang organisatoris juga berbakat dalam bidang musik (dia mahir memetik gitar dan menggebuk drum). Sayangnya, hubungan dengan sang ibu tidak dekat, bahkan bisa dikatakan Carisa merasa tak disayangi oleh ibunya yang aktivis lingkungan hidup. Saya suka dua tokoh ini ditonjolkan dan ‘dipertentangkan’ dalam novel. Plus ada Rico dan Rama yang nggak kalah menarik. Terutama Rico, yang ‘bertransformasi’ dari sosok populer, tipikal anggota band yang dipuja-puji karena fisik dan punya pacar cantik, namun datang dari keluarga ‘broken home’ menjadi sosok dengan sisi baik dan dia jadi karakter favorit saya, selain Carisa. Rama di lain sisi, berkepribadian hangat, agak pemalu, dan memiliki dua kakak dengan keluarga harmonis.

Novel berkover imut ini tipis, alurnya cepat, dengan konflik yang padat. Sebenarnya saya suka dengan semua elemennya, kecuali bagian konflik. Menurut saya, ada bagian konflik yang sebaiknya dipangkas saja karena kurang krusial bagi keseluruhan cerita. Misalnya, tokoh ayah tiri Carisa yang sangat minim dieksplor—kecuali bagian rahasia kelam dengan Carisa. Mungkin bisa dihilangkan saja, digantikan dengan alasan logis lain jika terkait konflik Carisa dengan ibunya. Atau, halaman bisa ditambah, cerita lebih dikembangkan. Elemen-elemen kecil seperti puisi Sapardi Djoko Damono yang ditampilkan dalam musikalisasi puisi, pengetahuan ilmiah yang disisipkan dalam pekan sains, syair lagu “Counting Stars” dan pertunjukan band, bagi saya sangat mendukung. Menjadikan novel teenlit ini tak hanya berbobot, cerdas, juga menghibur. Recommended bagi para pembaca belia yang haus bacaan ringan dan sesuai dengan irama kehidupan mereka.

Sayangku yang jauh,
entah berapa kali
telah kukelilingi taman kota ini;
telah tergolek di atas rumput, sobekan-
sobekan kertas, embun, pecahan botol;
telah bermantel sinar bintang-bintang
dan angin yang panjang nafasnya; aku
tak pernah tidur, menunggumu.
(penggalan sajak “Lirik untuk Improvisasi Jaz”, karya Sapardi Djoko Damono)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube