Minggu, 09 Juli 2017

[RESENSI] Dangerous Romance: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Sebuah Harapan Berbahaya

Posted by Melani Ika Savitri | 4:48:00 AM Categories:



Judul      : Dangerous Romance
Penulis  : Daisy Ann
Editor    : Cicilia Prima
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: pertama, Juni 2017
Tebal     : 184 halaman

BLURB:
                “Jangan ngasih cewek yang jatuh cinta sebuah penawaran. Kadang kala cinta itu bisa jadi sangat egois.” – Maura
                Mungkin Maura hanya setengah bercanda ketika ia bilang, sebagai ganti balas budi, ia ingin Ben menikahinya. Mungkin. Maura memang jatuh cinta pada rekan kerjanya itu. Ia dibuat gila dan merindu untuk alasan-alasan tak masuk akal.
                Tapi pernikahan mendadak itu memang tak bisa disamakan dengan pernikahan happily ever after bak dunia dongeng. Terlebih cara lelaki itu memandangnya, seolah Maura adalah penyihir yang menjebaknya dalam sebuah pernikahan yang tak Ben inginkan. Maura sadar itu. Ben dengan senang hati membuka matanya lebar-lebar, bahwa lelaki yang membuat Maura bertekuk lutut itu bukan sosok malaikat ideal dalam imajinasi Maura.
                Ada kisah dan luka yang disembunyikan.
                Ada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
                Ada rasa yang terkikis perlahan-lahan.
                Namun, bagaimana dengan sumpah pernikahan yang telanjur diikrarkan?
                “Cinta macam apa yang sebenarnya sangat menyakitkan di pernikahan ini?” – Ben

SINOPSIS:
                Maura, seorang perempuan muda karyawati sebuah perusahaan di Surabaya sudah lama menaruh hati pada seorang rekan kerja. Ben, lelaki itu resmi menjadi karyawan setelah Maura. Semenjak kedatangannya, Maura yang awalnya sekadar tertarik mengenal nama sosok karyawan baru beserta kawan akrabnya Bayu itu perlahan merasakan ketertarikan lebih. Namun, karena Ben terkesan menjaga jarak, bukan tipikal lelaki yang supel, Maura pun harus puas menjadi ‘pengagum rahasia’ dan memilih menjaga hubungan semata sebagai rekan kerja (yang tak akrab). Meski demikian, keinginan Maura mengenal Ben lebih dekat mengubahnya menjadi sosok ‘penguntit’ yang rajin mengikuti gerak-gerik Ben dan mengulik segala hal tentangnya lewat media sosial. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan nahas yang menimpa Ben dan seorang sopir perusahaan digariskan menjadikan Maura sebagai penyelamat. Maura berada di waktu dan tempat yang tepat. Entah karena terpancing atau ego, Maura pun sempat melontarkan pernyataan kepada Bayu bahwa ia ingin dinikahi Ben sebagai balas budi. Tak disangka, perkataan itu didengar oleh Tante Dewi—tante dari Ben—yang menganggap serius dan menyampaikannya pada Ben. Hubungan Ben dan tantenya sendiri bisa dibilang dingin akibat konflik keluarga di masa lalu. Ben seolah memasang sikap permusuhan dan menjaga jarak dengan tantenya. Ketika Maura jelas mengatakan dia enggan membatalkan ucapannya—kecuali Ben sendiri yang menjelaskan ketidaksetujuan kepada keluarga, pernikahan mereka akhirnya benar-benar terjadi, meskipun sederhana dan jauh dari bayangan pernikahan impian Maura.
                Kehidupan pascapernikahan menyedihkan. Ben dan Maura hanya tinggal serumah tapi hati mereka tak bersatu. Ketidaknormalan ini mereka sembunyikan dari semua orang, termasuk keluarga dan sahabat dekat. Hadiah bulan madu yang diberikan Om Reno juga ditampik oleh Ben. Ben bahkan memilih mempersingkat masa cuti dan berdinas ke Bekasi bersama rekan-rekan satu departemennya. Ketika Maura memutuskan menyusul, ia hanya mendapat sambutan kurang menyenangkan. Beruntunglah ada Kelana, manajer hotel tempat menginap sekaligus kawan lama Maura. Suatu hari, berawal dari niat baik, Maura diam-diam membuka file-file dalam laptop Ben dan menemukan foto-foto Ben dengan mantan kekasih (yang terpaksa diputuskannya untuk menikahi Maura) bernama Devina. Kecemburuan Maura juga kesalahpahaman Ben atas beberapa hal memicu pertengkaran yang membuat Maura memutuskan kembali ke Surabaya tanpa menunggu Ben. Obrolan dari hati ke hati dengan sahabatnya Agatha, membuat Maura mencoba cara lain untuk memperbaiki hubungan dengan Ben. Alih-alih berupaya keras dianggap istri dan dipandang sebagai wanita yang layak dicintai, Maura mencoba bersikap sebagai teman. Cara ini ternyata cukup berhasil, meskipun hubungan suami-istri mereka tetap jalan di tempat. Interaksi-interaksi Maura – Ben dan chemistry mereka di masa adaptasi ini manis dan terasa feel-nya. Ada obrolan hangat dengan sepupu Maura, kedekatan Maura dengan Tante Dewi dan nenek dari Ben, acara tur jalan-jalan singkat bersama, memasak, adegan saling mengolok tentang kucing, hingga pesta ulang tahun Ben membuat kisah ini romantis bak kisah romance lain. Sayang, sesudah kisah manis, ada badai menerjang. Ben marah besar ketika Maura tak memberitahunya tentang penampilannya bersama tim belly dance di sebuah acara privat pesta anniversary pernikahan orangtua seorang kawan. Dari sinilah sempat terucap usul perceraian dari Maura yang tersulut emosi dan kekecewaan atas sikap Ben. Akankah kisah mereka berakhir bahagia? Cukupkah usaha gigih Maura untuk menaklukkan hati Ben yang masih terlihat enggan membuka untuknya?



REVIEW:
                Dari sisi karakter, perpaduan dua karakter utama yang bertentangan menjadi pembangun utama novel. Ben: kedua orangtuanya meninggal dan lantas tinggal bersama tante, om, dan neneknya, kurang supel, agak labil, punya masalah dengan tantenya karena asumsi yang salah atas sikap sang tante dan masa lalu kedua orangtuanya. Secara fisik, Ben digambarkan tinggi, cukup rapi meskipun nggak terlampau stylish, sorot matanya datar tapi terkesan tajam, dengan warna iris sekelam batu obsidian, rambut hitam agak ikal dan mulai memanjang—yang kadang kala sebagian belakangnya diikat tinggi sehingga terkesan seksi bagi Maura. Maura: cerdas, mandiri, tergolong supel dan penyayang keluarga, dewasa, tegas, pintar memasak, penyayang kucing, selain karyawan kantoran juga menjadi instruktur belly dance di sebuah gym. Dilihat dari fisik, Maura digambarkan cantik, berpostur bagus, berambut panjang keriting yang acapkali dibiarkan tergerai. Juga ada tokoh-tokoh lain yang turut memberi andil bagi jalan cerita. Ada Agatha sahabat baik dan rekan kerja Maura yang selalu bersikap mendukung. Juga Tante Dewi yang keibuan, Om Reno yang meski kurang tereksplor tapi menampilkan sosok om yang baik, Nenek yang suka bandel dalam hal menjaga pola makan. Bayu yang sikapnya misterius dan terkesan tak bersahabat terhadap Maura, Riri teman akrab Ben yang juga tak bersahabat terhadap Maura tapi kurang dijelaskan alasannya, Devina sang mantan kekasih Ben yang walaupun kemunculannya hanya sebentar tapi cukup menentukan jalan cerita, Kelana yang asyik, dan tokoh-tokoh pendukung lain. Saya suka dan cukup puas dengan deskripsi penulis atas semua tokoh, plus poin penyebutan kemiripan beberapa tokoh dengan tokoh-tokoh dalam film terkenal. Misalnya Maura yang disebutkan berambut mirip tokoh utama film kartun “Brave” dan salah satu ciri fisik Nenek yang dikatakan mengingatkan Maura akan tokoh Mags dari film “The Hunger Games: Catching Fire”, membuat saya lebih mudah membayangkan.
Setting utama kota Surabaya bernilai plus di mata saya karena sebagian besar kisah romance kontemporer mengambil setting Jakarta. Pendeskripsian kota lewat acara tur ala Maura – Ben juga cukup brilian, selain penulis juga teliti dalam mendeskripsikan perkiraan waktu selama tur hingga terkesan masuk akal. Alurnya cepat, plot dengan konflik yang meskipun tergolong ‘biasa’ dan nggak ‘deramah’ tapi tetap membuat saya betah menikmati hingga akhir cerita. Ending pun memuaskan dan logis. Kover dengan warna cantik yang ‘fotogenik’, mengambil konsep yang menurut saya minimalis tapi mengena dengan tema cerita. Penulis pun rapi dan teliti, jarang sekali saya temukan typo. Gaya bercerita ringan, nggak ada sebutan ‘gue – lo’ walaupun setting di kota besar. POV orang pertama: aku dari sisi Maura pun tepat menurut saya, sehingga pembaca ikut merasakan penasaran dengan ‘kondisi hati’ Ben, apa yang dipikirkannya tentang Maura, sekaligus ikut merasakan roller coaster mood Maura. Kita juga akan dimanjakan dengan kutipan-kutipan cinta yang ciamik dan menyentuh di tiap awal bab.
Hal yang menjadi catatan saya antara lain ketiadaan cerita keluarga Maura. Hanya sempat disebutkan Teo sang adik lelaki Maura secara sekilas (dan saya bertanya-tanya apakah ini Teo yang sama dengan yang ada dalam judul lain seri Dark Love Grasindo?). Apakah mungkin penggambaran latar belakang keluarga Maura dianggap kurang terkait dengan konflik utama cerita? Juga sikap misterius dan kurang bersahabat dari Bayu dan Riri terhadap Maura. Nggak ada penjelasan pasti sehingga saya berakhir menduga-duga sendiri.
Secara keseluruhan novel ini page turner dan ditulis dengan baik. Sebagai pengalaman pertama menikmati karya Daisy Ann, saya merasa puas. Bahkan kemudian bertanya-tanya, apakah dua judul lain dari seri romance ini juga sebagus ini? Bisa jadi seri lengkap Dark Love memang layak dikoleksi oleh para pencinta romance.



“Bagian paling menyedihkan dari cinta adalah dua orang yang saling mencinta tak menjamin keduanya berakhir bersama selamanya. Dan tak selamanya dua orang yang berakhir bersama, berarti keduanya saling mencinta.” (hal. 28)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube