Senin, 10 Juli 2017

[RESENSI] I Want To Eat Your Pancreas: Hidup Adalah Pilihan

Posted by Melani Ika Savitri | 10:50:00 AM Categories:

Judul             : I Want To Eat Your Pancreas
Judul Asli      : Kimi no Suizo wo Tabetai
Penulis          : Sumino Yoru
Penerjemah   : Khairun Nisak
Pemeriksa Bahasa: Andry Setiawan
Penerbit        : Haru Media
Cetakan        : Pertama, Maret 2017
Tebal             : 308 lm ; 19 cm

BLURB:
    Aku menemukan sebuah buku di rumah sakit. Judulnya Cerita Teman si Sakit. Pemiliknya adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku. Dari sana aku tahu dia menderita penyakit pankreas. Buku itu adalah buku harian rahasia miliknya.
    Namun gadis itu tidak seperti orang sakit. Dia seenaknya sendiri, dia mempermainkan perasaanku, dia suka menggodaku. Dan dia... mungkin dia mulai menarik hatiku.

SINOPSIS:
    “Dokter hanya bisa berkata jujur tentang penyakitku. Sementara keluargaku memberikan reaksi yang berlebihan terhadap setiap ucapanku, dan terlalu berusaha mengembalikan kehidupan normalku. Teman-temanku pun pasti juga akan bertingkah seperti keluargaku bila mengetahui rahasiaku. Hanya kau yang bisa bersikap biasa saat bersamaku, meski kau sudah tahu rahasiaku.” (hal. 75)
    Kisah dimulai di masa kini dengan sudut pandang si ‘aku’ yang memikirkan tentang pemakaman teman sekelasnya Yamauchi Sakura. Kemudian kisah bergulir ke masa lampau ketika si ‘aku’ bertemu Sakura—atau si gadis sakit—di rumah sakit. Meskipun si ‘aku’ dan si gadis sakit adalah teman sekelas di SMA, namun baru kali itulah mereka benar-benar berbicara, setelah si ‘aku’ menemukan buku harian rahasia Cerita Teman si Sakit milik si gadis sakit. Aku adalah seorang pemuda murid SMA di sebuah kota di Jepang. Si pemuda terkenal sebagai sosok pendiam, penyendiri, dan tidak pernah punya teman. Dia bahkan tak hapal nama-nama teman sekelasnya. Sedangkan si gadis sakit adalah kebalikannya. Seorang siswi populer yang ceria, bersemangat, punya banyak teman dan seorang pacar. Usai kejadian di rumah sakit itu, si gadis sakit mulai bertingkah menyebalkan di mata si pemuda. Dia suka membuat janji temu seenaknya, ikut menjadi tenaga pustakawan sekolah, mengajak jalan-jalan, dan menyapa di kelas tanpa peduli tatapan keheranan teman-teman mereka. Akibatnya, si pemuda justru makin dibenci dan dijuluki penguntit karena suka ‘menempel’ pada si gadis sakit yang populer. Tapi si pemuda tak terlalu ambil pusing karena selama ini toh tidak pernah peduli anggapan orang lain tentangnya. Namun, ketika barang-barang miliknya satu per satu raib disembunyikan seseorang di sekolah, si pemuda mulai kebingungan. Apa lagi ketika seorang teman lelaki jelas marah dan memukulnya dalam perjalanan pulang. Namun, si pemuda lebih khawatir dengan kondisi si gadis sakit. Dia kembali dirawat di rumah sakit selama liburan musim panas. Si pemuda rajin berkunjung—meski selalu berdalih karena terpaksa dan diminta si gadis sakit—dan mereka menghabiskan waktu dengan gembira. Si pemuda yang sempat khawatir bahwa usia temannya itu makin singkat karena sakit, menjadi lega. Kyoko-san sahabat baik si gadis sakit tak pernah suka sahabatnya itu dekat dengan si pemuda, namun dia tak bisa melarang. Dia juga tak tahu kebenaran tentang penyakit sahabatnya. Hingga suatu hari ketika si pemuda menunggu di sebuah kafe untuk bertemu si gadis sakit, gadis itu tak pernah datang. Dan saat itulah penyesalan dan kesedihan itu terungkap. Apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat si gadis sakit tak datang? Benarkan dia pada akhirnya meninggal karena penyakitnya?


   
REVIEW:
    “Nilai satu hari bagi setiap orang itu sama.” (hal. 15)
    “Mumpung masih hidup, jadi harus jatuh cinta.” (hal. 78)
    “Nama bunga yang memilih musim semi untuk mekar, menurutku pas sekali dengan namamu, yang selalu berpikir bahwa pertemuan dan kejadian bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pilihan.” (hal. 207)
    “Pasti tentang saling memahami perasaan dengan seseorang. Itulah yang disebut kehidupan.” (hal. 213)
    Ini bisa dibilang kali pertama saya membaca J-lit untuk genre remaja. Dari sisi terjemahan, memang terasa sekali kekhasan J-lit, mengingatkan saya akan dorama (termasuk yang disulihsuarakan oleh stasiun televisi nasional hehe... ). Cukup bingung dan harus membaca ulang karena dialog seringkali tidak disertai keterangan siapa yang mengucapkan dan langsung berpindah orang, tapi bagi saya itu tidak masalah.
    Alur dari awal hingga pertengahan memang cukup lambat dan minim konflik (flat) sehingga agak membosankan. Namun yang menghibur saya adalah perbedaan karakter dua tokoh utama. Satu introvert dan yang satunya ekstrovert. Si pemuda ini sangat menggemaskan karena bisa dibilang pasif dan nyaris tak pernah bisa menolak permintaan si gadis sakit. Lelucon yang dia lontarkan juga ‘garing’ apalagi diambil dari perumpamaan, pepatah, atau majas Jepang, walaupun ada catatan kaki. Si pemuda—entah mengapa—mengingatkan saya akan tokoh Don Tillman dari novel The Rosie Project. Ibaratnya dia ini sosok Don remaja (lol). Dari sisi penyendiri, pemikir dan pengamat, rutinitas yang monoton dan cenderung disiplin, dan suka menghindari konfrontasi (pleghmatis abis hahaha... ). Satu hal yang saya suka adalah hobinya membaca buku saku (mungkin maksudnya paperback books, ya), terutama novel. Walaupun pada akhirnya karena tidak diimbangi pergaulan yang ‘normal’, si pemuda ini kerap gagap berkomunikasi dan kemampuan sosialnya rendah (lol). Di lain pihak, si gadis sakit seseorang yang mudah sekali tertawa, bercanda (yang kadang kelewatan), suka baca komik, dan selalu dikelilingi teman. Proses perubahan mereka dari awal pertemuan hingga akhir kisah, bagaimana mereka saling memahami, itulah yang menjadi fokus cerita dan membuat saya betah menikmati. Di jelang bagian akhir saya sampai meneteskan air mata, terharu dengan isi buku harian dan bagaimana si gadis sakit meninggalkan ‘surat wasiat’ untuk keluarga, Kyoko-san, dan si pemuda.
    Penulis juga menyuguhkan twist, yang meskipun telah ada petunjuk jelas sejak pertengahan cerita tetap membuat tebakan saya meleset. Nama pemuda yang selama kisah tak pernah disebut pun (selalu dipanggil teman sekelas yang pendiam-kun, teman sekelas yang tahu rahasiaku-kun, dan semacam ini) pada bagian akhir diungkap, sesuai petunjuk juga di awal dan alasan mengapa namanya tak pernah disebut. Kisah ini mengingatkan kita tentang kematian yang bersifat pasti, kapan pun bisa menjemput tanpa memandang orang, juga bahwa sebagai manusia kita selalu membutuhkan orang lain dan ingin merasa dibutuhkan. Novel remaja yang tak sekadar menghibur tapi sarat pesan kehidupan.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube