Minggu, 16 Juli 2017






Judul        : Tentang Kamu
Penulis    : Tere Liye
Editor      : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : keenam, Januari 2017
Tebal     : vi + 524 hal.; 13.5 x 20.5 cm

BLURB:
  
 Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.
    Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.
    Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti air sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

SINOPSIS:
 
  “Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat, sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.” (hal. 48)

    “Terima kasih atas pelajaran tentang keteguhan. Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.” (hal. 210)

    “Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian.” (hal. 286)

    “Bagaimana agar kita bisa berdamai dengan begitu banyak kejadian menyakitkan? Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar Sri bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Sri sekarang tahu jawabannya. Yaitu justru dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan pernah dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah.” (hal. 457)

    Zaman Zulkarnaen, pria Indonesia 30 tahun, adalah seorang junior associate di firma hukum Thompson & Co. selama setahun terakhir. Setelah menerima tawaran magang selama dua tahun di firma hukum itu, kini Zaman bertugas membantu seorang senior lawyer bernama Eric Morning menangani berbagai kasus. Thompson & Co. hanya memiliki satu senior partner, yaitu Sir Thompson Jr. Ayahnya adalah pendiri firma hukum tersebut sekaligus seorang pahlawan perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris di masa Perang Dunia I. Tujuan awal didirikannya Thompson & Co. adalah untuk menegakkan keadilan terutama dalam pembagian hak waris, yang mana pasca perang dunia menjadi kacau akibat banyaknya ahli waris yang tewas maupun harta yang tak jelas pewarisnya. Di masa sekarang, firma hukum ini masih memegang teguh prinsip awal, memerangi para heir hunters, dan menegakkan elder law dalam hukum waris. Tak banyak publikasi yang menyoroti Thompson & Co. karena mereka memang tak mengutamakan publikasi, namun reputasi mereka tak diragukan lagi oleh firma-firma hukum lain dan banyak pihak.

    Suatu hari, Sir Thompson secara pribadi menghadiri rapat dengan ‘situasi khusus’ di mana Zaman diundang. Di luar kebiasaan, Zaman diamanahi menyelesaikan sebuah kasus settlement  hak waris secara mandiri, bukan di bawah kepemimpinan Eric seperti biasanya. Dan sebagai kejutan lain, klien mereka kali ini adalah seorang perempuan Indonesia bernama Sri Ningsih, yang belum lama ini meninggal di sebuah panti jompo di Paris. Sri Ningsih meninggalkan warisan senilai 19 triliun rupiah. Yang menjadi obyek utama penyelidikan Zaman adalah keberadaan pewaris yang sah dan ada atau tidaknya surat wasiat.

    Berbekal informasi alamat panti jompo di mana Sri Ningsih tinggal dan mengembuskan napas terakhir, Zaman mulai menelusuri rekam jejak kehidupan Sri Ningsih. Setelah berkenalan dengan penghuni panti dan seorang pengurus bernama Aimee, Zaman mendapatkan sebuah buku catatan tipis yang berisi beberapa foto lama dan catatan singkat lima babak kehidupan Sri yang diberi judul juz pertama hingga kelima. Sampailah kemudian Zaman di Pulau Bungin di bagian timur Indonesia yang dijuluki salah satu pulau terpadat penduduknya di dunia, tempat di mana Sri Ningsih dilahirkan dan kemungkinan menghabiskan masa kecil, sesuai salah satu foto. Ketika Zaman nyaris menyerah, muncullah seorang saksi mata yang mengenal Sri Ningsih kecil dulu. Ode atau yang biasa disapa Pak Tua pun kemudian menceritakan silsilah keluarga Sri Ningsih, tak ketinggalan masa kecil yang membuatnya iba pada Sri. Tentang Sri yang piatu sepeninggal sang ibu, Rahayu, sesaat setelah melahirkannya. Juga kepedihan ditinggalkan selamanya oleh sang ayah Nugroho, lantas dijuluki ‘anak yang dikutuk’ oleh sang ibu tiri Nusi Maratta sekaligus mengalami kekerasan domestik. Usai penuturan, Zaman menemukan petunjuk baru di pedalaman Surakarta, di sebuah madrasah di mana Sri dan Tilamuta sang adik seayah terakhir diketahui keberadaannya oleh Pak Tua.

 Di madrasah Kiai Ma’shum, Zaman kembali mengurai kisah hidup masa remaja hingga dewasa Sri. Di episode hidup ini Sri sempat mencicipi kebahagiaan dan kehidupan madrasah yang damai. Juga kedekatannya dengan keluarga Kiai, termasuk putri bungsunya Nur’aini dan seorang guru muda bernama Sulastri. Sayangnya, sebuah tragedi pengkhianatan memporakporandakan kebahagiaan mereka. Sri pun lantas merantau ke Jakarta, bertekad memulai kehidupan baru. Di Jakarta, Zaman sempat kewalahan mencari jejak, hingga bertemu dengan Chaterine, yang pernah menjadi orang kepercayaan Sri. Diketahui pula dari mana asal muasal kepemilikan aset triliunan rupiah milik Sri. Sayangnya, jejak kembali hilang ketika Sri mendadak pergi ke London tanpa alasan jelas. Di London, sekali lagi, berbekal petunjuk sebuah foto lama, Zaman berhasil menjumpai seorang sahabat lama Sri, Lucy. Sri ternyata pernah sangat lama berprofesi sebagai sopir bus merah bertingkat. Alamat tinggal Sri di kawasan Little India lalu mempertemukan Zaman dengan keluarga Rajendra Khan—penjual roti isi langganan Zaman—yang tak dinyana pernah menjadi induk semang sekaligus keluarga angkat Sri.

Episode hidup Sri di London nyatanya menyimpan sebuah kisah cinta sederhana yang indah. Sri Ningsih sempat menikah selama 13 tahun dengan seorang pria Turki bernama Hakan Karim dan dikaruniai dua anak. Sayangnya, harapan Zaman bahwa pada akhirnya dia menemukan pewaris sah pupus. Semua keluarga Sri tersebut telah meninggal. Dan sekali lagi, Sri menghilang tanpa alasan jelas. Belum selesai kebingungan Zaman, kantornya mendapatkan permintaan rapat dari sebuah firma hukum bergengsi, A & Z Law, yang mengklaim mewakili seorang ahli waris sah dari Sri Ningsih. Disusul kemunculan dua wanita berwajah Indonesia: Ningrum dan Murni, yang mengaku sebagai mertua dan istri Tilamuta. Zaman yang curiga dengan klaim ini, tak lantas percaya begitu saja. Dia mengotot menyelesaikan penyelidikan hingga menemukan surat wasiat. Beruntunglah, teka-teki keberadaan surat wasiat tersebut akhirnya terungkap, disusul terungkapnya kedok Ningrum dan Murni. Zaman juga menyelesaikan masalah keluarga besarnya sendiri, prahara yang juga terkait warisan, dan menemukan jodohnya.


[Bersambung ke Bag. 2]


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube