Minggu, 16 Juli 2017


REVIEW:
   
“Bahkan hingga hari ini, di masa modern, kita masih tidak peduli dengan kekerasan yang dialami anak-anak di rumah. Menganggap itu urusan keluarga masing-masing, hal yang lumrah... Kekerasan yang mereka peroleh justru dari orang yang seharusnya menyayangi dan melindungi.” (hal. 110)

“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya.” (hal. 257)

“Dulu, penyebab terbesar menumpuknya harta warisan tanpa pewaris adalah perang dunia. Hari ini, bukan lagi... Apa yang sebenarnya terjadi? Kehidupan modern, itulah penyebabnya.” (hal. 440)
“Kehidupan modern yang individualis membawa aspek negatif dalam hubungan keluarga. Menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dibanding peperangan.”
(hal. 441)

sumber: kotaku.pu.go.id

    Ide tentang firma hukum dengan jajaran pengacara yang berkarakter ibarat ksatria, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran digabungkan dengan masalah hak waris, sangat menarik di sini. Tak hanya itu, agar jauh lebih menarik dan membuat pembaca betah mengikuti kisah, Tere Liye memasukkan unsur petualangan lewat penelusuran jejak kehidupan sang tokoh utama—yang uniknya lagi sudah meninggal sejak awal cerita. Maka, di novel ini saya diajak berpindah-pindah setting, dari pelosok Indonesia hingga daratan Eropa. Dan walaupun ketebalan novel ini bisa membuat pembaca khawatir dihinggapi kebosanan, saya bisa menjamin itu tidak terjadi. Selain kota London dan Paris yang indah, Pulau Bungin adalah salah satu lokasi dalam novel yang menarik perhatian saya. Tak hanya letaknya yang cukup terpencil, pemukiman nelayan yang padat dengan rumah-rumah panggung yang rapat, penduduk yang ramah, dan kambing-kambing yang makan kertas turut mengundang rasa ingin tahu. Pemilihan Pulau Bungin sebagai tanah kelahiran Sri Ningsih juga sangat tepat, logis dengan jalinan cerita.


letak pulau Bungin-sumber: Baranews,co

 

pulau Bungin-sumber: hipwee.com
Isu-isu sosial antara lain kekerasan domestik, perebutan harta gono-gini, tingkat perceraian yang makin tinggi, pendidikan anak kurang mampu, terasingnya para lansia dari sanak keluarga, sulitnya kesempatan mendapatkan suntikan dana bagi pengusaha kecil, hingga gelombang pengungsi di seluruh dunia disinggung di sini. Tere Liye juga menyisipkan di sana-sini rentetan peristiwa bersejarah yang terjadi dari kisaran tahun 1940-an hingga 2000-an. Sangat menarik untuk dicermati, tanpa sadar sembari saya asyik mengikuti petualangan Zaman Zulkarnaen. Riset yang matang, alur runut, dan plot yang logis jelas mendukung kesuksesan ini. Pun keberadaan tokoh-tokoh pendukung seperti La Golo si  guide, Pak Tua, Nur’aini, Sueb si pengemudi ojek daring, Rajendra Khan dan keluarganya, dan Aimee sangat menyokong penyajian berbagai topik di atas. Tak luput juga disajikan kisah cinta nan romantis namun bersahaja dari pasangan Sri Ningsih dan Hakan Karim. Pesan tentang ketulusan dan kesungguhan dalam mencintai, kekuatan dalam menghadapi ujian bersama, serta penerimaan akan takdir. Ah, sungguh indah dan menyentuh. Berbeda dengan kisah-kisah cinta novel romance pada umumnya yang mengandalkan adegan-adegan ala film romantis yang bisa jadi jauh dari kenyataan sehari-hari.

    Mengenai karakter, ada banyak karakter tokoh yang mampu mengaduk-aduk emosi saya. Dari yang naif sekaligus lucu, seperti La Golo dan Sueb. Juga Rajendra Khan yang khas dengan guyonannya yang tak kenal waktu, tempat, dan obyek. Ada sosok tetangga yang perhatian seperti keluarga kepala kampung di Pulau Bungin dan keluarga Rajendra Khan dengan adat India mereka yang selalu ‘heboh’. Ada sosok sahabat yang tulus dan dapat dipercaya diwakilkan oleh Nur’aini, Lucy, Franciszek, Chaterine, dan Aimee. Juga guru yang menanamkan kecintaan ilmu dari sosok Tuan Guru Bajang dan Kiai-Nyai Ma’shum. Sosok Eric dan Sir Thompson yang menggambarkan pengacara jujur (yang jelas telah langka di zaman modern ini).

    Dan tentu saja, keempat tokoh protagonis dan antagonis utamanya. Sosok Sulastri, bersama Musoh yang mengalami ‘perkembangan’ karakter—yang sayangnya—ke arah keburukan. Sulastri menjadi penggambaran sempurna sosok wanita yang kodratnya lemah, namun bisa menjadi bengis sebab memendam kebencian seumur hidupnya akibat termakan sebuah kebohongan. Sosok Hakan Karim—yang meskipun tak menjadi sorotan utama—jelas memiliki peran krusial dalam kehidupan Sri Ningsih. Sosok pria sederhana yang berhati besar, yang dalam kamus cintanya hanya ada memberi, memberi, dan memberi. Juga sang ‘ksatria’ kita, Zaman Zulkarnen, mewakili pemuda anak bangsa yang sukses di negeri orang lewat prestasi akademis dan prinsip kejujuran yang tak luput dari bekal pengasuhan yang baik dari sang ibu. Zaman ini sedikit mengingatkan saya akan tokoh Bujang dalam novel Tere Liye sebelumnya, “Pulang”. Tak hanya cerdas, loyal, juga jago beladiri. Terakhir, tentu saja sang tokoh utama kita, Sri Ningsih. Dia tak pernah percaya diri jika terkait penampilan fisik, karena merasa kulitnya gelap, posturnya pendek gempal, dan wajahnya tidak cantik. Namun, dia selalu percaya diri jika menyangkut meraih impian, mempelajari hal-hal baru, merumuskan visi misi bisnis, dan memulai sebuah usaha. Sri Ningsih juga mewakili sosok wanita kuat, tegar menghadapi ujian hidup yang sekaligus menggemblengnya menjadi sosok yang matang dalam kehidupan. Dia cerdas, tulus, tak suka menyimpan dendam. Sungguh sosok wanita idaman berhati emas. “Tentang Kamu” cocok dibaca pria-wanita dan sarat akan nilai moral kehidupan.
   
   

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube