Kamis, 13 Juli 2017

[RESENSI] Then & Now: Cinta Pada Pandangan Pertama Atau Cinta Yang Telah Ditakdirkan?

Posted by Melani Ika Savitri | 10:00:00 AM Categories:

Judul      : Then & Now – Dulu & Sekarang
Penulis   : Arleen A
Editor     : Dini Novita Sari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : pertama, 2017
Tebal      : 344 hlm.; 20 cm


BLURB:

    Ini kisah cinta biasa; tentang dua pasang kekasih yang harus berjuang demi cinta. Namun, bukankah tidak pernah ada kisah cinta yang biasa?

Ruita
    Gadis dari suku telinga pendek. Ia tidak menyukai suku telinga panjang, apalagi kalau harus bekerja pada mereka. Tapi lalu ia melihat mata itu, mata seorang lelaki suku telinga panjang yang sorotnya seolah dapat melihat kedalaman hati Ruita.

Atamu
    Ia tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada gadis dari suku lain yang lebih rendah derajatnya. Tapi apalah arti kekuatan lelaki berusia enam belas musim panas bila dihadapkan pada takdir yang lama tertulis sebelum dunia diciptakan?

Rosetta
    Ia punya segalanya, termasuk kekasih yang sempurna. Tapi ketika dilamar, ia menolak tanpa tahu alasannya. Ia hanya tahu hatinya menantikan orang lain, seseorang yang belum dikenalnya.

Andrew
    Ia hanya punya enam bulan untuk mencari calon istri, tapi ia tidak tahu dari mana harus memulai sampai ia melihat seorang gadis berambut merah. Dan begitu saja, ia tahu ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan gadis itu.


SINOPSIS:

    “Saat itulah aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang tak akan kulihat jika aku tidak sengaja menumpahkan kuah dan dihukum menyapu kandang ayam.” (Ruita, hal. 26)
    “Ketika pintu lift terbuka, mata itu yang pertama kulihat. Sepasang mata oriental. Aku bahkan tidak melihat wajah tempat mata itu terletak. Dan dalam sekejap, dunia seolah hilang tanpa jejak.” {Rosetta, hal. 192)

    Ini kisah cinta dua pasangan yang berbeda zaman. Novel lantas dibagi menjadi dua masa, dulu dan sekarang. Di masa dulu, ada dua suku yang mendiami sebuah pulau terpencil yang dikelilingi lautan, Pulau Rana Pui. Suku Momoki atau suku telinga pendek yang kastanya rendah dan merupakan suku pekerja, dan suku Eepe atau suku telinga panjang yang berkasta lebih tinggi dan menjadi tuan tanah sekaligus majikan suku Momoki. Kehidupan di masa ini masih primitif dengan segala adat, aturan, dan ritme hidup yang cenderung monoton. Ruita, anak gadis suku Momoki digambarkan memiliki karakter kritis dan sering berpikir tidak suka dengan suku Eepe, apalagi jika harus bekerja melayani mereka, seperti yang dilakukan hampir semua wanita sukunya. Namun, takdir berkata lain. Ketika wanita tetangga sekaligus kawan baik ibunya mengalami cedera saat bekerja, Ruita diperintahkan sang ibu menggantikannya. Dengan enggan dan kemudian sengaja melakukan kecerobohan, Ruita justru melihat sepasang mata milik anak majikan yang awalnya mencuri lihat padanya. Pertemuan tak disengaja di pasar di kemudian hari, saling sapa, akhirnya menimbulkan ketertarikan nyata sekaligus kedekatan Ruita dan sang anak majikan yang bernama Atamu. Mereka lantas selalu memiliki janji temu diam-diam di sebuah sudut pantai tersembunyi. Masalah timbul ketika Vai melamar Ruita. Vai yang juga merupakan teman kakak Ruita itu memang sudah lama mencintai Ruita. Adat dan persetujuan orangtua membuat Ruita tak mampu menolak. Rencana pemberontakan para pria suku Momoki atas suku Eepe juga memperkeruh suasana. Beralasan kebebasan dan tak sudi diperbudak, rencana ini bulat akan dijalankan. Tatkala Vai memergoki hubungan rahasia Atamu dan Ruita, ia pun marah dan bertekad mempergunakan kesempatan pemberontakan untuk membalaskan sakit hati. Di sinilah akhirnya kisah Ruita, Atamu, dan Vai menemukan jalan takdirnya.

    Sedangkan di masa sekarang, kisah menyoroti sosok putri konglomerat pemilik kerajaan bisnis Hotel Grimson, Rosetta. Hidupnya nyaris sempurna, dengan orangtua penyayang, kakak laki-laki yang dapat diandalkan, seorang sahabat baik, dan tunangan kaya raya yang memenuhi syarat sebagai calon suami sempurna. Namun Rosetta menolak lamaran tunangannya, Henry. Dia merasa ada lubang di hatinya yang entah harus diisi apa/siapa dan dia tak merasa cukup mencintai Henry hingga bersedia menjadi istri. Diane sahabatnya saja sampai menganggap Rosetta aneh. Di lain pihak ada Andrew, cucu sekaligus pewaris tunggal perusahaan ritel raksasa, Village Way. Andrew yang yatim piatu sangat diharapkan sang kakek mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kesuksesan perusahaan keluarga yang telah dirintis susah payah dari nol. Namun sayang, Andrew yang cerdas tapi introvert itu gagal menunjukkan kepiawaian melobi, memperluas relasi dan koneksi. Andrew cenderung lebih suka mengurung diri di luar bekerja, nyaris tak punya teman, dan lebih suka bermain piano warisan mendiang sang ibu. Oleh sebab itu, Jacob Lee sang kakek terpaksa ‘mengusir’ Andrew dari penthouse, menyita piano kesayangannya, dan mengultimatum Andrew untuk menunjukkan bahwa dia tetap bisa mandiri tanpa bantuan sang kakek, sekaligus dalam waktu enam bulan mengenalkan seorang calon istri. Richard, sahabat Andrew pun ikut pusing, meskipun dia tak keberatan menampung Andrew sementara waktu di apartemennya. Hingga suatu hari, saat mencari lowongan pekerjaan, Andrew melihat sosok Rosetta dengan rambut merahnya. Tanpa sadar dia mengikuti hingga masuk ke Hotel Grimson. Dari sinilah keberuntungan Andrew dimulai. Dia diterima bekerja sebagai concierge (atau bellboy) di hotel milik keluarga Rosetta dan berkesempatan bertemu bahkan nekat berkenalan dengan Rosetta. Hubungan Andrew-Rosetta sempat mengalami naik-turun dan putus-nyambung. Kehadiran Henry yang masih tak rela lamarannya ditolak, menjadi salah satu penyebab. Rahasia Andrew terkait latar belakang keluarga yang dia sembunyikan dari Rosetta pun menjadi penyebab lain keretakan. Andrew harus memperjuangkan cintanya jika ingin bahagia bersama Rosetta.




REVIEW:

    “Aku memang tidak takut jika harus mati berdua di tengah lautan dengan Atamu. Malah jika disuruh memilih di antara hidup tanpa dirinya atau mati di dalam pelukannya, aku akan memilih yang kedua.” (hal. 105)

    “Bagaimana jika aku sudah pulang? Bagaimana jika ini adalah rumahku sekarang?” tanyanya. Dan dua kalimat itu menghantamku seperti bola bowling menghantam berantakan sepuluh pin sekaligus. Apakah yang terjadi sebenarnya bukan aku yang memberinya pelajaran tapi dia yang telah memberiku pelajaran?” (hal. 321)

    “Mengapa matanya yang kulihat di antara jutaan mata yang lain? Apakah mungkin itu memang sudah diatur dari sananya?” (hal. 334)

     Kisah yang menggunakan POV orang pertama ‘aku’ secara bergantian ini mengasyikkan karena saya bisa merasakan langsung dan tahu persis apa yang dipikirkan oleh para tokohnya. Bisa diketahui ‘aku’ yang sedang berkisah lewat judul di tiap bab dengan nama tokoh. Karakter-karakternya pun menarik. Saya pribadi lebih menyukai karakter para tokoh utama di masa sekarang. Mereka lebih dinamis, begitu juga kehidupan yang dijalani. Ada lebih banyak kejutan, adegan romantis, dan konflik yang lebih kompleks.

    Saya suka perkembangan karakter Andrew yang awalnya tertutup perlahan lebih membuka diri, lebih mampu bersosialisasi, lebih berani mengambil peluang sekaligus memperjuangkan cinta. Juga kesetiawakawanan Richard dan Diane sebagai sahabat. Tema cinta yang ditentang karena perbedaan status sosial tidak akan dijumpai di masa Andrew dan Rosetta, meskipun Andrew sempat tak mengungkap identitas aslinya. Berbeda dengan masa Ruita dan Atamu yang diwarnai perbedaan mencolok status sosial dan plotnya pun terkesan agak flat dengan gereget perjuangan cinta yang nyaris tak terlihat. Mereka seakan ‘dipaksa’ menyerah pada takdir.

   Dari segi tema, kisah ini telah dikatakan dalam blurb merupakan kisah cinta biasa, sehingga pembaca tidak diharapkan mendapatkan tema unik atau antimainstream. Juga ide cinta pada pandangan pertama tentu terdengar ‘klise’ atau bahkan bagi sebagian orang ‘absurd’. Namun, sebagai penulis yang telah memiliki ‘jam terbang’ tinggi, Kak Arleen mampu menyulap kisah cinta biasa itu menjadi istimewa. Dengan konsep dua periode waktu berbeda, menggunakan ungkapan, “Cinta tidak mengenal apa pun. Tidak tempat, tidak juga waktu”, juga setting Rana Pui dan Amerika Serikat, deskripsi yang tepat sasaran tetap menarik bagi saya. Bumbu keluarga terutama dari kisah keluarga Jacob dan Andrew Lee juga saya sukai. Di sini saya dapatkan pesan bahwa orangtua selalu menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya walaupun tak jarang cara mereka dianggap salah atau tak menyenangkan. Kak Arleen juga tak melupakan detail-detail kecil sebagai pemanis sekaligus poin plus yang meninggalkan kesan tak terlupakan, seperti kejutan-kejutan yang diberikan Andrew untuk Rosetta lewat memo, janji temu rahasia, dan adat pertunangan dengan kalung berliontin batu diukir khusus di masa suku Momoki. Plus bab epilog yang mengundang tanda tanya tentang turut campur takdir dalam kisah cinta. Inikah yang dinamakan 'jodoh'? Novel ringan yang manis berkover unik ini layak menjadi teman baca di waktu senggang kalian.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube